Asal Usul Lontong Balap, Kuliner Melegenda di Surabaya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sajian Lontong Balap Pak Gendut, di jalan Prof Dr Moestopo, Surabaya. TEMPO/Fully Syafi

    Sajian Lontong Balap Pak Gendut, di jalan Prof Dr Moestopo, Surabaya. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan yang memiliki beragam kuliner khas yang lezat. Salah satunya yang melegenda adalah lontong balap.

    Makanan ini terdiri dari lontong, tauge, tahu goreng, bawang goreng, kecap dan sambal. Kuliner satu ini cocok dinikmari sebagai sarapan.

    Kalau penasaran mengapa namanya lontong balap, laman surabaya.go.id membagikan bahwa sejarah nama lontong balap ini bermula dari wadah berupa gentong yang dipikul oleh penjualnya.

    Agar tidak ketinggalan pembeli, para penjual ini memikul dagangannya dengan setengah berlari sehingga terlihat seolah saling balapan. Hal tersebut yang akhirnya melekat pada makanan ini dan melahirkan nama lontong balap.

    Lontong balap kini menjadi favorit karena cita rasanya. Tak hanya itu, ada satu ciri khas dari lontong balap, yaitu lentho.

    Lentho terbuat dari kacang yang direndam dengan berbagai bumbu selama satu malam yang kemudian ditumbuk, dikepal dan digoreng. Pembeli juga dapat menambahkan kecap dan sambal petis.

    Dulu lontong balap tidak dijual dengan gerobak dorong. Penjualnya memakai gentong berukuran besar dan berat untuk menampung kuah dan bahan-bahan lain.

    Lontong balap dapat dijumpai di berbagai titik di Kota Surabaya, seperti di Jalan Kranggan, di daerah Wonokromo, dan di banyak sentra kuliner yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, yakni Rp. 10 ribu per porsinya.

    YINOLA CRISSY ELENROSE HADRIAN

    Baca juga: 10 Kuliner Khas Jawa Timur yang Harus Anda Coba


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Micro-Lockdown 5 Kecamatan akibat Omicron

    Sejumlah kecamatan di Ibu Kota mengalami lonjakan kasus Omicron sehingga masuk ke zona kuning dan merah. Pemprov memberlakukan micro-lockdown.