Cuti Bersama Akhir Tahun Dihapus, Yogyakarta Tetap Waspadai Gelombang Wisatawan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Wisatawan bermain air di Pantai Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, Ahad, 16 Mei 2021. Kawasan Pantai Parangtritis menjadi salah satu destinasi wisata di Bantul yang ramai dikunjungi oleh wisatawan selama masa liburan Idul Fitri 1442 H. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    Wisatawan bermain air di Pantai Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, Ahad, 16 Mei 2021. Kawasan Pantai Parangtritis menjadi salah satu destinasi wisata di Bantul yang ramai dikunjungi oleh wisatawan selama masa liburan Idul Fitri 1442 H. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X angkat bicara setelah pemerintah pusat memastikan cuti bersama Natal dan Tahun Baru 2022 dihapus. Menurut dia, penghapusan cuti bersama itu setidaknya bisa membuat pemerintah daerah, khususnya Yogyakarta bisa lebih melokalisir lagi meluasnya potensi penularan Covid-19 dibandingkan libur tahun sebelumnya.

    “Ya saya berharap benar benar tidak ada klaster baru saat menghadapi hari raya Natal dan Tahun Baru nanti, ini akan lebih mudah bagi daerah untuk mengantisipasi,” kata Sultan HB X, Rabu, 27 Oktober 2021.

    Pemerintah DIY sebelumnya memang getol menyuarakan agar libur Natal dan Tahun Baru 2022 dipangkas pemerintah pusat karena tak mau lagi mengulang rentetan kasus Covid-19 yang meledak di wilayah itu seperti Juli-Agustus lalu.

    Sultan menuturkan dengan pelonggaran penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 2 saat ini saja, pemerintah daerah sudah kesulitan membendung gelombang kedatangan wisatawan berbagai daerah. “Kita kan tidak bisa membatasi siapa yang akan datang, wong saat wisata masih ditutup saja wisatawan bisa menyelinap dari subuh sudah menginap di objek wisata,” kata dia.

    “Suasana saat pelonggaran saat ini pun nyaris tak ada bedanya dengan suasana (kunjungan) saat libur tahun baru, terus bedanya apa?” Sultan menambahkan.

    Dengan cuti bersam Natal dan Tahun Baru yang dihapus itu, Sultan menginstruksikan jajarannya mulai bisa turut menjaga agar tak muncul kasus-kasu baru yang akhirnya membuat kondisi Yogya dalam situasi darurat lagi dan ujungnya sektor wisata harus ditutup lagi. “Tapi kalau sampai muncul kasus lonjakan lagi, ya mau tak mau kami harus lebih memperketat lagi sektor wisata tahun baru nanti,” kata dia.

    Sultan mengakui situasi saat ini memang berat. Pihaknya sadar masyarakat sudah amat jenuh dan butuh rekreasi akibat panjangnya masa pandemi yang membatasi mobilitas.

    “Masyarakat juga tak bisa dibendung, di rumah terlalu lama itu juga sumpek, tapi situasinya memang seperti ini, kalau kita lengah sedikit akan terpapar dan kasus bisa naik lagi,” ujar Sultan.

    Sultan pun sedikit bersyukur saat ini hampir seluruh destinasi di Yogyakarta kembali beroperasi sehingga di setiap destinasi itu ada para petugas yang ikut berjaga mengawasi wisatawan yang datang. “Tidak seperti dulu (saat PPKM Level 3), wisatawan datang ke destinasi tanpa pengawasan karena semua petugas libur akibat objek wisata ditutup,” ujarnya.

    Baca juga: Buka Destinasi Langkawi, Malaysia Bidik Wisatawan Jalur Bandara Baru Yogyakarta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Hakim MK Terbelah dalam Putusan Uji Materil UU Cipta Kerja

    Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji formil UU Cipta Kerja. Ada dissenting opinion.