Kisah Kuliner Nasi Kucing Menu Andalan di Angkringan Yogyakarta

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Nasi kucing. Wikipedia/Crisco 1492

    Nasi kucing. Wikipedia/Crisco 1492

    TEMPO.CO, Jakarta – Berkunjung ke Yogyakarta rasanya akan kurang lengkap apabila tidak mencicipi hidangan nasi kucing. Biasanya, nasi kucing disajikan di Angkringan, sebuah warung sederhana dan minimalis khas Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meskipun bernama nasi kucing, tetapi menu ini bukanlah untuk kucing.

    Sego kucing atau dalam bahasa Indonesia bernama nasi kucing, merupakan makanan khas daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Secara harfiah, penamaan nasi kucing diambil dari jumlah porsinya yang sedikit. Melansir dari  Ritual and Politics in New Order Indonesia: A Study of Discourse and Counter-Discourse in Indonesia, porsi yang sedikit ini mirip dengan porsi yang disajikan orang Jawa untuk kucing peliharaan. Oleh karena itu, kuliner ini disebut sebagai nasi kucing.

    Melansir laman dspace.uii.ac.id, nasi kucing disajikan bersama dengan bermacam lauk, mulai dari sambal teri, tempe, tahu, sambal teri, hingga ikan asin. Selain itu, agar semakin nikmat, nasi kucing ditemani dengan pelengkap, seperi sate usus, sate telur, dan tempe goreng. Nasi kucing ini tidak disajikan dalam piring, melainkan dihidangkan menggunakan daun pisang atau kertas minyak.

    Terdapat variasi lain dari nasi kucing, yaitu nasi macan. Berbeda dengan nasi kucing, nasi macan menyajikan porsi tiga kali lebih besar dibandingkan dengan nasi kucing. Nasimacan dihidangkan dengan cara dibakar bersama dengan bermacam-macam lauk, seperti ikan kering, sayuran. Nasi macan disajikan dengan dibungkus menggunakan daun pisang dan pape.

    Nasi kucing memilki harga yang terjangkau.  Kedua menu ini banyak dijumpai di warung kecil pinggir jalan, yang disebut angkringan. Biasanya, pengunjung angkringan adalah masyarakat kelas bawah atau wong cilik.

    Di zaman dulu, nasi kucing dijajakan dengan berkeliling kampung oleh para penjual angkringan. Namun, seiring perkembangan waktu, angkringan kini memiliki konsep ‘menetap’ di suatu tempat sehingga penjual tidak perlu lagi memikul dagangannya untuk mencari pembeli. Selain itu, angkringan tidak lagi menggunakan pikulan melainkan menggunakan gerobak dorong.

    NAOMY A. NUGRAHENI 

    Baca: Ada Angkringan Berjalan di Yogyakarta Menu Nasi Kucing Wedang Jahe


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Hakim MK Terbelah dalam Putusan Uji Materil UU Cipta Kerja

    Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji formil UU Cipta Kerja. Ada dissenting opinion.