Ada PSBB II, Begini Cara Menikmati Kebun Raya Bogor

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. TEMPO/Frannoto

    Pengunjung di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di Bogor, tak meungkinkan warga pelesiran ke Kebun Raya bogor. Tak kurang akal, pengelola objek wisata Kebun Raya Bogor menggelar tur secara daring melalui layanan Live Instagram, Kamis, 28 Mei 2020.

    Tur ini seperti menjadi pengobat rindu bagi masyarakat, yang saat libur Lebaran tak bisa menyambangi destinasi itu akibat COVID-19. Pantauan TEMPO, acara bertajuk "Virtual Tour de Kebun Raya" yang digelar mulai pukul 11.00- 11.30.WIB itu, diikuti hampir 100 peserta.

    Selama kurang lebih setengah jam, peserta diajak berkeliling ke sejumlah spot menarik di area yang luasnya mencapai 87 hektar dan memiliki 15 ribu jenis koleksi pohon dan tumbuhan itu.

    Di tiap spot, peserta mendapat penjelasan riwayat singkat dari setiap titik yang disambangi oleh seorang pemandu bernama Ardi.

    Mula-mula di awal tur, pemandu mengajak peserta tur virtual menikmati pemandangan di salah satu spot favorit bernama Taman Sudjana Kassan, atau juga biasa disebut taman Bhineka.

    Taman yang di tengahnya terdapat replika Gurung Garuda itu, ditanami jenis tanaman perdu yang dibangun pada tanggal 18 Mei 1985. Sesuai namanya, teman tersebut dibangun sebagai penghargaan terhadap Sudjana Kassan. Ia adalah kurator Kebun Raya Bogor tahun 1949 – 1959 yang menjadi orang Indonesia pertama menjabat sebagai direktur Kebun Raya Bogor 1959 – 1969.

    "Taman ini sering dipakai untuk acara keluarga, reunian, ulangtahun, dan pre-wedding karena memiliki latar hijau nan indah," ujar Ardi. Dari Taman Sudjana Kassan, pemandu mengajak peserta melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya.

    Usai menyibak rindangnya pepohonan, dengan sulur-sulur khas tanaman gantung, yang diselingi bunga warna warni mirip alam liar, sampailah tur ke spot kedua. Berupa tempat pembibitan dan reproduksi tanaman langka.

    Ardi mengatakan di lokasi itu, jenis tanaman langka seperti Padma (Rafflesia patma) juga ada. Padma merupakan spesies tanaman parasit dari genus Rafflesia yang pertama kali ditemukan di Nusakambangan.

    Sayangnya, pemandu hanya menunjukkan lokasi itu dari luar pagar. Tidak sampai masuk ke dalam sehingga tidak diketahui persis seperti apa pemandangannya.

    Beberapa langkah dari lokasi reporduksi tanaman langka itu terdapat sebuah pohon beringin tua yang dipercaya ditanam langsung presiden RI pertama Soekarno.

    Suara gemuruh air sungai Ciliwung menyambut, ketika pemandu menapaki sebuah jembatan bernama Surya Lembayung yang diresmikan presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri Mei 2002 silam. Sungai Ciliwung sendiri membagi Kebun Raya Bogor menjadi zona utara dan selatan.

    "Ada empat jembatan yang ada di Kebun Raya Bogor, namun yang paling favorit untuk berfoto adalah jembatan gantung bernama Jembatan Merah" ujar Ardi.

    Selain itu spot-spot lain yang tak kalah indah dan unik di Kebun Raya Bogor itu juga diulas. Seperti spot yang ditumbuhi tanaman bergetah dari suku ara-araan atau Moraceae. Contohnya pohon nangka.

    Juga menyambangi Pohon Jodoh, sebutan untuk dua pohon besar berbeda jenis yang tumbuhnya bersamaan. Satu merupakan pohon meranti tembaga (Shorea leprosula. Miq.) asal Sumatra dan satu lagi beringin putih (Ficus benjamina, L.) yang berasal dari Thailand.

    "Mitosnya, bagi laki laki dan perempuan yang belum punya pasangan, kalau bertemu dan berkenalan di area Pohon Jodoh ini maka bisa berjodoh," ujar Ardi.

    Tur itu sendiri ditutup dengan menyambangi Monumen Kelapa Sawit, yang terletak tak jauh dari area pohon jambu-jambuan. Monumen yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Maret 2018 itu, dihiasi dengan sebuah tugu replika plasma nutfah kelapa sawit asli Indonesia.

    Ardi pramusiwata yang mendampingi netizen saat tur virtual menjelaskan mengenai pohon jodoh. Foto: TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Monumen itu dibangun karena sejarahnya induk benih kelapa sawit tertua di Asia Tenggara ditanam di Kebun Raya Bogor itu pada tahun 1848, setelah didatangkan sebanyak empat benih saja dari Afrika Barat.

    "Jadi kelapa sawit yang tersebar sekarang di Indonesia juga Asia Tenggara itu anakan dari kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor ini," ujar Ardi.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    18 Lembaga akan Dibubarkan Jokowi, Moeldoko Singgung 3

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebut akan ada 18 lembaga yang akan dibubarkan. Di kesempatan lain, Moeldoko singgung 3 lembaga.