Masa Lalu yang Hidup di Rumah Opa Lo Lasem

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Opa Lo Gwen Gang dan Mbak Minuk, penjaga rumahnya di Lasem, Kabupaten Rembang. Opa Lo adalah penghuni Lasem tertua yang tinggal di Dusun Karangturi, Lasem, Rembang. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Opa Lo Gwen Gang dan Mbak Minuk, penjaga rumahnya di Lasem, Kabupaten Rembang. Opa Lo adalah penghuni Lasem tertua yang tinggal di Dusun Karangturi, Lasem, Rembang. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO -- Waktu seolah-olah berhenti ketika saya tiba di Dusun Karangturi Gang 4, Lasem, sebuah kota kecil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Minggu sore, 15 Juli 2016. Saya seperti sedang memasuki lorong waktu dan tiba-tiba sampai di masa lalu.

    Saya menyaksikan jalanan seperti koridor yang diapit bangunan-bangunan megah kuno. Pagar-pagar tembok pecah. Di antara pagar itu terdapat pintu kayu dua sayap. Di badan pintu-pintu rumah terukir huruf Cina. Warna rumah-rumah tersebut tak mencolok. Grandel pintunya berbentuk bulat seperti gelang.

    Saya terbawa ke era 1300-an, ketika Lasem begitu berwarna dengan wajah-wajah perkawinan campur. Laki-laki Cina, yang adalah imigran, menikah dengan gadis-gadis lokal. Namun pintu-pintu mereka tertutup rapat. Saya terus menyusuri lorong jalanan yang konon dijuluki Little Tiongkok itu.

    Saya menjumpai seorang kakek tua dengan punggung membungkuk duduk di depan rumah. Dan rumahnya adalah rumah pertama yang pintunya terbuka lebar.  Kakek dengan rambut hampir botak itu menyapa dengan tawa mengembang. "Masuko (masuklah) rumahku," katanya.

    Baca Juga: 

    Seni Membatik Sebatang Rokok dengan Ampas Kopi Lelet di Lasem

    Cara Murah dan Nyaman Traveling ke Lasem, Hanya Rp 200 Ribu 

    Rumah itu memiliki konstruksi tua. Arsitekturnya perpaduan Jawa dan Cina. Ada sebuah halaman luas di bagian muka rumah. Dua anjing berjaga di situ. Seorang perempuan keluar. Ia lebih muda dari kakek, tapi rambutnya tak kalah memutih.

    Dia bukan istri kakek itu, katanya. Dialah penjaga rumah sekaligus penjaga sang kakek. "Saya Minuk. Kalau ini namanya Opa Lo. Lo Geng Gwan (menunjuk majikannya)," ujar Minuk, yang katanya sering dipanggil Mbak Minuk. Mbak Minuk sudah 30-an tahun mengabdi dengan keluarga Lo.

    Hampir seluruh bangunan rumah Opa Lo, begitu si kakek itu biasa dipanggil, terbuat dari kayu. Dindingnya dari papan dan catnya berwarna hijau pupus yang sudah pudar. Lantainya terakota. Kursi-kursinya adalah kursi sedan yang terbuat dari rotan.

    Di dinding papan itu berjajar foto-foto keluarga Opa Lo. Ada juga foto Opa Lo saat muda dengan rambut masih gondrong. "Dulu aku gagah dan bandel. Kerjaku jadi sopir dari Semarang-Surabaya," kata Opa Lo.

    Foto-foto itu sudah berjamur. Usianya mungkin sudah puluhan tahun. Setara dengan usia Opa Lo yang telah berkepala sembilan. Bahkan ada foto yang lebih tua, yakni foto ngkong alias kakek Opa Lo, Lim. Dulu, rumah ini milik Ngkong Lim dan diteruskan ke anak-cucunya. Usia rumah itu diprediksi ratusan tahun. 

    Mbak Minuk dan Opa Lo mengajak saya masuk. Di dalam rumah itu berserakan benda-benda kuno. Hampir semuanya usang: guci sembahyang yang sudah mengelupas catnya, tempat tidur berornamen Cina lengkap dengan kelambu yang telah memudar warnanya, dan teve zaman baheula.

    Seperti rumah khas Cina, ruang bagian tengah dipakai untuk sembahyang. Ada wadah tatakan dupa di sana. Di bagian belakang rumah terdapat beranda beratap rendah dan tempat tidur kayu. Opa Lo dan Mbak Minuk kerap menghabiskan waktu mengobrol di sini. Mbak Minum memasak di dapur samping beranda, sedangkan Opa Lo bernostalgia mengingat masa kejayaan keluarganya pada era awal 1930-an.

    Tempat tidur yang berada di rumah Opa Lo Gwen Gang yang berada di Dusun Karangturi, Lasem, Kabupaten Rembang. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    "Dulu rumah ini dipakai untuk membatik," kata Opa Lo. Tangan Opa menunjuk halaman belakang yang luas dan ditanami pepohonan. "Enggak ada pohon-pohon itu. Tanah itu lapang untuk proses bikin batik," ujarnya. Opa tak ingat pasti kapan keluarganya tak lagi membatik. Namun ia menandai pada masa Orde Baru.

    Selain batik, keluarga Lo membuat kecap dan tauco. Mbak Minuk, yang mulai mengabdi pada 1977, masih ikut membantu keluarga Opa Lo memproduksi kecap dan tauco. Hasilnya dijual di pasar. Namun sekarang sudah tak lagi.  

    Penyokong hidup Opa Lo kini adalah ponakannya yang tak tinggal di situ. Ia juga yang menggaji Mbak Minuk.

    Opa Lo adalah salah satu sosok tertua yang masih bertahan di kawasan pecinan Lasem.
    Rumahnya adalah museum tak resmi, berikut saksi bisu. Bangunan itu menyimpan benda-benda yang bercerita dan mesin waktu yang akan membawa orang-orang yang datang tiba di masa dulu, di masa lalu.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.