Nepal: Prostitusi, Korupsi dan Revolusi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana toko oleh-oleh di Thamel, Nepal. (Foto: Dokumentasi Tim WISSEMU)

    Suasana toko oleh-oleh di Thamel, Nepal. (Foto: Dokumentasi Tim WISSEMU)

    TEMPO.CO, JakartaNepal negara yang memikat. Bukan hanya karena memiliki puncak Everest, satu-satunya mahluk tertinggi di planet bumi, tapi juga imaji yang berkembang tentang kebudayaan, revolusi yang tak kunjung selesai, dan dunia relijius yang membetot generasi baru penyuka 'New Age'.

    Nepal mengisi imaji mereka yang mencari makna hidup dan bertualang. Nepal adalah Kathmandu, dan Kathmandu adalah Thamel. Thamel sebuah jantung kota yang berdetak kencang, memompa darah kota ini dengan kerlip bintang di langit bar-bar dan panti pijat, uap dupa, debu dan kemiskinan.

    Thamel adalah kawasan di Kathamandu yang merupakan pusat turisme. Menjadi persinggahan pertama sebelum semua pelancong, wisatawan, dan para pendaki hebat kelas dunia menjelajahi puncak-pucak gunung tertinggi di Nepal. Thamel menyajikan dua panggung kehidupan: di panggung depan adalah etalase kebudayaan Nepal yang serba berwarna dan menakjubkan.

    Selepas embun menguap, sebelum debu mengambil alih udara kota, kota ini akan dipenuhi harum dupa dan rempah-rempah yang dibakar di depan pintu rumah, serta kuil-kuil kecil yang tersebar di tiap sudut jalan Kathmandu. Orang-orang keluar, memulai hidup dengan puja dan sesembahan untuk Buddha dan para dewa.

    Suasana di sekitar kuil Hindhu di kawasan Kota Tua Kathmandu, Nepal. Foto: Robertus Robert

    Di panggung belakang, Thamel menyajikan kehidupan fantasmatis yang penuh gelegak, birahi, kemiskinan dan keterbelakangan. Penulis dan wartawan Nepal Rabi Thapa, mengatakan bahwa Thamel memiliki tiga lapisan kehidupan: lapisan pertama diwakili oleh hotel-hotel, kios-kios dan toko yang memuaskan para wisatawan, pasangan-pasangan berbulan madu, dan keluarga baik-baik yang terpikat oleh kebudayaan Nepal.

    Lapisan kedua adalah restoran-restoran dan kafe-kafe, karaoke yang menjadi tujuan anak-anak muda Kathmandu menghabiskan malam minggu mereka dengan musik yang serba kencang. Kalau Anda ingin mengetahui siapa anak muda perkotaan kelas menengah Nepal, keluarlah dari hotel dan tengoklah jalan-jalan di sepanjang Thamel, tepatnya pada dinihari di malam minggu. Anda akan menyaksikan barisan anak-anak muda setengah mabuk, lelaki dan perempuan dengan percakapan yang riuh, pakaian dan rambut ala pemuda-pemuda di London keluar dari bar-bar yang menyajikan live music, karaoke, dan alkohol.

    Lapisan ketiga, bar-bar tarian, panti pijat dan warung-warung kecil yang memuaskan kebutuhan seks para pelancong sampai pebisnis yang datang dari pelbagai negara sekitar Nepal. Prostitusi secara hukum dilarang di Nepal. Tapi seperti halnya di banyak negara lain, ia tidak pernah bisa dihilangkan, malah semakin membesar di Nepal.

    Penelitian yang dipublikasikan The Himalayan Times pada 17 Februari 2017 menunjukkan, terdapat sekitar 43.829 hingga 54.197 pekerja seks perempuan dan sekitar 15.941 hingga 20.625 pekerja seks laki-laki di seluruh Nepal. Angka ini kebanyakan berasal dari gadis-gadis miskin yang terlempar sebagai pekerja seks di rumah-rumah bordil di India atau kawasan-kawasan bisnis lain di Nepal, seperti Pokhara dan Itahari, kota penghubung Nepal dengan India.

    Sementara untuk Kathmandu saja, di awal tahun 1990-an, diperkirakan hanya ada sekitar 3.500 hingga 5.000 pekerja seks yang bekerja secara penuh waktu. Angka ini membengkak sekitar dua puluh tahun kemudian. Pada 2017 diperkirakan terdapat sekitar 9.789 hingga 11.670 pekerja seks perempuan di Kathmandu, dan terpusat di Thamel.

