Jumat, 20 Juli 2018

3 Telaga yang Lekat dengan Cerita Wali di Kabupaten Kuningan

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Telaga Biru Cigaru

    Telaga Biru Cigaru

    TEMPO.CO, Kuningan – Di Puncak Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sunan Gunung Jati diyakini bertapa, menepi, dan bermunajad pada 1521-1530.

    Hal itu dilakukan menjelang Portugis menekan para ulama dan rakyat kecil. Dia beberapa kali singgah di jalur yang melewati Kuningan, termasuk di telaga-telaga yang kini menjadi ikon wisata di daerah yang terletak di kaki gunung tersebut.

    Baca juga: Puluhan Ekowisata Tumbuh Di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

    Tempo berkesempatan mengunjungi beberapa danau yang konon menjadi tempat yang pernah disinggahi para wali di Kuningan, akhir tahun lalu. Dari perjalanan tersebut, dihimpun beberapa danau yang bisa Anda datangi untuk berwisata.

    1. Telaga Nilem

    Telaga ini merupakan spot vakansi alam yang bisa menjadi salah satu alternatif seusai pelancong “membabat” habis wisata keraton di Kota Cirebon. Jaraknya dengan kota santri itu tak terlampau jauh. Kira-kira 20 kilometer. Umumnya, kalau dijangkau menggunakan kendaraan bermotor, telaga yang masuk kawasan wisata Desa Kaduela tersebut bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit.

    Di areal Taman Nasional Gunung Ciremai, Nilem adalah gerbang pembuka. Sebab, lokasinya berada di paling muka, dekat dengan portal masuk. Umumnya, orang-orang mengunjungi telaga itu pagi-pagi benar. Di sana, mereka bisa melihat danau alami dengan air sangat jernih. Saking jernihnya, biota yang hidup dalam air tampak dari permukaan.

    Para pelancong biasanya memanfaatkan kolam ini buat snorkeling. Tak perlu khawatir bila tak bisa berenang. Di kawasan telaga, terdapat warung-warung yang menyediakan pelampung. Bila tidak membawa baju ganti, pedagang akan menyewakan pakaian renang dengan biaya rata-rata Rp 20 ribu per pasang.

    2. Telaga Remis

    Danau seluas 3,25 hektare yang letaknya tak sampai 500 meter dari Telaga Nilem ini punya lanskap yang menarik. Airnya jernih seperti cermin dan memantulkan bayangan pepohonan. Seakan-akan membentuk pagar alami. Kalau pagi, warga sekitar memancing di sana. Ada macam-macam jenis ikan air tawar yang hidup. Seperti bawal dan nila.

    Menurut kepercayaan warga sekitar, ada juga bulus raksasa yang berdiam di dasar danau. Bulus itu kadang-kadang muncul kalau dipanggil dengan ritual khusus. Bulus disinyalir sebagai penunggu telaga, yang konon adalah jelmaan Pangeran Purabaya, utusan Kerajaan Mataram. Ia dulu dikabarkan berseteru dengan Sultan Matangaji, pemimpin Keraton Cirebon.

    Menjelang siang, pengunjung datang dari berbagai kota. Mereka kebanyakan merupakan rombongan keluarga. Karena itu, di Telaga Remis banyak disediakan wahana untuk anak-anak, seperti sepeda air, bebek-bebekan, dan perahu mini.

    3. Telaga Biru

    Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan Situ Cicerem. Lokasinya masih berada di Kecamatan Pesawahan dengan jarak tempuh kurang lebih 1 kilometer dari Telaga Remis menuju arah Paniis. Telaga ini punya julukan “Si Biru” lantaran warna airnya benar-benar biru. Di dalam danau itu terdapat ribuan ikan bawal hitam dan nila merah.

    Tempat ini dulu dikenal sebagai lokasi singgahnya para wali ketika menyebarkan agama. Karena itu, di sekitar telaga, bisa ditemui rumah-rumah sesepuh. Mereka kabarnya kerap didatangi orang-orang dari kota yang ingin mencari wangsit.

    Di telaga ini pula, menurut warga sekitar, ikan yang hidup dipercaya tak boleh dipancing karena memiliki pertalian dengan hal-hal yang berbau metafisika. Belakangan, Telaga Biru menjadi lokasi incaran para selebgram. Dari atas sebuah batu, mereka bisa berfoto dengan latar kosong berupa telaga, ikan-ikan, dan pagar-pagar pepohonan yang rimbun serta ranum.

    Untuk menuju tiga danau ini, pelancong bisa menempuh perjalanan darat dengan kereta api. Perjalanan dilakukan dari Stasiun Gambir, Jakarta, atau Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Kejaksan atau Prujakan.

    Setelah itu, pelancong dapat menyewa motor dengan tarif Rp 75 ribu per hari atau mobil RP 400 ribu per hari. Waktu terbaik mengunjungi Kuningan ialah awal Juni hingga awal September atau saat curah hujan rendah.

    Artikel Lain: Kuningan Kembangkan Desa Wisata dan Ekraf

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Venna Melinda dan Legislator yang Pindah Partai di Pemilu 2019

    Beberapa politikus pindah partai dalam pendaftaran calon legislator untuk Pemilu 2019 yang berakhir pada 17 Juli 2018. Berikut beberapa di antaranya.