Senin, 17 Desember 2018

Keseruan Warga Naik Kendaraan Tempur di Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menaiki kendaraan tempur dalam peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogya, 4 Maret 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Warga menaiki kendaraan tempur dalam peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogya, 4 Maret 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ribuan warga Yogyakarta dihibur dengan karnaval sejumlah kendaraan tempur dalam puncak peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Minggu pagi, 4 Maret 2018.

    Dalam karnaval itu, sejumlah kendaraan lapis baja dibawa para prajurit TNI melintasi Jalan Malioboro. Kendaraan tempur yang dibawa sedikitnya ada delapan unit. Seperti dua Tank AMX buatan Pindad, Panser Anoa, dan kendaraan tempur lain.

    Baca juga: Rasa Eropa di Kampung Prawirotaman Yogyakarta

    Para wisawatan dan pengunjung yang beruntung pun diperkenankan ikut diajak naik di atas kendaraan lapis baja itu. Bahkan ada yang diajak masuk di samping kemudi.

    “Seneng banget pas kebetulan liburan ke sini terus ada acara ini,” ujar Nurhayati, warga Magelang, Jawa Tengah, yang diajak naik di atas tank AMX bersama suaminya.

    Warga menaiki kendaraan tempur dalam peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogya, 4 Maret 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Iring-iringan kendaraan lapis baja itu pun memasuki halaman Benteng Vredeburg disambut marching band dari SMA Taruna Nusantara. Tak hanya TNI, personel dari kepolisian DIY juga membawa iring-iringan pasukan berkuda mengikuti rombongan di belakang kendaraan lapis baja itu. Di belakang pasukan itu ada ratusan prajurit Keraton Yogyakarta ikut mengawal.

    Tak kalah seru, sebelum pawai kendaraan lapis baja itu melintas, pengunjung Malioboro dan Vredeburg dihibur dengan aksi teatrikal tentang perang Serangan Umum 1 Maret 1949 dari Paguyuban Wehrkreis (Daerah Perlawanan) Yogyakarta di halaman Vredeburg.

    Baca: Tank Bekas Perang Teluk di Irak Dijual Seharga SUV Honda HR-V

    Sedikitnya 200 orang terlibat dengan peran yang terbagi menjadi tentara Belanda dan sebagian menjadi pejuang Indonesia. Bunyi petasan dan peluru hampa membuat suasana menjadi mirip perang sungguhan. Ditambah aksi saling berlarian dan menembak dari para pemain teatrikal yang berkostum plus replika senjata menyesuaikan perang saat itu.

    Ketua Badan Pengurus Paguyuban Wehrkreis (Daerah Perlawanan) Yogyakarta yang juga ketua panitia acara ini, S. Sudjono, mengatakan peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 diadakan untuk mengenang pahlawan yang gugur dalam peristiwa bersejarah itu.

    Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan peristiwa serangan besar-besaran terhadap kota Yogyakarta yang yang direncanakan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada.

    PRIBADI WICAKSONO

    Artikel Lain: Yogyakarta Berencana Menata Ulang Sisi Barat Malioboro


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.