Oksibil, Negeri di Atas Awan Kampung Milik Suku Ngalum

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi suasana di Oksibil, Papua. Shutterstock

    Ilustrasi suasana di Oksibil, Papua. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak ada kabupaten di Indonesia yang seunik Kabupaten Pegunungan Bintang. Berada di perbatasan negeri lain – Papua Nugini – dengan 90 persen wilayah berada di ketinggian 400 hingga 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Luas wilayahnya membentang 14.655,36 km2. Dengan ketinggian itu, Pegunungan Bintang merupakan penghasil kopi terbaik di Papua,

    Beribukota di Oksibil. Pegunungan Bintang merupakan negeri di atas awan. Suhu rata-rata berada di kisaran 15 derajat, membuat Oksibil selalu sejuk. Seandainya wilayah itu mudah dijangkau, bisa saja Papua menjadi satu-satu provinsi di negeri tropis yang memiliki resor ski. Sayang, Pegunungan Bintang sangat sulit dijangkau, hanya bisa ditempuh dengan pesawat kecil.

    Baca: Indahnya Oksibil, Negeri Dalam Awan di Daratan Papua

    Salju di Pegunungan bintang berada di Puncak Mandala, “Puncak Mandala adalah puncak tertinggi setelah Puncak Cartenz di Jaya Wijaya. Di puncak ini, wisatawan dapat menikmati salju. Suhu minus membuat puncak gunung diliputi oleh es,” kata Bupati Pegunungan Bintang Costan Oktrmka kepada TEMPO pada 2018 lalu.

    Wilayah yang dingin itu kian menarik, karena memiliki sumber air panas Opatik di Pegunungan Antares. Hutan di Distrik Seram, Oksibil, bahkan mampu membawa turis ke suasana hutan-hutan Selandia Baru, yang rapat dengan batang-btang pohon raksasa berselimut lumut. Hutan-hutan di Pegunungan Bintang kerap ditumbuhi anggrek.

    Oksibil memiliki koleksi sungai-sungai bawah tanah, yang keluar ke permukaan bumi dalam rupa air terjun. Menurut Costan, Air terjun itu berada di dekat kota. Di antaranya Air Terjun Kolbung, Tembung, Anorbung, Kukop Bung, dan Okbon Bung. Bung adalah sebutan masyarakat lokal untuk air terjun.

    Jadi Bahan Tertawaan Orang Eropa Abad 17

    Menurut arkeolog Hari Suroto, sejak awal abad 17 orang-orang Eropa telah berada di Papua. Pada tahun 1606, kapal-kapal Belanda pertama berlayar di sepanjang pesisir Papua, “Pada masa itu, Belanda telah mengambil alih kendali lalulintas perdagangan cengkeh dari Portugis, Spanyol dan Inggris,” ulasnya kepada TEMPO.

    Suasana di sebuah pasar di Oksibil, Papua. Shutterstock

    Pelaut Belanda yang bernama Kapten William Jasz lantas berlayar sepanjang pesisir barat dan pesisir selatan Papua. Misi utamanya adalah pemetaan ia mendarat di berbagai tempat, salah satu tempat tersebut adalah muara Sungai Digul.

    Pada tahun 1616, dua orang pelaut Belanda Jacob le Maire dan Willem Schouten menjelajahi pesisir utara Papua, termasuk Biak dan Yapen. Willem Schouten kemudian memberi nama Kepulauan Biak dengan nama Kepulauan Schouten.

    Sekitar satu dekade kemudian atau 1623, Jan Carstensz dalam pelayarannya melintasi pantai selatan Laut Arafura sempat menyaksikan salju di puncak gunung tertinggi di Papua. Ia dianggap berilusi melihat salju di pucuk pegunungan tropis.

    Laporan perjalanannya menjadi bahan tertawaan orang-orang Eropa. Mereka sulit menerima fakta ada salju di dekat khatulistiwa. Puncak tertinggi yang dilihat Cartensz itu sekarang dikenal dengan nama Puncak Cartensz atau saat ini disebut Puncak Jaya.

    Pada tahun 1660, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan Tidore, yang menyebutkan bahwa tidak ada orang Eropa lain yang berhak masuk ke Papua selain Belanda. Dalam perkembangannya kemudian, Papua dimasukkan ke dalam wilayah jajahan Hindia Belanda.