    (Kiri) Suasana jalan utama di Thamel, Nepal, yang dibidik dari atas penginapan dan sebuah lorong pertokoan yang tenang di kawasan Thamel, Kathmandu. Foto: Robertus Robert

    Thamel adalah pusat bisnis prostitusi di Kathmandu. Restoran, bar, bahkan warung-warung kecil yang tersempil di gang-gang Thamel berfungsi sebagai 'pick-up' points atau etalase depan dari postitusi yang terorganisi. Prostitusi memang ilegal di sana. Polisi pun berpatroli setiap jam dengan berjalan kaki di tiap persimpangan Thamel.

    Penelitian lembaga nirlaba The Freedom Fund di tahun 2018 menyebutkan ada beberapa tempat di mana seks diperdagangkan di Thamel. Pertama, di panti-panti pijat dan spa (massage parlour) yang tersebar di hampir tiap jengkal Thamel. Jadi, kalau Anda iseng-iseng berjalan di lorong Thamel entah untuk sekedar ngopi atau mencari oleh-oleh, sudah pasti akan dihampiri oleh 'gate keeper' yang biasanya laki-laki yang aktif memberikan selebran layanan pijat tradisional. Sudah menjadi rahasia umum tempat-tempat pijat menyediakan layanan seks.

    Kedua, restoran-restoran dengan bilik-bilik (Cabin Restaurant). Restoran ini memiliki ruang yang disekat-sekat untuk memberikan privasi bagi tamu. Restoran semacam ini, kebanyakan berada di lantai dua ruko dan kios-kios di sepanjang Thamel. Ketiga, dance bar. Tempat hiburan dengan fasilitas utama panggung lebar dan tiang besi yang untuk pertunjukan tarian semi-striptease. Tempat ini biasanya menjadi 'pick up points' di mana pekerja seks dipesan untuk kemudian diantarkan ke hotel atau homestay yang berjarak kurang dari 10 menit.

    Tempat prostitusi terselubung yang keempat, bisa ditemukan di dohori restaurant. Ini adalah restoran yang secara khusus menyediakan makanan dengan hiburan khas Nepal, yakni lagu dan tarian tradisional. Dohori biasanya menyediakan layanan yang sopan untuk keluarga dan kelompok wisatawan. Namun sebagian dohori juga menarik minat para pengunjung laki-laki dengan menyediakan 'teman' duduk dan ngobrol.

    Ada banyak juga khaja gar alias warung yang menyediakan minuman beralkohol dan makanan kecil di mana pelayananya sekaligus memberikan layanan seks. Kelima, sering juga para operator pendakian lokal mencoba menawarkan kepada kliennya layanan seks dari gadis-gadis lokal dengan harga mulai dari 2.000 sampai 10.000 rupee.

    Suasana di salah satu sudut Thamel, Kathmandu, Nepal. Foto: Robertus Robet

    Meski Kathmandu, kota yang didominasi pendatang dan turisme menjadi sumber ekonomi yang kuat, pertumbuhan bisnis prostitusi di Kathmandu lebih banyak didorong oleh dinamika dan permintaan lokal. Penelitian dari Liechty (1996) menyebutkan pada mulanya kebanyakan pelanggan prostitusi Thamel adalah para lelaki dari wilayah Selatan terutama India.

    Liechty mengungkapkan, secara historis, para elit kerajaan di Nepal di sekitar tahun 1950-an, punya kebiasaan untuk mendapatkan sesembahan gadis-gadis dari para pimpnan-pimpinan desa-desa di Nepal. Seringkali oleh para elit kerajaan, gadis-gadis itu 'dipersembahkan' lagi untuk tamu dan kolega mereka yang berasal dari India.

    Praktik semacam ini yang turut membentuk migrasi orang-orang miskin dari desa-desa di Nepal untuk masuk ke dalam prostitusi di kota-kota besar. Bisnis prostitusi meningkat secara paralel dengan pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya lalu lintas keuangan di perkotaan yang dimulai sejak tahun 1970-an.

    Turisme terutama dengan meningkatnya jumlah para ekspatriat dan pebisnis juga berkontribusi terhadap bertambahnya permintaan akan bisnis prostitusi. Hal ini terjadi karena 'budaya bisnis lokal' juga menopang prostitusi: ada kebiasaan di Kathmandu untuk menyediakan jasa prostitusi sebagai bagian dari negosiasi bisnis dan 'deal-making'.

