Berwisata ke Cina? Waspadai Jebakan Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wisatawan naik kereta kuda, mengelilingi bangunan-bangunan es di Festiva Es dan Salju Internasional yang berlangsung di Harbin, Cina, (5/1).  REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Seorang wisatawan naik kereta kuda, mengelilingi bangunan-bangunan es di Festiva Es dan Salju Internasional yang berlangsung di Harbin, Cina, (5/1). REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Beijing - Cina adalah salah satu tujuan wisata menarik di Asia. Namun selain mendapatkan keramahan khas Asia, turis asing kerap menjadi objek untuk diperas kantongnya.

    Forum pembaca di situs China Daily berbagi pengalaman pribadi mereka yang pernah melancong ke negeri Tirai Bambu itu mengenai jebakan gaya Cina terhadap wisatawan, terutama wisatawan asing.

    Salah satu turis asal Singapura dalam forum itu berbagi pengalaman bagaimana ia dipaksa untuk singgah dan membeli makanan di resor wisata di Kota Sanya di Pulau Hainan. "Mereka menggunakan taktik tangan besi untuk memaksa pengunjung memesan makanan mereka," katanya, yang menulis identitas dirinya sebagai Dragon8.

    Ia mencontohkan, untuk memesan menu ikan, besarnya harga ditentukan oleh berat ikan. Namun ketika dirinya baru bertanya berapa harganya, sang pedagang langsung membanting ikan ke lantai dan mengutip bayaran.

    Jebakan di rumah makan juga terjadi di Gunung Wutai. "Anda memesan dari menu dengan harga rendah tetapi ketika Anda menuju kasir, harganya sudah berlipat," katanya. Ia menyarankan, sebaiknya meminta pelayan untuk menuliskan harga pada formulir pemesanan dan meninggalkan salinannya di atas meja.

    Berikut ini jebakan lain yang biasa dialami turis asing di Cina:

    1. Tur tembikar

    Biasanya dilakukan para pemandu wisata di sekitar Beijing. Wisatawan diajak tur ke pusat kerajinan tembikar. Awalnya, mereka diajak melihat-lihat, namun kemudian diarahkan ke ruang pamer dan ditodong untuk membelinya.  

    2. Pemerasan oleh pemandu wisata

    "Ini adalah perangkap wisata paling mengerikan yang pernah saya alami," ujar seorang pembaca di forum diskusi China Daily. Ia menyebut, oknum pemandu wisata di Cina bak perampok atau gangster. Ia menceritakan pengalamannya menggunakan jasa pemandu untuk menuju ke Tembok Besar Cina. Namun, sang pemandu membawanya juga ke tempat lain, termasuk ke pemakaman Dinasti Ming, tetapi hanya membiarkan Anda melihat sekilas melalui jendela bus. "Setelah itu, mereka menggiring wisatawan ke pusat oleh-oleh dan mendorong mereka untuk membeli, membeli, dan membeli," katanya.

    Pembaca berisial NTM2322 asal Inggris menyatakan Beijing jauh lebih indah tanpa harus diantar pemandu. Anda bisa leluasa menikmati makanan khas Beijing, pentas budaya, pusat perbelanjaan, dan lain-lain, yang oleh pemandu wisata lokal, justru dihindari.

    3. Jebakan sopir taksi

    Zakoi asal Spanyol mengungkapkan pengalamannya ditipu sopir taksi di Cina. Pada tahun 2010, ia naik taksi dari Nanjing Road ke Shanghai South Railway Station. "Tarif meteran bergerak lebih cepat dari kecepatan normal. Setelah sampai di stasiun, ia meminta saya 378 RMB, jauh lebih tinggi dari biaya normal," katanya. Di Cina, banyak taksi menggunakan argo kuda dan sopir tembak. Maka tak ada saran lain selain berhati-hati atau pilih kendaraan umum saja. Atau, cari tahu tarif rata-rata dan tahu rute yang akan diambil sehingga tidak dipermainkan sang sopir.

    4. Tidak ada diskon untuk orang asing

    Asal tahu saja, di Cina, segigih apa pun Anda menawar, harga yang diberikan bagi turis asing tetap lebih tinggi dari harga yang sebenarnya!

    CHINA DAILY | INDAH P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.