    Namun karena Papua bukanlah sumber pemasukan ekonomi yang berarti bagi Belanda, pulau tropis nan megah itu tidak terlalu dihiraukan hingga awal abad 20. Saat kekuasaan Belanda kian mapan, pada awal abad 20 pemerintahan di Papua dioperasikan.

    “Papua dijadikan Belanda sebagai tempat pembuangan tahanan politik, dan menjadi tempat tugas yang baru bagi pegawai Belanda yang tidak disiplin menjalankan tugas di Pulau Jawa,” ujar Hari.

    Dari pemerintah Hindia Belanda inilah banyak tersiar kabar tentang Papua ke Eropa, yang menarik para arkeolog dan antropolog. Melalui catatan dan publikasi mereka, Papua mulai dikenal dunia.

    "Meskipun demikian hingga saat ini Papua masih menjadi surga bagi para peneliti, karena masih banyak yang belum terungkap," ujar arkeolog Hari Suroto.

    Oksibil Nama yang Lahir dari Antropolog

    Popularitas Papua di kalangan arkeolog Eropa juga menarik minat Wulf Schiefenhoevel peneliti dari Max Planck Institut Starnberg-Seewiesen, Jerman. Ia menyandang gelar profesor untuk antropologi medis dengan puluhan penelitian.

    Lahir pada 1943, Wulf muda dengan timnya pada 1974 mencapai sebuah lembah di pedalaman Papua yang kini dikenal sebagai Kabupaten Pegunungan Bintang. Sebelumnya, Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), pada akhir 1960 yang dipimpin Kapten Feisal Tanjung  hanya menyebut Lembah X, untuk sebuah lembah di pertemuan tiga Sungai Eipo (Mek). Tiga sungai itu membentuk seperti huruf X, “Saya kasih nama Oksibil dari bahasa penduduk,” kata Schiefenhoevel.

    Wulf Schiefenhoevel peneliti dari Max Planck Institut Starnberg-Seewiesen, Jerman, peneliti yang memberi nama Oksibil pada sebuah Lembah X. Kini Oksibil menjadi ibu kota Pegunungan Bintang. Dok. Hari Suroto

    Kini Oksibil menjadi ibu kota Pegunungan Bintang. Menjangkaunya bukan perkara mudah. Butuh waktu empat jam perjalanan udara dari Jakarta ke Sentani. Dari Bandara Sentani, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil dengan tarif Rp800.000-Rp1,5 juta. Di dalam kota, terdapat transportasi umum.

    Schiefenhoevel mengenang, petualangannya di dalam belantara Pegunungan Bintang pada 1974-1976, didanai oleh Pemerintah Jerman, “Saat itu semuanya dipikul dan melibatkan orang lokal,” ujarnya. Menurutnya, timnya utuh meskipun mereka tak membawa senjata.

    Schiefenhoevel pertama kali menjejakkan kakinya di Papua pada 4 Juli 1974. Rombongan pertama yang dia pimpin merupakan penelitian besar dari proyek bertajuk “Mensch, Kultur und Umwelt in  Zentralen Bergland von Irian Jaya (Manusia, Budaya dan Lingkungan di Pegunungan Sentral Irian Jaya)”.

    Rombongan tersebut mendarat di Bime, Kampung Munggona di bagian selatan Lembah Eipomek, waktu itu bernama Lembah X, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan selama lima hari. Hingga akhir 1976, jumlah tim sebanyak 32 orang, yang meneliti dengan berbagai disiplin: geologi, meteorologi, geografi, pertanian, botanik, zoologi, antropologi fisik, antropologi dental, kesehatan, ethnomedicine, linguistik, etnografi, etnomusikologi, prilaku (behavior), dan dokumentasi film.

    “Proyek harus dibatalkan pada 1976 karena ribur-ribut di Papua sebelum disiplin lain mulai kerja, upamanya arkeologi,” kata Wulf Schiefenhoevel dalam email-nya. Sebagai kepala proyek, ia bertanggung jawab besar dan saat semua anggotanya kembali ke negeri masing-masing, ia bertahan di Lembah X hingga 14 bulan.

    Wulf Schiefenhoevel pun memberi nama Eipomek pada lembah X. Sementara nama Oksibil berasal dari bahasa Suku Ngalum, terdiri dari kata Ok yang artinya air. Oksibil berarti lokasi permukiman Suku Ngalum di tepi Sungai Sibil. Oksibil pun kini jadi ibu kota Pegunungan Bintang.

