Sabtu, 18 Agustus 2018

Imlek Masa Lalu di Glodok, Tak Bisa Beli Pakaian di Pinggir Jalan

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • seorang pedagang pakaian sedang menawarkan dagangannya di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, Senin, 5 Februari 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    seorang pedagang pakaian sedang menawarkan dagangannya di Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, Senin, 5 Februari 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang Imlek 2018, Pasar Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, dipenuhi tenda-tenda para pedagang. Mereka menjajakan macam-macam dagangan, mulai aksesori hingga pakaian. Hampir semua dagangan berwarna merah. Bila dilihat dari jauh, tenda-tenda ini tampak meriah.

    Baca juga:

    Ini Asal Muasal Nama Glodok

    Kue-kue Khas Imlek dan Maknanya

    Para pelapak mengumbar dagangannya sampai menutupi trotoar Jalan Pancoran, bahkan seperempat badan jalan. Tak jarang, keramaian ini membuat macet. Ini seperti pertanda, Imlek 2018 tampaknya bakal meriah.

    Transaksi pedagang dan pembeli turut menjadi penyumbang kemeriahan suasana Pasar Petak Sembilan menjelang Imlek. Orang-orang berbahasa Mandarin dengan logat Nusantara saling bernegosiasi. Juga sesekali melempar kelakar, yang menimbulkan tawa membahana.

    Suasana semeriah ini, menurut seorang pria warga asli Glogok, Jakarta, Hartanto Widjaja, tak dirasakan di masa lampau. “Imlek tak meriah sebelum Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid, red) menjabat,” katanya saat ditemui di Jalan Kemenangan, Glodok, Senin, 5 Februari 2018.

    Ruang ekspresi yang terbatas menjadi gambaran tahun baru Cina yang dialami Koh JM —panggilan akrab Hartanto-- pada masa remajanya, yakni tahun 1970-an. “Mana ada (pedagang pakaian) di pinggir jalan. Tahun 1965-an sampai sebelum Gus Dur jadi presiden, tak ada pedagang baju Imlek di jalanan,” tuturnya.

    Kenangan baju Imlek ini memang paling membekas di ingatan Koh JM. Ia ingat, setiap kali hendak merayakan tahun baru Cina, ibunya selalu menjahit pakaian sendiri. Hal serupa juga disampaikan oleh Akiong, perantau dari Medan yang sudah bermukim di Glodok sejak 1970-an.

    “Kalau beli baju, dulu enggak bisa di pinggir jalan. Jadi saya harus ke toko, masuk ke dalam-dalam gitu,” katanya, saat ditemui di tempat yang berbeda.

    Selain perihal pakaian, persoalan libur turut menjadi hal yang paling diingat kedua warga beretnis Tionghoa itu. Dulu, kata Koh JM, tak ada tanggal merah saat perayaan Imlek. Ia, yang masih sekolah, terpaksa kudu masuk setelah sembahyang.

    Lantas, seusai pulang sekolah, tradisi rutin Sin Cia, yakni berkunjung ke tempat saudara yang lebih tua, pun baru dilakukan. “Kalau sekarang, kan, bebas, bisa seharian jalan ke rumah saudara sampai malam,” katanya.

    Artikel lain: Susi Pudjiastuti: Jadikan Pasar Ikan Modern Ajang Kuliner yang Nyaman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.