Wisata Gunung Kidul Dinilai Bisa Menyaingi Bali dan Lombok

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan menikmati pemandangan alam dari puncak Gunung Api Purba yang terletak di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, 10 Februari 2017. Gunung Api Purba masuk dalam kawasan Ekowisata di Kabupaten Gunungkidul. TEMPO/Pius Erlangga

    Wisatawan menikmati pemandangan alam dari puncak Gunung Api Purba yang terletak di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, 10 Februari 2017. Gunung Api Purba masuk dalam kawasan Ekowisata di Kabupaten Gunungkidul. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo menilai perkembangan wisata Gunung Kidul bisa mencapai level seperti Nusa Dua (Bali) atau Lombok Selatan.

    Hal itu bisa terjadi, kata Harinowo, jika pemerintah daerah setempat terus melakukan pengembangan infrastruktur lebih lanjut, yakni jaringan listrik dan sumber air bersih. Harinowo, yang juga Komisaris Independen Bank Central Asia Tbk (BCA) itu,  mengungkapkan pendapatnya dalam forum "Kafe BCA on the road" bertema pengembangan turisme, di Yogyakarta, Minggu, 23/9. 

    Baca juga: Hidupkan Pariwisata, Gunung Kidul Kembangkan Tanaman Kopi

    Yogyakarta, kata Harinowo, masih bisa menambah jumlah wisman tinggi. Karena Gunung Kidul saat ini menjadi salah satu destinasi teratas bagi turis yang datang ke Yogyakarta.

    Menurut dia, daya tarik utama Gunung Kidul adalah Goa Pindul dan kawasan pantainya. Wirawisata Goa Pindul, kata dia, dimulai dari nol. Lalu BCA membantu melatih dan membentuk sumber daya yang dapat mengelola, merawat, dan mempromosikan untuk kawasan itu menjadi daerah tujuan wisata. "Pendapatan per bulan Rp500-Rp600 juta. Ini hasil konkrit masyarakat. Jadi ini satu dampak ekonomi luar biasa.”Wisatawan menyusuri sungai dengan mengenakan pelampung sambil menikmati keindahan alam dan air terjun dalam wisata Gua Pindul di Desa Bejiharjo, Karangmojo Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, 30 Juli 2016. TEMPO/Fardi Bestari

    Harinowo berpendapat saat ini desa wisata dapat menjadi salah satu tumpuan bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

    "Rata-rata pendapatan devisa dari satu wisatawan mancanegara (wisman) adalah 1.100 dolar AS. Itu 100 persen masuk Indonesia, ini masuk ke UMKM," kata Harinowo. Pada 2018 kunjungan wisman diharapkan mencapai 17 juta, sehingga potensi pemasukan devisanya mencapai 18,7 miliar dolar AS. Asumsinya, rata-rata pendapatan devisa dari satu wisman sebesar 1.100 dolar AS.

    "Mungkin selama 2018 ini kita akan mencapai di atas 16 juta, mudah-mudahan 17 juta turis. Target 2019 yang mencapai 20 juta turis," ujarnya.

    Pengamat Ekonomi Tony Prasetiantono optimistis sektor pariwisata di dalam negeri akan berkembang lebih besar dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional. "Kami membutuhkan pertumbuhan ekonomi dengan sektor pariwisata. Saya optimis pariwisata akan berkembang, syaratnya adalah infrastruktur dan investasi," kata dia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.