    Selama empat tahun meneliti, berbagai kebutuhan hidup dan peralatan penilitian diterjunkan dari udara, tiga atau empat kali selama dua tahun.

    Orang Papua Turut Membangun Peradaban

    Pada 2018, Wulf Schiefenhoevel datang lagi. Tentu dengan suasana yang sudah jauh berubah. Ia bersama timpalannya, arkeolog asal Perancis Dr. Marian Vanhaeren.

    Gua Emok Tum di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Dokumen Dr. Marian Vanhaeren dan Prof Wuld Schienfenhovel

    Mereka berhasil membuktikan adanya aktivitas manusia prasejarah, berupa arang sisa pembakaran dan tulang hewan kecil sejenis marsupial di Gua Emok Tum, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua.

    Menurut Wulf Schiefenhovel, sisa arang bekas aktivitas manusia zaman dulu yang diperkirakan pada 2.140 tahun lalu.

    “Sebenarnya kami kurang berkenan dengan penemuan ini, karena di salah satu tempat di Papua New Guinea (PNG) ada penemuan yang lebih lama yakni 8.000 tahun lalu. Tapi penemuan ini cukup membahagiakan bagi penduduk di Oksibil karena nenek moyang mereka telah mengenal api sebelum Tuhan Yesus lahir,” katanya.

    Schiefenhovel dan Vanhaeren berharap, dapat menemukan goa dengan tanda-tanda kehidupan masa lampau yang lebih tua, “Orang Papua pertama tiba di Tanah Papua 40.000 atau 50.000 tahun yang lalu,” ujarnya.

    Nenek moyang orang Papua memiliki jasa besar terhadap peradaban. Mereka memperkenalkan dunia tanaman pangan seperti keladi (taro, Colocasia esculenta), tebu (Saccharum officinarum) dan sayur lilin (Saccharum edule) dan sayuran hijau dengan protein (Runggia klossii). Leluhur orang Papua bahkan mempunyai darah (genom) dari orang Denisova – genom itu lebih banyak ketimbang orang-orang di Eropa dan daerah lain.

    Menguatkan temuan Schiefenhovel, Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan nenek moyang pertama Papua hanya mengenal budaya membuat api dan berburu. Mereka kemudian bercocok tanam keladi, pisang, buah merah, dan tebu. Mereka hanya mengolah bahan makanan dengan cara dibakar saja, sebelum mengenal manfaat babi, anjing, dan ayam.

    “Ketiga binatang ini dibawa oleh nenek moyang Papua gelombang kedua. Nenek moyang gelombang kedua ini, disebut sebagai orang Austronesia. Orang Austronesia lebih banyak tinggal, bermukim dan menghuni di pesisir Papua dan pulau-pulau di lepas pantai Papua, mereka tidak bisa masuk ke pegunungan tengah Papua,” katanya.

    Sementara itu, dari penelitian dengan Schiefenhovel Vanhaeren menemukan hubungan yang kuat, antara orang-orang Papua dengan Papua Nugini (PNG). Kabupaten Pegunungan Bintang terletak diantara Situs Kuk di PNG dan Kelela, Lembah Baliem, Kabupaten Jayawiya, Indonesia.

    Prof Wulf Schiefenhoevel (sedang memotret) dan bersama arkeolog asal Perancis Dr. Marian Vanhaeren (bertopi dengan baju jingga) bersama dengan anak-anak sekolah Pegunungan Bintang. Dok. Hari Suroto.

    “Hal ini yang membuat saya dan Prof Wulf ingin mengetahui benang merah antara Situs Kuk dan Kelela, karena data etnografi menunjukkan bahwa nenek moyang masyarakat pegunungan tengah Papua berasal dari timur. Jika, data etnografi itu benar maka Pegunungan Bintang yang terletak di paling timur Papua, menjadi jalur migrasi manusia dari timur ke barat,” kata Marian.

    Catatan redaksi: tulisan diolah dari email arkeolog Hari Suroto dan Prof. DR. Wulf Schiefenhovel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa Efek Buruk Asupan Gula Berlebih Selain Jadi Penyebab Diabetes dan Stroke

    Sudah banyak informasi ihwal efek buruk asupan gula berlebih. Kini ada satu penyakit lagi yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi gula berlebihan.