Mencicipi Restoran Uighur di London, Porsi Besar Harga Terjangkau

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menu big plate chicken di Restoran Silk Road, London, Inggris. Big plate chicken merupakan salah satu makanan populer di Xinjiang, berupa sup ayam dengan kentang rebus dan mi yang dipotong selebar ikat pinggang. TEMPO | Wayan Agus Purnomo

    Menu big plate chicken di Restoran Silk Road, London, Inggris. Big plate chicken merupakan salah satu makanan populer di Xinjiang, berupa sup ayam dengan kentang rebus dan mi yang dipotong selebar ikat pinggang. TEMPO | Wayan Agus Purnomo

    TEMPO.CO, London - Restoran Cina tak ada dalam rencana saya pada akhir pekan lalu di London, Inggris. Namun pertemuan dengan Sadika Hamid, aktivis Amnesty Indonesia mengubah rencana akhir pekan saya. Awalnya kami hendak berbincang sembari mencari kopi terbaik di pusat kota London. Namun rencana itu berubah karena ketika kami bersua, saat hari telah beranjak petang. “Katanya ada restoran Uighur yang enak,” kata Sadika. Dia menunjuk Aghniadi Adi, rekannya di Amnesty Indonesia.

    Baca: Belum Makan Nasi? Coba Menu Baru dari Restoran yang Satu Ini

    Sadika pernah bekerja selama lebih dari sembilan tahun di Tempo sementara Adi pernah menjadi peserta pelatihan Tempo Institute. Setelah menjalani pelatihan, Adi kemudian magang di redaksi Tempo. Keduanya kini bekerja di Amnesty Indonesia. Kami, bersama seorang penerima beasiswa Chevening, Duhita Primandhira, awalnya janjian di Tate Modern, sebuah museum seni modern di pinggir River Thames, London. Sadika juga penerima beasiswa Chevening tahun 2015. Jadilah pertemuan sore itu semacam reuni untuk kami. Karena hari sudah beranjak petang, mereka mengusulkan untuk makan malam lebih awal.

    “Restoran ini direkomendasikan oleh New Yorker,” kata Adi meyakinkan kami. Restoran yang akan kami datangi bernama Silk Road. Restoran ini terletak di 49 Camberwell Church St, London bagian selatan. “Sebagai orang yang bergelut di bidang hak asasi, tidak ada salahnya mencoba restoran ini,” kata Adi berkelakar. “Kalau restorannya tidak enak, lo tanggung jawab, ya Di,” kata Sadika menakut-nakuti rekannya itu.

    Xinjiang menjadi perhatian bagi pegiat hak asasi manusia di seluruh dunia belakangan ini. Provinsi Xinjiang di Cina merupakan daerah di Cina yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Daerah ini berbatasan dengan sejumlah negara di Eropa Timur dan Afganistan. Pemerintah Cina kerap dikritik dalam memperlakukan kelompok Islam di Uighur karena kerap menahan mereka di kamp-kamp khusus.

    Seperti restoran Cina pada umumnya di Inggris, Silk Road hanya menerima pembayaran secara tunai. Di Trip Advisor, restoran ini mendapatkan rating 4,5 skala 5. Sebanyak 247 orang telah menuliskan review untuk restoran ini. Ketika kami datang, restoran ini sebenarnya relatif sepi. Maklum, baru pukul empat sore. Seorang pelayan mengatakan, kami bisa makan asal rampung sebelum pukul 18.15. Kami mengiyakan permintaan ini, selain memang karena tidak punya pilihan juga. Maklum, perut sudah keroncongan.

    Restoran Silk Road di 49 Camberwell Church St, London bagian selatan. TEMPO | Wayan Agus Purnomo

    Kami memesan empat menu hari itu: big plate chicken, xinjiang lamb shish, double cooked pork dan lamb slice with spring onion. Big plate chicken, merupakan salah satu makanan populer di Xinjiang, berupa sup ayam dengan kentang rebus dan mi yang dipotong selebar ikat pinggang. Di menu, ada keterangan belt noodle. Kami memesan lamb slice karena Adi tak makan babi.

    Adapun Xinjiang lamb shish merupakan sate domba yang dibumbui dengan merica dan bubuk cabe. Duhita mengatakan, shish biasanya datang dari Turki, bukan dari daratan Cina. “Rasanya tajam dengan jintan dan cayenne pepper,” kata mahasiswi jurusan Anthropology and Development di the London School of Economics and Political Science tersebut.

    Baca juga:
    Ini Deretan Bisnis Seungri BIGBANG, Restoran Ramen Paling Populer

    Ketika mencicipi kuah sup ayam ini, seketika rasa semringah terpancar dari wajah kami semua. Satu porsi plate chicken disajikan dalam porsi yang berlebihan untuk ukuran perut orang Indonesia. Duhita mengatakan, big plate chicken layaknya makanan utama yang disajikan untuk makanan tengah. Menurut perempuan berusia 27 tahun ini, rasa sup itu seperti sup Mongolia dengan warna dan rasa yang lebih ringan. “Tipe makanannya tidak seperti masakan Cina yang biasanya ada di pusat kota London,” kata Duhita.

    Menu xinjiang lamb shish dan lamb slice with spring onion di Restoran Silk Road, Londo, Inggris. TEMPO | Wayan Agus Purnomo

    Kami mesti terengah-engah menuntaskan daging ayam yang dipotong dengan ukuran setengah telapak tangan. Saya bahkan perlu memberikan jeda untuk mengisi rongga-rongga kosong di dalam perut. Namun, kami menyerah. Kami tak mampu menghabiskan potongan kentang dan mi yang disajikan. Saya berpikir, satu porsi plate chicken bisa disantap oleh lima orang perut ukuran Indonesia. “Terlalu banyak kentang,” kata Duhita.

    Tidak salah memang restoran ini direkomendasikan oleh media ternama. Tidak sia-sia pula kami menempuh perjalan selama hampir satu jam dari pusat kota London untuk mencapai restoran ini. Yang menggembirakan kami, total uang yang mesti kami keluarkan sore itu hanya £34 pound untuk seluruh menu. Harga ini relatif murah untuk makanan di London yang satu porsinya rata-rata di atas £10. “Empat menu besar dengan harga kurang dari £10 adalah keistimewaan di kota seperti London,” kata Duhita.

    Saat kami beranjak pergi, pelan-pelan seluruh meja di restoran ini terisi oleh pengunjung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    3 Calon Ketua Umum PPP Pengganti Romahurmuziy yang Ditangkap KPK

    Partai Persatuan Pembangunan menggelar musyawarah kerja nasional di Bogor, 20 Maret 2019. Hal itu dilakukan untuk mencari pengganti Romahurmurziy