Sabtu, 26 Mei 2018

Belum Tertangani, Sampah di Pulau Komodo Jadi Perhatian UNESCO

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komodo betina sedang menunggui sarangnya di Pulau Rinca, Labuan Bajo, NTT. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Komodo betina sedang menunggui sarangnya di Pulau Rinca, Labuan Bajo, NTT. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Kupang - Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur Abed Frans mengemukakan sampah di kawasan Taman Nasional Komodo sudah disoroti Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

    "Selama ini, wisatawan asing memang mengeluh soal sampah di Komodo. Masalahnya, sampai sekarang belum teratasi juga sehingga UNESCO pun mulai menyoroti," kata Abed di Kupang, Senin, 23 April 2018.

    Ia menjelaskan, para wisatawan yang menyelam di perairan Taman Nasional Komodo banyak menemukan sampah. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang masih bersih. "Kasihan wisatawan yang spesialis menyelam dan berselancar. Bukannya pemandangan bawah laut indah yang mereka dapati, tapi sampah dan kerusakan ekosistem," kata Abed.

    Abed khawatir, jika persoalan ini tidak ditangani lebih serius oleh pemerintah daerah dan otoritas terkait, kerusakan lingkungan laut di kawasan wisata itu akan mencapai titik kritis.

    Abed meminta pengawasan intensif terhadap kawasan perairan serta penerapan aturan yang tegas terhadap aktivitas nelayan yang tidak ramah lingkungan. "Ini bukan lagi persoalan sepele, mengingat dunia pun sudah menyoroti."

    Ia memastikan ASITA sebagai bagian dari pelaku wisata siap membantu otoritas terkait untuk penanganan masalah sampah di Taman Nasional Komodo. "Melalui perwakilan kami di Manggarai Barat bersama himpunan pramuwisata setempat siap membantu penanganan sampah ini," katanya.

    Persoalan ini sebenarnya juga sudah menjadi perhatian Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kementerian pernah melaksanakan kegiatan Gerakan Cinta Laut (GITA LAUT) dengan melakukan gerakan bersih pantai dan laut di Labuan Bajo, September 2017.

     “Isu pencemaran sampah di Labuan Bajo perlu menjadi perhatian kita bersama,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Satyamurti Poerwadi, seperti dikutip dari siaran pers Kementerian, Sabtu, 30 September 2017.

    Ia menjelaskan dampak dari tercemarnya tempat tersebut adalah terganggunya pengembangan industri pariwisata di Pulau Bajo. “Terlebih lagi lokasi tersebut merupakan tempat Pulau Komodo, yang saat ini menjadi ikon pariwisata dunia.”

    ANTARA | M. JULNIS FIRMANSYAH

    Artikel lain: Menikmati Mekar Bunga Verbana di Oro-oro Gunung Semeru

     


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia 2018

    Persatuan Bulu Tangkis Indonesia mengumumkan tim Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas dan Uber, digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018.