Jumat, 16 November 2018

Menikmati Blusukan Kebun dan Pabrik Kopi Gumitir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Himas Puspito Putra

    TEMPO/Himas Puspito Putra

    TEMPO.CO, Jember - Begitu tiba di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, di tepi jalan provinsi yang menghubungkan wilayah Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi, akan terlihat sebuah gapura besar bertuliskan "Cafe & Rest Area Gumitir". Sekilas para pengguna jalan mengira tempat itu hanyalah sebuah tempat singgah atau area peristirahatan bagi mereka yang kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. "Tapi ternyata di sini kita bisa menikmati banyak hal baru yang berguna dan menyenangkan," ujar Hj. Retno Palupi, seorang anggota rombongan wisata dari Semarang, Jawa Tengah, Ahad, 3 Maret 2013.

    Bersama 60 orang anggota rombongan, ibu dari tiga anak itu mengatakan sangat menikmati sensasi baru yang berbeda dari perjalanan wisata selama di Pulau Bali, selama dua hari sebelumnya. Bagaimana tidak, selain menghirup udara segar pegunungan, di tempat itu, mereka bisa blusukan ke area perkebunan kopi, mengunjungi terowongan kereta api dan pabrik pengolahan kopi peninggalan zaman kolonial Belanda. "Dan semuanya dengan biaya murah," kata Suparwoto, seorang anggota rombongan lainnya.

    Terletak sekitar 39 kilometer dari kota Jember, Cafe & Rest Area Gumitir tak hanya menyediakan panorama perbukitan dan kawasan perkebunan kopi dari ketinggian. Tempat itu juga menyediakan areal permainan anak-anak, outbound dan flying fox, serta lapangan olahraga dan tempat berkemah.

    Dari tempat itu, para pengunjung tak hanya bisa menikmati hamparan kebun kopi robusta seluas 1.165 hektare, namun juga bisa "berkeliaran" di dalamnya. Ada beberapa pilihan kendaraan yang bisa digunakan para pengunjung untuk blusukan ke kebun kopi, terowongan kereta api Mrawan, dan pabrik pengolahan kopi Goenoeng Goemitir yang dibangun pemerintah kolonial Belanda antara tahun 1901 dan 1903 silam itu.

    Bagi yang suka berkelana dengan kuda, cukup membayar tiket Rp 20 ribu per orang, Anda bisa menyusuri jalan setapak di tengah kebun kopi dan kaki bukit. Jika ingin berkeliling di kebun dan bukit dengan kendaraan off-road, tempat itu menyediakan ATV 110 cc dan 250 cc, serta mobil Jeep Willys dengan tiket Rp 15 ribu dan Rp 25 ribu per orang, tergantung jauh dekatnya rute yang diinginkan. Bagi yang ingin berkeliling bersama rombongan, disediakan beberapa unit kereta wisata dan kereta kelinci.

    Kereta yang ditarik mobil dobel gardan (4x4) itu lebih banyak dipilih rombongan ibu-ibu dan anak-anak. Jalanan di tengah kebun kopi dan area terowongan kereta dan pabrik kopi berbatu. Sambil menikmati sensasi jalan-jalan gronjalan itu, pengunjung bisa melihat dari dekat rombongan buruh kebun kopi yang sedang bekerja, terowongan bawah tanah, dan jembatan kereta api kuno peninggalan Belanda yang hingga kini masih digunakan.

    Ada dua terowongan kereta api yang menembus perut Gunung Gumitir yang menghubungkan jalur kereta dari Jember menuju Banyuwangi. Pertama, terowongan Garahan yang panjangnya 90 meter. Terowongan ini selesai dibangun pada tahun 1902. Yang kedua adalah terowongan Mrawan sepanjang 980 meter yang selesai dibangun tahun 1910.

    Terowongan Mrawan adalah terowongan kereta api terpanjang di Indonesia. Terowongan peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang terletak sekitar 2 kilometer arah timur laut Cafe & Resto Gumitir itu merupakan salah satu tempat favorit pengunjung untuk berfoto. Namun, petugas melarang pengunjung untuk memasuki terowongan terlalu jauh, karena berbahaya jika sewaktu-waktu kereta api melintasi jalur itu. Pengunjung disarankan berfoto di sekitar mulut terowongan.

