Inilah 5 Negara yang Cepat Bangkit Usai Wabah Virus Corona

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memegang lilin di balkon mereka di tengah lockdown akibat virus Corona di Mumbai, India, 5 April 2020. Perdana Menteri India Narendra Modi mengimbau warga untuk mematikan lampu selama 9 menit pada pukul 9 malam dan menyalakan lilin. REUTERS/Francis Mascarenhas

    Warga memegang lilin di balkon mereka di tengah lockdown akibat virus Corona di Mumbai, India, 5 April 2020. Perdana Menteri India Narendra Modi mengimbau warga untuk mematikan lampu selama 9 menit pada pukul 9 malam dan menyalakan lilin. REUTERS/Francis Mascarenhas

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 telah menyuntikkan sejumlah ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam ekonomi global. Selain efek penyakit yang ditimbulkan virus corona, persoalan lainnya adalah masalah sosial dan ekonomi. Penerapan jarak fisik dan lesunya ekonomi, menurut BBC, membuat negara mengintervensi fiskal untuk menstabilkan pasar.

    Jadi, ada dua krisis sekaligus yang dihadapi: pertama, krisis kesehatan dan kedunya pentingnya menjaga stabilitas ekonomi. Hal itu, membuat para ahli mulai menilai proses pemulihan negara-negara yang terkena wabah.

    Pada 2019, perusahaan asuransi FM Global melansir Indeks Ketahanan Global 2019. Indeks tersebut memeringkat ketahanan bisnis 130 negara, berdasarkan faktor-faktor seperti stabilitas politik, tata kelola perusahaan, risiko lingkungan, logistik rantai pasokan, dan transparansi. Berbekal indeks tersebut, BBC mendiskusikannya dengan beberapa pakar, untuk mengetahui negara yang cepat pulih usai wabah. Berikut hasilnya.

    Denmark

    Denmark merupakan negara peringkat kedua dalam Indeks Ketahanan Global 2019. Negeri itu, memiliki rantai pasokan yang kuat dan korupsi yang rendah. Negara ini juga bergerak cepat ketika virus corona mewabah, dengan menjaga jarak fisik dan pembatasan wilayah. Mereka mengumumkan penutupan sekolah dan bisnis swasta yang tidak penting pada 11 Maret. Denmark juga menutup perbatasannya dengan orang asing pada 14 Maret, ketika negara itu hanya memiliki beberapa kasus positif. Tetapi langkah itu sudah terbukti efektif.

    "Flu biasa telah turun 70 persen dibandingkan tahun lalu, yang harus menjadi indikator yang baik tentang efektivitas langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah," kata Rasmus Aarup Christiansen, mitra pengelola Pissup Tours, yang berbasis di Copenhagen.

    "Awalnya saya skeptis tetapi melihat bagaimana hampir semua negara lain telah mengambil langkah yang sama [seperti penutupan dan penutupan perbatasan] segera setelah Denmark, tampaknya pemerintah melakukan hal yang benar."

    Bersepeda di Copenhagen, Denmark. TEMPO | Istman MP

    Budaya Denmark, yang cenderung mempercayai otoritas dan bersedia berdiri bersama untuk tujuan bersama, juga berdampak pada efektivitas langkah-langkah tersebut. “Kata 'samfundssind' (yang secara kasar diterjemahkan menjadi“ kewarganegaraan akal ”atau“ kewajiban sipil ”) adalah kata kunci baru di Denmark pada media sosial dan tradisional, dan kebanyakan orang merasakan kewajiban moral untuk berkorban demi kesehatan masyarakat,” kata Aarup Christiansen.

    Namun, itu tidak berarti tidak ada tantangan. Aarup Christiansen secara pribadi melihat pendapatan bisnis perjalanannya anjlok. Sementara ia menghargai paket bantuan keuangan pemerintah, yang diumumkan pada 14 Maret (yang mencakup mencakup sebagian biaya gaji pekerja), paraturan tersebut belum sepenuhnya diberlakukan, yang mengarah pada lebih banyak ketidakpastian dan PHK.

