Jangan Sebut Virus Corona di Negara Ini atau Kau Masuk Penjara

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)

    Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika seluruh negara berjibaku untuk mencegah penyebaran virus corona, ada satu negara menutup diri akan wabah tersebut. Kalau sampai terdengar ada yang menyebut virus corona saja, maka orang itu bakal masuk penjara.

    Negara itu adalah Turkmenistan. Negara yang berbatasan dengan Iran, Afghanistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan ini memiliki 5,8 juta penduduk. Pemimpinnya adalah Presiden Gurbanguly Berdymukhamedov.

    Mengutip ABC News, pemerintah Turkmenistan melarang siapapun menyebut virus corona baru atau COVID-19. Maka, kata itu tidak akan ditemukan di media massa atau buletin kesehatan di negara tersebut. Reporters Without Borders atau RSF melaporkan Turkmenistan adalah negara dengan peringkat kebebasan pers paling buruk di dunia, selain Korea Utara.

    Meski menutup segala informasi tentang virus corona, pemerintah Turkmenistan dikabarkan sigap dalam mencegah penyebaran virus ini. Pemerintah Turkmenistan langsung menutup semua perbatasan negara pada awal Februari 2020.

    Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, hingga 30 Maret 2020, hanya Turkmenistan yang belum memberikan laporan terkait kasus virus corona. "Otoritas Turkmenistan bertahan dengan sistem pemerintahan otoritarian dan menghapus semua informasi tentang virus corona," kata Kepala RSF untuk Eropa Timur dan Asia Tengah, Jeanne Cavelier.

    Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov berbicara pada konferensi pers di Tbilisi, Georgia, 2 Juli 2015. [REUTERS / David Mdzinarishvili]

    Anggaplah tiada kasus COVID-19 di Turkmenistan, namun media massa telah dikendalikan oleh pemerintah agar tidak menyebut kata virus corona. Tertutupnya informasi itu tak hanya membahayakan masyarakat, tapi juga memperkuat sikap otoriter Presiden Gurbanguly Berdymukhamedov.

    Presiden Gurbanguly Berdymukhamedov adalah mantan dokter gigi yang hobi menunggang kuda. Dia menulis buku tentang teh dan obat alami. Saat wabah corona terjadi di mana-mana, Berdymukhamedov mempromosikan bukunya yang berisi khasiat teh serta tanaman herba.

    Menurut laporan Global News, pemerintah Turkmenistan mengimbau masyarakat untuk membakar beberapa jenis tanaman herba, misalnya lada merah, untuk mencegah penyakit menular, seperti tertera dalam buku Berdymukhamedov.

    ABC NEWS | GLOBAL NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.