Sejarah Tumbuhnya Kampung Ketandan Menjadi Pecinan di Yogyakarta

Pelangi Nusantara di Pekan Budaya Tionghoa

TEMPO.CO, Jakarta - Kampung Ketandan di Kota Yogyakarta berkembang menjadi pecinan (Chinatown) bermula dari hijrahnya Kapiten Tan Djin Sing dari Kedu ke Yogya. Menurut Gotama Fantoni, salah satu tokoh Tionghoa setempat, kepindahan itu terjadi pada 1803.

Baca juga: Batik Peranakan Dalam Festival Budaya Tionghoa

“Tan Djin Sing adalah sosok yang disegani kala itu,” ujar Fantoni, Rabu, 21 Februari 2018. Karena itu, oleh Sultan Hamengku Buwono III, dia dipercaya dan diangkat sebagai Bupati Nayoko pada 18 September 1813.

Keraton pun memberikan gelar khusus kepada Tan Djin Sing, yakni Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Setjadiningrat. “Tan Djin Sing juga menikahi kerabat keraton Yogya dan menjadi salah satu keturunan Tionghoa yang mulai masuk Islam,” katanya.

Dengan pernikahan itu, Tan Djin Sing merupakan salah satu dari tiga keturunan Tionghoa yang masuk lingkungan keluarga keraton dengan nama trah Setjadiningrat. Dua warga Tionghoa lain yang juga masuk lingkaran keluarga keraton adalah trah Honggodrono dan trah Kartodirjo.

Kiprah kesejarahan Tan Djin Sing ini menjadikan Kampung Ketandan populer. Ketandan dalam bahasa Jawa memiliki arti “tanda” atau “simbol”.

Hingga kini, Ketandan, yang tak jauh dari kawasan Malioboro, populer dan menjadi salah satu tanda adanya akulturasi di Yogyakarta. Rumah-rumah dengan arsitektur khas Tionghoa yang berpadu dengan kebudayaan Jawa juga masih terdapat di kampung ini.

Di Ketandan inilah saban tahun digelar Pekan Budaya Tionghoa, dan tahun ini memasuki periode yang ke-13. Gotama Fantoni selalu aktif dalam kepanitiaan pekan budaya ini.

Namun perhelatan itu lahir berkat jasa seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada bernama Moerdijati Gardjito. Pada 2005, Moerdijati, yang tengah menggarap tesisnya, memiliki ide membuat sebuah buku resep masakan khas Tionghoa.

Banyak diskusi yang diadakan dan akhirnya usaha itu mendapat dukungan penuh dari Raja Keraton, yang juga Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Kebetulan, saat itu Sultan sedang menggagas sebuah konsep City of Tolerance ke publik, namun masuknya dengan mengusung keberagaman budaya, termasuk kuliner,” katanya.

Ide Moerdijati itu pun didukung Sultan HB X dan warga Ketandan, yang diwujudkan dengan Pekan Budaya Tionghoa Yogya (PBTY), yang pertama kali diadakan tahun 2006.

Pada awalnya ini hanya berupa festival kuliner dan menu khas Tionghoa. Namun, atas inisiatif Sultan dan para panitia yang tergabung dalam Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC), PBTY tak lagi hanya soal kuliner, tapi juga meluas ke bidang budaya.

Selain itu, kegiatan ini menjadi rangkaian perayaan Imlek dan menyambut Cap Go Meh. Acara selalu berlangsung meriah dan menyedot perhatian warga.

Gelaran ini akhirnya ditetapkan menjadi event resmi pariwisata tahunan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Pekan Budaya Tionghoa Yogya tahun 2018 digelar pada 24 Februari-2 Maret 2018 dengan mengusung tema “Harmoni Budaya Nusantara”.

Artikel lain: 3 Titik Favorit Swafoto di Bandar Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

 






Pesona Gua Langse di Parangtritis, Keindahan Alam Berbalut Cerita Mistis

2 hari lalu

Pesona Gua Langse di Parangtritis, Keindahan Alam Berbalut Cerita Mistis

Gua Langse ini tepatnya berada di timur Pantai Parangtritis.


Yogyakarta Tuan Rumah Asean Tourism Forum, Dua Agenda Utama Ini Disiapkan

3 hari lalu

Yogyakarta Tuan Rumah Asean Tourism Forum, Dua Agenda Utama Ini Disiapkan

Kelancaran penyelenggaraan G20 di Indonesia lalu menjadi salah satu panduan untuk turut mensukseskan gelaran Asean Tourism Forum di Yogyakarta.


Tak Perlu ke Hutan, Belajar Ragam Burung Bisa dari Area Kampus Yogyakarta ini

3 hari lalu

Tak Perlu ke Hutan, Belajar Ragam Burung Bisa dari Area Kampus Yogyakarta ini

Di Yogyakarta, dari area kampus, ternyata masih bisa melihat dan mempelajari berbagai ragam burung dan perilakunya di alam lepas.


Mahasiswa UGM Gali Ciri Khas 18 Kampung Wisata di Yogyakarta untuk Rebranding

4 hari lalu

Mahasiswa UGM Gali Ciri Khas 18 Kampung Wisata di Yogyakarta untuk Rebranding

Ikon di kampung wisata Kota Yogyakarta itu perlu ditemukan, di-branding lalu dijual kepada wisawatan.


Gandeng Komunitas, Yogyakarta Hidupkan Museum-museum yang Sepi Kunjungan

7 hari lalu

Gandeng Komunitas, Yogyakarta Hidupkan Museum-museum yang Sepi Kunjungan

Museum di Yogyakarta yang jumlahnya lebih dari 40 museum itu menjadi perhatian pemerintah karena kunjungannya masih minim.


Sambut Libur Akhir Tahun, Ada Drama Musikal Boneka Kayu di Candi Prambanan

7 hari lalu

Sambut Libur Akhir Tahun, Ada Drama Musikal Boneka Kayu di Candi Prambanan

Drama musikal ini untuk melengkapi dua pertunjukan kolosal andalan Candi Prambanan lain, yakni Sendratari Ramayanan dan Dramatari Roro Jonggrang.


5 Agenda Menarik Akhir Pekan Ini di Yogyakarta, Dari Festival Musik Sampai Balapan Kuda

8 hari lalu

5 Agenda Menarik Akhir Pekan Ini di Yogyakarta, Dari Festival Musik Sampai Balapan Kuda

Ada lima agenda event di Yogyakarta yang sebagian besar sifatnya gratis untuk umum dan menawarkan keseruan bagi wisatawan.


Penyebab Malioboro Sering Macet Meski Sudah Bersih PKL

9 hari lalu

Penyebab Malioboro Sering Macet Meski Sudah Bersih PKL

Awal pekan ini kemacetan dan semrawutnya Malioboro itu kembali menggema setelah munculnya keluhan pengguna jalan itu di media sosial.


Nyantrik, Wadah Regenerasi Penari Sendratari Ramayana Candi Prambanan

9 hari lalu

Nyantrik, Wadah Regenerasi Penari Sendratari Ramayana Candi Prambanan

Regenerasi sumber daya manusia, khususnya penari dinilai penting demi menjaga keberlanjutan event Sendratari Ramayana terus hidup.


Menjelang Libur Akhir Tahun, Tingkat Reservasi Hotel di Yogyakarta Sudah Mulai Penuh

9 hari lalu

Menjelang Libur Akhir Tahun, Tingkat Reservasi Hotel di Yogyakarta Sudah Mulai Penuh

Agar tak kesulitan mendapatkan hotel untuk menginap saat libur akhir tahun, wisatawan ke Yogyakarta disarankan melakukan pemesanan jauh hari.