    Namun, langkah-langkah tersebut, seperti membayar 90 persen upah pekerja per jam dan 75 persen dari pekerja bergaji yang terkena dampak krisis, sedang dipuji sebagai model untuk seluruh dunia yang ekonominya dalam krisis. Apa yang dilakukan Denmark tak murah, karena menelan biaya 13 persen dari total PDB.

    Singapura

    Singapura mendapat nilai tinggi dalam indeks untuk ekonominya yang kuat, risiko politik yang rendah, infrastruktur yang kuat, dan korupsi yang rendah, menempatkan Singapura pada posisi 21 dalam Indeks Ketahanan Global 2019. Negara ini juga bergerak cepat untuk membendung virus dan memiliki salah satu kurva paling datar dalam pandemi.

    "Kami memiliki kepercayaan yang luar biasa pada pemerintah kami, yang relatif transparan tentang setiap langkah yang mereka ambil untuk memerangi krisis ini," kata warga Constance Tan, yang bekerja untuk platform analisis data Konigle. "Sebagai aturan umum, jika pemerintah memberlakukan sesuatu, kami patuh."

    Jalanan Singapura yang lengang. Pariwisata di Singapura menurun akibat virus corona. Foto: Roslan Rahman/AFP via Getty Images

    Tan menyetujui langkah negaranya, bagi pelanggar aturan saat wabah virus corona, dengan menyita paspor dan membekukan izin kerja. Tindakan tegas tersebut diberitakan oleh Channel News Asia, 21 Maret 2020. "Tapi secara keseluruhan, kami bekerja bersama, dan kami tidak perlu khawatir tentang kerusuhan sosial, atau mengenai orang-orang sekarat di jalanan atau destabilisasi ekonomi," kata Tan.

    Sebagai negara kecil, Singapura bergantung pada pemulihan seluruh dunia agar rebound. Saat virus mewabah, banyak bisnis seperti Konigle menerapkan kebijakan kerja dari rumah dengan cepat, dan pemerintah merilis aplikasi “Trace Together” untuk membantu melacak virus, yang telah diunduh banyak penduduk.

    Amerika Serikat

    Dalam Indeks Ketahanan Global 2019 membagi Amerika Serikat menjadi wilayah Barat, Tengah dan Timur, tetapi secara keseluruhan, AS berada di peringkat yang baik (masing-masing peringkat ke-9, ke-11 dan ke-22) untuk lingkungan bisnis yang berisiko rendah dan rantai pasokan yang kuat.

    Wabah virus corona terbukti menciptakan krisis di wilayah metropolitan utama seperti New York, dan pengangguran mencapai yang terburuk dalam sejarah Amerika. Angka pengangguran melonjak karena penguncian yang diterapkan terhadap setengah negara bagian AS – yang berdampak terhadap pekerja restoran dan ritel serta bisnis lainnya. Bisnis-bisni tersebut mengandalkan lalu lintas pejalan kaki.

    Pemerintah AS bergerak cepat untuk mengeluarkan langkah-langkah stimulus untuk menstabilkan ekonomi, dan strategi penjarakan fisik mempu mengurangi dampak keseluruhan virus, dan memungkinkan pemulihan ekonomi lebih cepat.

    Pemandangan di jalan 34th Street dan 11 ave, kota New York, Amerika Serikat, 21 Maret 2020.[New York Post/Daniel William McKnight]

    “Secara umum, ekonomi AS memiliki posisi yang lebih baik untuk pulih dari goncangan besar dan potensi pergeseran jangka panjang daripada banyak negara lainnya. Populasi generasi muda dengan mobilitas lebih tinggi, dan pembatasan pasar tenaga kerja umumnya lebih ringan, sehingga memfasilitasi realokasi tenaga kerja yang lebih besar,” kata Eric Sims, profesor ekonomi di Universitas Notre Dame.

