Meskipun Terancam Denda Rp192 Juta, Warga Inggris Menolak Isolasi

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang kru maskapai terlihat mengenakan masker wajah pelindung di Bandara Heathrow, ketika Inggris memberlakukan aturan karantina 14 hari untuk kedatangan internasional di tengah wabah virus corona (Covid-19), London, Inggris, 8 Juni 2020. [REUTERS / Toby Melville]

    Seorang kru maskapai terlihat mengenakan masker wajah pelindung di Bandara Heathrow, ketika Inggris memberlakukan aturan karantina 14 hari untuk kedatangan internasional di tengah wabah virus corona (Covid-19), London, Inggris, 8 Juni 2020. [REUTERS / Toby Melville]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris memerintahkan warganya yang positif terinfeksi virus corona untuk mengisolasi diri. Mereka yang melanggar bisa dikenai denda hingga 10.000 pound atau US$13.000 (sekitar Rp192,4 juta). Namun warga Inggris menolak peraturan pemerintah tersebut. 

    Aturan tersebut berlaku mulai 28 September untuk siapa pun di Inggris, termasuk wisatawan yang dites positif terpapar virus corona. Bahkan, mereka yang ditelusuri melakukan kontak dengan yang terinfeksi, juga harus melakukan isolasi mandiri. 

    "Orang yang memilih untuk mengabaikan aturan akan menghadapi denda yang signifikan," kata Perdana Menteri Boris Johnson kepada Aljazeera.

    Denda mulai dari 1.000 pound (US$1.300) untuk pelanggaran pertama. Lalu naik menjadi 10.000 pound untuk pelanggar yang berulang kali melanggar aturan. Denda maksimal itu juga dikenakan terhadap majikan, yang memecat karyawannya karena memilih mengisolasi diri ketimbang pergi ke tempat kerja. 

    Para pekerja berpenghasilan rendah, bila melakukan isolasi mandiri, akan menerima pembayaran tunjangan 500 pound (US$650) di atas tunjangan lain, seperti gaji dan perawatan saat sakit, yang menjadi hak mereka.

    "Sementara kebanyakan orang melakukan yang terbaik untuk mematuhi aturan, saya tidak ingin melihat situasi di mana orang merasa tidak mampu secara finansial untuk mengisolasi diri," kata Johnson.

    Inggris menerapkan isolasi mandiri selama 10 hari bagi mereka yang menunjukkan gejala atau terbukti positif Covid-19. Mereka yang tinggal dengan seseorang yang memiliki gejala atau hasil tes positif, harus mengisolasi diri selama 14 hari.

    Gelombang Kedua
    Dinukil dari News Agency, hampir 42.000 orang telah meninggal karena virus corona di Inggris -- yang merupakan jumlah kematian terburuk akibat pandemi di Eropa.

    Setelah jeda musim panas, kasus meningkat dengan cepat lagi dan Johnson memperingatkan mengenai gelombang kedua, "Kami melihatnya di Prancis, di Spanyol, di seluruh Eropa - itu benar-benar, saya khawatir, tak terelakkan kami akan melihatnya di negara ini," katanya.

    Aturan baru yang membatasi pertemuan sosial untuk enam orang dari rumah tangga yang berbeda mulai berlaku minggu ini. Sanksi bagi para pelanggar juga mulai diperkenalkan di seluruh negeri.

    Sejumlah pengunjung berangkulan dan menyanyi di Leicester Square saat akhir pekan sebelum berlakunya pengetatan jarak sosial di London, Inggris, 12 September 2020. Pengetatan interaksi yang disebut rule of six tersebut diterapkan untuk menekan penularan virus corona Covid-19. REUTERS/Simon Dawson

    Namun, Johnson telah menyatakan keengganannya untuk mengkarantina seluruh Inggris. Pasalnya, anggota parlemen dari kubu Konservatif yang mendukungnya, mengkritik pembatasan saat ini. Bahkan, pengunjuk rasa anti-vaksin dan anti-penguncian bentrok dengan polisi di Trafalgar Square. Polisi mengatakan 32 orang ditangkap.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru Nonton di Bioskop Pasca Covid-19

    Masyarakat dapat menikmati film di layar lebar dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.