Sabtu, 18 Agustus 2018

Kedai Jeng Hai Lasem, Favorit Traveler dan Warga Beragam Kalangan

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampakan warung kopi Jeng Hai Lasem di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Penampakan warung kopi Jeng Hai Lasem di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Penampakannya biasa saja, hanya warung kopi dengan bangunan sederhana. Tak ada mesin giling, interior retro, apalagi kursi-kursi industrial seperti layaknya tempat nongkrong kekinian di Ibu Kota. Namun, hampir setiap hari para wisatawan dan orang berbagai latar belakang tak pernah absen bertandang ke Warung Kopi Jeng Hai di Desa Karangturi, Lasem, Jawa Tengah.

    Warung Kopi Jeng Hai kesohor sebagai tempat ngopi favorit pelancong di kawasanan pecinan pantai utara itu. Si empunya, Hai, adalah keturunan kedua dari pemilik pertama kedai Jeng Hai. Ruang seduh sederhana itu telah berdiri sejak 1965. “Dulu bentuknya bukan bangunan permanen. Hanya gubuk yang berdiri di bawah pohon talok (ceri Jawa),” katanya saat ditemui Tempo di Lasem, Juli lalu.

    Warung Jeng Hai pertama kali dipopulerkan oleh pemerhati budaya Cina sekaligus dosen Sastra Cina Universitas Indonesia, Agni Malagina, bersama komunitas pegiat wisata Lasem, yakni Kesengsem Lasem. Dua tahun lalu, Agni dan komunitas itu menyambangi warung ini dan menemukan keistimewaannya.

    Kata Agni yang kala itu ditemui di Lasem, warung milik Hai menjual kopi lokal yang otentik dengan harga sangat murah. Benar saja, kopi yang dijajakan adalah kopi lelet seharga Rp 3.000 per gelas.

    Kopi lelet adalah kopi robusta yang digiling halus. Proses penggilingannya sampai tujuh kali hingga bubuk kopi benar-benar lembut seperti bedak. Umumnya, kopi lelet digiling demikian supaya ampasnya bisa dipakai untuk membatik pada rokok. Kegiatan ini lazim dilakukan penduduk lokal dan sudah melekat menjadi budaya turun-temurun.

    Kedai kopi sederhana ini tak cuma menjual kopi khas. Namun juga menyatukan semua lapisan masyarakat. Interaksi horisontal antar-warga dari berbagai latar belakang terjadi renyah saban pagi hingga sore. Warga masyarakat yang nongkrong di sini memiliki profesi beragam.Warga berabagai kalangan datang dan mengobrol di kedai Jeng Hai Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Juli 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Ada pengacara daerah, pemuka agama Islam sekaligus pemilik pesantren, juga pemuka agama Buddha. Lalu ada pemilik usaha batik terbesar di Lasem, pemilik penginapan, petani, buruh pabrik. Ditambah lagi wisatawan yang datang dari berbagai daerah.

    Di dalam warung itu, beragam obrolan diramu. Waktu itu, mereka tengah mengobrol soal panen garam yang meningkat karena waktu kemarau lebih panjang tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Juga membicarakan bintang film yang kebetulan sedang syuting di Lasem.

    Sambil menyeruput kopi, para pengunjung menikmati beragam jajanan khas Lasem yang sudah disediakan oleh Hai. Para tamunya bisa memilih sesuai dengan selera. Ada tahu isi bihun, lalu tempe kemul. Ada juga ketan srundeng yang sudah mulai langka di pasar.

    Warung ini buka saban hari setiap pagi pukul 05.00 hingga malam pukul 19.00-an. Namun khusus Minggu, warung hanya buka sampai siang. Sedangkan untuk menuju ke sini, wisatawan bisa berjalan kaki menuju area Tiongkok Kecil dari pusat Kota Lasem.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.