    Rwanda

    Meskipun berada pada peringkat 77, Rwanda adalah negara yang paling cepat pulih usai wabah virus corona. Negara itu naik 35 peringkat pada Indeks Ketahanan Global 2019 dibanding pada 2018. Pada 2019, Rwanda mampu lepas dari wabah virus ebola yang menyerang Kongo, negara tetangganya. Kemampuan menahan virus ebola menjadi modal Rwanda dalam menangani virus corona.

    Dengan perpaduan perawatan kesehatan universal, penyediaan pasokan medis dengan drone dan pemeriksaan termometer di perbatasannya, Rwanda mampu menjaga stabilitas selama krisis, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara Afrika lainnya.

    "Banyak siswa asing seperti saya tetap tinggal, karena kami merasa yakin bahwa pemerintah Rwanda akan menangani situasi dengan cara yang lebih baik daripada di negara asal kami," kata Garnett Achieng, kurator konten digital untuk Baobab Consulting dan mahasiswa di African Leadership University, yang tinggal di Kigali dan berasal dari Kenya. Justru, ia dan kawan-kawannya cemas dengan keluarga di luar negeri seperti Kenya, yang fasilitasnya tak sebaik Rwanda.

    Kerumunan warga berkumpul dengan membawa spanduk bertuliskan "Ingat 20", pada upacara publik untuk peringatan ke-20 genosida Rwanda, di stadion sepak bola, Kigali, Rwanda (7/4). (AP/Ben Curtis)

    Rwanda bekerja keras untuk bangkit, pasalnya negeri itu merupakan tuan rumah konferensi internasional dan tujuan wisata.

    Selandia Baru

    Berada di peringkat ke-12, Selandia Baru memiliki tata kelola perusahaan dan rantai pasokan yang kuat. Negara ini juga mampu bergerak cepat untuk menahan penyebaran virus dengan menutup perbatasan, untuk pelancong internasional pada 19 Maret. Mereka menutup non-esensial-bisnis pada 25 Maret.

    “Sebagai negara kepulauan, lebih mudah untuk mengontrol perbatasan kami, sumber utama infeksi. Jadi penutupan perbatasan yang efektif masuk akal, ”kata warga Auckland Shamubeel Eaqub, ekonom di Sense Partners. "Dibandingkan dengan negara lain, respons di Selandia Baru sangat berani dan tegas."

    Langkah-langkah itu membuahkan hasil, karena beberapa ahli epidemiologi melihatnya berpotensi menjadi satu dari sedikit negara "normal" yang tersisa, menurut laporan Guardian. Masih menurut surat kabar Inggris itu, Selandia Baru mampu mengatasi dampak virus corona, jika langkah-langkah yang diambil konsisten dan diperkuat.

    Dengan pariwisata dan ekspor hasil bumi, penutupan perbatasan bukanlah hal yang buruk, "Dengan diisolasi, kami akan punya waktu untuk kalibrasi ulang," kata warga Dunedin Ron Bull, direktur pengembangan kurikulum di Otago Polytechnic. "Kami sudah mulai berbicara tentang dampak perkemahan dan backpacker terhadap lingkungan, dan ini memberi kami waktu untuk mempertimbangkan apa yang penting terhadap gelombang dolar yang dibawa wisatawan mancanegara."

    Pantai Saint Clair di Selandia Baru saat matahari terbit. Dok. Tourism New Zealand

    Secara keseluruhan, negara cepat pulih karena mampu menjaga tingkat utang pemerintah yang rendah dan kemampuan untuk menerapkan pelonggaran kuantitatif, untuk menjaga suku bunga rendah, “Yang paling penting, Selandia Baru tetap menjadi negara dengan kepercayaan tinggi. Ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk pemulihan dari guncangan kesehatan dan ekonomi terbesar dalam beberapa generasi,” ujar Eaqub.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.