Begini Efek Domino Virus Corona, Investasi Pariwisata Ambyar

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyemprotkan cairan desinfektan untuk mencegah meluasnya virus corona di sebuah pasar tradisionald di Seoul, Korea Selatan, 24 February 2020.   REUTERS/Kim Hong-Ji

    Petugas menyemprotkan cairan desinfektan untuk mencegah meluasnya virus corona di sebuah pasar tradisionald di Seoul, Korea Selatan, 24 February 2020. REUTERS/Kim Hong-Ji

    TEMPO.CO, Jakarta - Benua Asia menjadi harapan bisnis pariwisata dan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), saat pasar Amerika Serikat dan Eropa diterjang badai krisis ekonomi. Investasi di bidang pariwisata dan MICE pun berduyun-duyun ke Asia, terutama Asia Tenggara.

    Asia memang surga. Pasalnya dengan kurs mata uang yang tinggi, wisatawan Amerika dan Eropa bisa menikmati Hutan Bambu Arashiyama, salah satu situs warisan dunia yang paling banyak dikunjungi di Kyoto, Jepang. Kawasan hutan ini juga disebut-sebut nyanyian alam Jepang, karena angin yang bertiup menciptakan desah dan derit pada pepohonan bambu. 

    Di Hong Kong, terdapat kereta gantung Ngong Ping 360, yang melayang di atas Pulau Lantau. Kereta gantung itu membawa penumpang ke patung Buddha yang terkenal. Namun dua tempat itu kini lengang. Hutan bambu itu seperti kehilangan pendengar dan kereta gantung, bergelantungan kosong tak bergerak. 

    Kumpulan kelompok wisatawan yang biasanya ramai di Jembatan Lentera di kota kuno Hoi An, Vietnam juga tidak nampak. Keadaan yang sama juga terjadi di Siem Reap, tempat reruntuhan kuno Angkor Wat di Kamboja. Sala Lodges yang biasanya sibuk pun tidak mendapat pesanan baru dalam tiga minggu.

    Semua kesunyian itu disebabkan wabah virus corona, yang mulai berdampak pada pariwisata global, yang menurut World Travel & Tourism Council memberikan kontribusi US$8,8 triliun kepada ekonomi dunia pada tahun 2018.

    Beberapa ekonom mengatakan wabah tersebut dapat menjadi hambatan terbesar pada pertumbuhan ekonomi global sejak krisis keuangan dunia. Maskapai penerbangan saja diperkirakan akan kehilangan sekitar US$29 miliar pendapatan tahun ini.

    Sejumlah wisatawan mengunjungi salah satu bangunan bersejarah milik dari Keluarga Mo yang ada di Desa Huitong, Zhuhai, Guangdong, Cina, Jumat, 14 Desember 2018. ANTARA/Widodo S Jusuf

    Negara-negara Asia yang paling dekat dengan Cina, yang merupakan pusat penyebaran dan sumber utama wisatawan internasional, merasakan dampak dari krisis ini. Pada hari Minggu (23/2), Venesia menghentikan perayaan karnaval tahunannya. Bahkan, pemerintah Italia menutup perjalanan ke 10 kota di wilayah Lombardy, setelah adanya kasus baru di sana.

    Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara di Asia Tenggara banyak menerima investasi untuk pembangunan resor dan kasino, untuk menarik turis Cina. Sekarang maskapai penerbangan, hotel dan tur menderita karena banyaknya pembatalan dan penurunan pemesanan yang pesat. Tidak hanya dari daratan Cina, tetapi juga dari wisatawan mancanegara yang ketakutan oleh penyebaran virus di wilayah tersebut.

    Negara-negara yang sangat bergantung pada pariwisata Cina seperti Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Singapura, masing-masing diperkirakan akan kehilangan setidaknya US$3 miliar terkait pendapatan pariwisata, menurut analisis oleh Animesh Kumar, direktur perjalanan dan pariwisata di GlobalData, perusahaan penelitian dan konsultasi yang berbasis di London.

    Penyebab kerugian besar ini bukan hanya karena tidak adanya turis Cina, melainkan juga beberapa wisatawan dari negara lain yang khawatir untuk bepergian ke daerah manapun yang dekat dengan China.

    Hopper, aplikasi pemesanan penerbangan dan hotel, menunjukkan penurunan pencarian oleh orang Amerika dalam beberapa minggu terakhir untuk penerbangan ke negara-negara Asia, terutama Cina. Analisisnya terhadap miliaran harga tiket pesawat dari seluruh internet, menunjukkan penurunan sekitar 20 persen permintaan ke Malaysia, Singapura dan Vietnam. Perusahaan itu mengatakan warga Amerika lebih memilih mencari tujuan domestik daripada internasional.

    Wisatawan Tiongkok melakukan 150 juta perjalanan ke luar negeri yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menghabiskan lebih dari US$277 miliar untuk perjalanan internasional pada tahun 2018.

    Namun, sekarang terhenti karena wabah virus corona. Wabah tersebut membuat pemerintah melarang wisatawan untuk bepergian ke luar negeri dan lusinan maskapai penerbangan internasional, seperti American Airlines dan United Airlines menghentikan penerbangan ke Cina.

    Seorang wanita yang mengenakan masker melewati rak-rak kosong mie instan dan makanan kaleng, ketika orang-orang membeli persediaan makanan setelah Singapura menaikkan tingkat peringatan wabah Virus Corona menjadi status oranye, di sebuah supermarket di Singapura, 8 Februari 2020. REUTERS/Edgar Su

    Ketika virus terus menyebar, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pada hari Sabtu (22/2) mengeluarkan peringatan Level 2 untuk Jepang dan Korea Selatan. CDC mengimbau agar orang dewasa dan mereka yang memiliki kondisi kronis, untuk mempertimbangkan dan menunda perjalanan yang tidak penting.

    Benua Asia terutama Asia Tenggara, yang mulanya menjadi investasi pariwisata yang menjanjikan saat krisis ekonomi dunia, kini malah ambyarakibat wabah virus corona.

    ALFI SALIMA PUTERI | NEWYORKTIMES

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.