Sepiring Lontong Tuyuhan dan Sisi Lain Pecinan Lasem

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepiring lontong Tuyuhan yang berasal dari Desa Tuyuhan di Kabupaten Rembang. Satu porsi dibanderol Rp 12 ribu. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Sepiring lontong Tuyuhan yang berasal dari Desa Tuyuhan di Kabupaten Rembang. Satu porsi dibanderol Rp 12 ribu. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta -- Memburu kuliner lontong tuyuhan adalah keharusan bila sedang di Lasem, sebuah kota pecinan kuno di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Setidaknya, begitulah kata Sie Hwie Djan alias Opa Gandor, orang yang saya temui saat sedang melancong di Lasem, 16 Juli lalu.

    Opa Gandor adalah orang yang dituakan di kawasan Pecinan Lasem. Ia langsung bergegas mengeluarkan sepeda motor matic tuanya saat saya bilang ingin menjajal lontong tuyuhan. "Saya antar saja. Warung lontong tuyuhan itu adanya di dekat kebun tebu. Enggak ada angkutan umum," tutur Opa Gandor.

    Sepanjang jalan menuju sentra penjaja lontong, ia memberi tahu lokasi-lokasi favorit wisatawan yang kami lalui. "Itu namanya Batik Pusaka Beruang. Pemilknya adalah pengusaha bernama Santoso Hartono alias Pak San," kata Opa Gandor sambil menunjuk salah satu rumah.

    Menurut Opa Gandor, Pak San adalah satu dari segelintir pebisnis batik yang bertahan di Lasem. Ia mengenang, pada era 1950-an, batik masih begitu berjaya di tanah kelahirannya itu. Kota Lasem begitu ramai pendatang saban hari. Orang dari mana pun, seperti Surabaya, Semarang, Kudus, Solo, berkunjung khusus untuk belanja batik.

    Baca Juga: 

    Cara Murah dan Nyaman Traveling ke Lasem Hanya Rp 200 ribuan

    Masa Lalu yang Hidup di Rumah Opa Lo Lasem 

    Namun mereka harus gigit jari pada era Orde Baru. Usaha batik meredup. Motif pun dibatasi. Pola khas Lasem yang memiliki corak pecinan seperti barong, naga, tulisan Mandarin dan sejenisnya tak boleh 'terbit'. "Kredit rakyat khusus untuk pengusaha keturunan Cina dipersulit. Saya ingat betul," kata Opa Gandor.

    Padahal, menurut Opa Gandor, keturunan Cina di Lasem adalah warga asli Nusantara.  Peradaban Cina masuk Lasem sudah ratusan tahun dideteksi keberadaannya. Keturunannya pun sudah sampai garis kedelapan atau sembilan saat ini sejak Cina masuk ke Lasem sekitar 1300-an.

    "Sekitar 7.000 orang Cina masuk Lasem waktu itu cowok semua dan menikah dengan perempuan pribumi. Mereka tinggal di sini karena kapalnya dibakar oleh kaptennya. Lalu menghasilkan keturunan," ujar Opa Gandor.

    Kisah masa lalu Lasem belum kelar juga padahal kami sudah berkendara 20 menit dari pusat kota. Sentra lontong tuyuhan itu mulai terlihat. Lokasinya di tengah kebun tebu. 
    Ada lebih dari sepuluh penjual. Kata Opa Gandor, yang paling enak adalah kios kedua dan ketiga dari arah jalan pusat kota. Kami pun menuju kios kedua.

    Seorang pedagang tengah menuangkan kuah untuk kuliner lontong tuyuhan khas Lasem, Kabupaten Rembang. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Saat itu adalah jam makan siang. Hampir semua warung penuh pengunjung. Mereka duduk di bangku panjang. Angin semilir dari perkebunan yang mengepung lokasi sentra lontong itu membuat hawa terasa adem.

    Di depan kios tampak para pedagang sibuk mengiris lontong. Ada yang unik pada lontong tuyuhan. Bentuknya seperti kerucut berukuran besar. Mirip bakcang alias makanan khas Cina yang terbuat dari beras atau ketan.

    Bentuk lontong ini mendapat pengaruh memasak dari Cina, menurut Opa Gandor. Lontong tuyuhan disandingkan dengan sayur kuning berisi potongan ayam kampung. Diberi nama tuyuhan sesuai dengan daerahnya, kata Opa Gandor. Desa tempat kami makan lontong ini adalah Desa Tuyuhan. Lontong tuyuhan yang saat ini sudah tersebar sampai Rembang.

    Beberapa orang Tuyuhan pun berinisiatif membuka warung sederhana. Kini warung itu sudah berkembang lebih baik berbentuk permanen. "Karena bantuan pemerintah," ukar Opa Gandor.

    Sepiring lontong tuyuhan ini  dibanderol Rp 12 ribu. Para penjual biasanya membuka lapak antara pukul 10.00 hingga pukul 17.00.  Sambil menyantap lontong tuyuhan, kisah Lasem masa lalu pun dilanjutkan. Kini lebih lengkap karena ditemani kuah beraroma kunyit yang khas. Cerita Lasem makin hidup di warung sederhana Tuyuhan.


    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.