Kenapa Kuliner di Solo Beragam?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah bumbu makanan Jenang suro, sajian hidangan untuk kirab malam satu sura di Istana Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sejumlah bumbu makanan Jenang suro, sajian hidangan untuk kirab malam satu sura di Istana Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kota Surakarta, atau yang masyarakat kenal dengan Kota Solo, kerap dijuluki sebagai surganya kuliner. Masyarakat bisa menikmati beragam jenis masakan dan minuman buatan asli orang Solo yang bercita rasa tinggi dan mengenyangkan.

    Tentu, julukan ini tak muncul begitu saja. Menurut pemerhati budaya dari Keraton Kasunanan Surakarta, GPH Dipokusumo, kekayaan ragam kuliner Solo muncul karena kesuburan tanah yang membuat hasil bumi melimpah.

    Sebagai pusat kerajaan, semua hasil bumi masuk ke Solo untuk diperniagakan. "Kondisi ini membuat masyarakat selalu mencoba membuat kreasi makanan baru," kata GPH Dipokusumo.

    Ia bercerita, masyarakat mulai mengenalkan ragam kuliner Solo bahkan sebelum industri gula tebu berkembang di sana. Saat perpindahan keraton dari Kartasura menuju Solo tahun 1745, 17 macam jenang diarak dalam kegiatan boyong kedhaton. Saat itu, mereka mengandalkan gula kelapa untuk pemanis makanan.

    Kemudian, setelah bisnis perkebunan gula tebu dan kopi berkembang di Hindia Belanda pada 1830, kelas priyayi bangsawan Kota Bengawan ini semakin mengembangkan hobi kulinernya untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.

    Edisi: #KULINER

    TIM TEMPO

    Berita terkait:
    Makan Dilarang Jaim
    Edisi Khusus Kuliner: Kisah Rasa, Cerita Bangsa
    Jejak Genetik Kopi Kalosi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.