Wisata Pertanian Taiwan, Bersalin Rupa di Generasi Kedua

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lee dan istrinya,  pemilik perkebunan Persimmon Brother Farm, Taiwan (Dewi Rina)

    Lee dan istrinya, pemilik perkebunan Persimmon Brother Farm, Taiwan (Dewi Rina)

    TEMPO.CO, Taiwan -Sejumlah lahan pertanian yang melakukan ekspansi ke bisnis wisata di Taiwan, banyak dikelola oleh generasi muda.  Mereka mewarisi perkebunan dari orang tua dan mengelolanya dengan cara sedikit berbeda.

    Baca: Agrowisata Taiwan, dari Makanan Halal hingga Petik Buah Sendiri

    Fang,  pengelola wisata jamur Magical Mushroom Tribe adalah salah satunya. Setelah menamatkan pendidikan di Amerika Serikat, sejak dua tahun lalu diminta ayahnya kembali ke Taiwan untuk mengelola budi daya jamur milik keluarga.

    Di atas lahan seluas lima hektare itu berdiri budi daya jamur modern yang dikombinasikan dengan wisata edukasi, permainan anak-anak dan restoran. Setelah membayar tiket masuk 100 NTD atau sekitar Rp 45 ribu,  pengunjung dikenalkan dengan proses produksi jamur modern. Ada pula area bermain anak-anak juga toko souvenir.  Di toko cendera mata,  dijual oleh-oleh berbahan baku jamur yang diolah menjadi aneka produk mulai dari keripik,  es krim,  sosis hingga kosmetik.

    Pengusaha lainnya adalah Jory, 33 tahun. Bersama sang kakak, perempuan ini mengelola kebun markisa warisan ayahnya di kawasan Puli, Taiwan. Sejak empat tahun lalu, mereka mengembangkan wisata memanen buah markisa langsung dari kebun seluas lima hektare itu.

    Untuk memasuki kebun bernama Dhapingding ini, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar 100 NTD atau sekitar Rp 45 ribu. Dari tiket yang dibayarkan, separuhnya bisa ditukar dengan markisa atau produk olahan seperti permen,  jeli dan es krim.

    Jory memasarkan wisata kebunnya melalui internet. Lewat dunia maya, ia mengundang langsung turis maupun agen perjalanan. Saat ini sebagian besar pengunjung kebun berasal dari turis domestik.

    Persimmon Brother Farm juga dikelola oleh generasi kedua pasangan suami istri.  Lee, sang suami mengatakan mendapat warisan kebun buah kelengkeng dan kesemek dari ayah mertuanya sekitar 10 tahun lalu.  Sejak itu, ia menerapkan konsep budi daya pertanian secara organik yang memiliki nilai jual lebih tinggi. "Awalnya tak mudah, saya harus meyakinkan ayah mertua bahwa pertanian organik lebih baik dibandingkan konvesional karena menggunakan pupuk ramah lingkungan," ujarnya,  Kamis, 21 September 2017.

    Lee juga membuka kebunnya untuk turis sejak awal tahun ini. Pelancong bisa membeli buah-buahan segar dari kebun. "Harga produk pertanian berfluktuasi, dengan menjual langsung produksi pertanian ke masyarakat, petani tak terlalu dirugikan," ujar Ngan Kok Lim,  Marketing Secretary Taiwan Leisure Farm Development Association atau TFLDA, Jumat, 24 September 2017.

    Menurut catatan TLFDA,  ada sebanyak 200 pengusaha agrikultur anggota asosiasi yang kini mengembangkan wisata pertanian sebagai bisnis sampingan. Mereka tersebar di seluruh wilayah di Taiwan.

    DEWI RINA (TAIWAN)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?