    Di akhir rute perjalanan, pengunjung juga diberi kesempatan untuk menengok kompleks perumahan lawas buruh perkebunan, rumah dinas administratur (pimpinan) kebun, dan pabrik pengolahan kopi Goenoeng Goemitir. Tempat ini juga merupakan area favorit pengunjung untuk berfoto ria dengan latar belakang bangunan dan beragam mesin kuno. Kalau sedang musim panen kopi tiba (bulan Juni-Juli), kita bisa menyaksikan langsung pabrik kopi itu mengolah biji kopi robusta (Coffea canephora) dari kebun Gunung Gumitir yang dikelola PT Perkebunan Nusantara XII.

    Setelah lelah berkelana di kebun dan pabrik kopi, Anda bisa menikmati beragam makanan dan minuman di Cafe Gumitir. Cafe Gumitir dibikin dalam bentuk gazebo yang berderet di dataran tinggi, sehingga Anda bisa leluasa melihat pemandangan kawasan perbukitan dan perkebunan kopi di Gunung Gumitir.

    Aneka makanan dan minuman di tempat itu bisa dinikmati dengan harga murah, antara Rp 5.000 dan Rp 85 ribu. Minuman khas di tempat itu, tentu saja kopi. Ada beragam jenis kopi robusta dan arabika di tempat itu seperti kopi lanang produksi PTPN XII yang harganya Rp 8000 per cangkir dan kopi luwak jenis arabika yang harganya Rp 75 ribu per cangkir.

    Menu makanan Indonesia-nya seperti ayam goreng, bebek goreng, dan soto ayam. Ayam goreng Laos adalah makanan khas tempat itu, bisa dinikmati dengan harga Rp 23 ribu setiap porsi. Atau camilan tahu dan singkong kuning goreng yang bisa dibeli cukup Rp 5.000 saja pe porsi.
    Ignatius Purwo Yuliantoko, manajer kebun Gunung Gumitir PTPN XII mengatakan, Cafe & Rest Area Gumitir yang didirikan bulan Maret 2010 itu adalah salah satu bentuk optimalisasi lahan perkebunan milik BUMN itu. "Jadi ini upaya diversifikasi kami, selain tetap fokus dalam bisnis komoditas utama yaitu kopi, karet, kakao, teh, dan kayu-kayuan," kata dia.

    Karena prospek usaha kafe itu dinilai bagus, kata dia, area kafe yang semula hanya satu 1 hektare terus dikembangkan menjadi 3 hektare. Tahun 2011 lalu, kafe itu membukukan laba sebesar Rp 1,7 miliar. Tahun 2012, kata dia, penghasilan kafe meningkat sekitar 2 miliar. "Ke depan kami terus kembangkan menjadi kawasan agrowisata perkebunan yang tidak saja representatif sebagai tempat istirahat, tapi juga tempat wisata keluarga yang menyenangkan dan menambah pengetahuan pengunjung," katanya.

    Oh, ya, satu hal lagi yang unik dan membetot perhatian banyak pengunjung dari tempat itu adalah sebuah kursi kayu raksasa. Kursi raksasa itu berukuran 3 x 3 meter dengan tinggi alas kursi 2,5 meter dan tinggi sandaran kursi 5,3 meter. Kursi dibuat dari enam batang utuh kayu Segawe (Adentahera microsperma) yang berasal dari dalam afdeling Tanah Manis, kebun Gunung Gumitir.

    Sejak didirikan pada September 2011 lalu, kursi raksasa itu juga menjadi lokasi pemotretan bagi para pengunjung. "Letaknya pas, di bagian bukit tinggi sehingga bisa melihat lembah dan hamparan kebun kopi di bawah," ujar Apriyadi, seorang pengunjung dari Sidoarjo.

    Bagi Anda yang melewati jalur Gumitir di perbatasan Jember-Banyuwangi ini, sayang jika melewatkan tempat itu untuk beristirahat sekaligus menikmati sensasi blusukan di kebun dan pabrik kopi Goenoeng Goemitir.

    MAHBUB DJUNAIDY

    Tepopuler

    Soekarwo Lantik Bupati Termuda Indonesia
    Timwas Century Terima Banyak Informasi dari Anas

    Polri: Video Kekerasan Densus 88 Terjadi 2007

    Ini Tokoh-tokoh yang Mengilik Anas Soal Century


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kalender Lengkap Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019

    Pemerintah telah merilis jadwal soal hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2019. Sudah siap merancang kegiatan untuk mengisi libur?