    Turis dan wisatawan bukanlah pelanggan utama bisnis seks di Thamel, setidaknya hingga awal tahun 2000an awal. Salah satu sebab para wisatawan negara-negara barat kurang berminat pada layanan prostitusi Thamel adalah, konon bagi mereka seks bukanlah bagian dari fantasi petualangan tentang Nepal.

    Gunung-gunung mengalahkan imaji tentang seks. Ini riset yang dilakukan di penghujung tahun 1990-an. Riset terbaru memperlihatkan data yang kurang lebih sama. Penelitian yang dilakukan oleh The Freedom Fund di tahun 2018 menunjukkan kebanyakan pelanggan prostitusi di Thamel adalah lelaki berusia antara 21 sampai 35 tahun.

    Kebanyakan mereka berasal dari kalangan professional Kathmandu, para pegawai negeri dan aparat keamanan, mahasiswa dan pelajar. Dua pertiga dari pelanggan adalah penduduk Kathmandu dan sekitarnya, sepertiga pelanggan berasal dari luar Kathmandu dan para turis.

    Kemiskinan adalah pendorong utama pekerja seks di Nepal. Menurut survey 2017, penduduk Nepal berkisar 29,3 juta orang, dan lebih dari 25 persen hidup di bawah garis kemiskinan. Nepal adalah negara yang secara demografis terkunci oleh Cina dan India. Di sisi lain daratannya yang didominasi gunung, menjadikan negara ini sulit mengembangkan pertanian dan perkebunan dan bergantung pada industri pariwisata.

    Survei tahun 2016 menunjukkan sekitar 5 juta penduduknya hidup dalam kekurangan gizi. Kemiskinan pula yang memicu tingkat kematian bayi di negara ini sangat tingggi: dari 1000 kelahiran, sekitar 35 anak meninggal di masa balita. Di desa-desa yang jauh, sebuah keluarga bahkan bisa menyerahkan anak gadisnya untuk dinikahi orang yang sama sekali asing dengan 'harga' sekitar USD 200. Itu sudah termasuk ongkos 'budaya' seperti sedikit acara adat untuk sekedar meresmikan perubahan status si anak gadis.

    Di daerah-daerah di mana prostitusi terjadi lebih luas seperti Itahari, seorang pekerja seks mendapatkan penghasilan berkisar antara 2.000 hingga 5.000 Rupee (sekitar Rp 200 sampai 500 ribu) per minggu. Begitu yang tertera di Global Press Journal edisi 9 November 2016.

    Faktor lain yang mendorong kemiskinan dan meluasnya prostitusi dan perdagangan manusia adalah lemahnya perlindungan terhadap perempuan dan anak. Nepal adalah negara yang terus dilanda revolusi sosial, termasuk revolsusi kiri kaum Maois di tahun 1990-an. Bahkan sebuah revolusi Maois sekalipun tak mampu menghapus sistem kasta di negara itu. Sistem kasta membelenggu dan merendahkan posisi perempuan, terutama perempuan miskin di kasta yang rendah seperti kasta Dalit.

    Ditambah lagi dengan korupsi yang merajalela. Di tahun 2019, Survey Transparansei International tentang indeks korupsi menyebutkan dari 175 negara, Nepal berada di negara dengan peringkat 122. Nepali Times pada 7 Desember 2018 mengungkapkan dari 715 orang yang melamar sebagai pegawai negeri di Kathmandu dan Lalitpur, sebanyak 504 diantaranya mengaku harus menyuap untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara di daerah lain di Dili Bazar, 34 dari 45 orang calon pegawai diminta uang suap untuk bisa terdaftar sebagai calon pegawai.

    Di sudut Thamel, dalam sebuah kafe yang terlindung dari debu dan keriuhan, seorang pelayannya bercerita untuk bekerja 8 jam sehari, ia mendapat gaji sekitar USD 100 per bulan. Separuh dari pengasilan itu habis untuk membayar sewa kamar. Tentu sulit untuk hidup di Kathmandu dengan uang USD 50 (sekitar Rp 700 ribu) sebulan.

    Agar dapat hidup layak, dia mesti bekerja 16 jam per hari. Dia berkata, kalau mau hidup enak, jadilah pegawai negeri atau politikus. Pekerjaan yang tak mungkin dilakoni karena biaya suapnya mustahil terpehuhi. Juga kepada revolusi, pelayan itu sudah tidak berharap lagi. Revolusi-revolusi yang terjadi pada akhirnya hanya menghasilkan politikus yang sama saja.

    ROBERTUS ROBERT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.