Bertandang ke Papua Nugini: Maskapainya Hobi Delay

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suku Huli Wigmen ini terkenal dengan hiasan kepala yang dibuat dari rambutnya sendiri hidup di Papua Nugini. Di pulau yang sama juga hidup suku terasing yang terkenal dengan ornamen ukirannya yaitu suku Dani dan Asmat dari Papua, Indonesia. Dailymail.co.uk/Jimmy Nelson

    Suku Huli Wigmen ini terkenal dengan hiasan kepala yang dibuat dari rambutnya sendiri hidup di Papua Nugini. Di pulau yang sama juga hidup suku terasing yang terkenal dengan ornamen ukirannya yaitu suku Dani dan Asmat dari Papua, Indonesia. Dailymail.co.uk/Jimmy Nelson

    TEMPO.CO, Jakarta - Wisatawan Indonesia umumnya pelesiran ke Singapura, Malaysia, Thailand atau ke Australia hingga Selandia Baru. Tapi pernahkan Anda mencoba ke Papua Nugini (PNG)?

    Tetangga dekat kita ini berada di punggung Papua. Sangat dekat. Dari Jayapura ke kota Vanimo di PNG hanya butuh waktu perjalanan 45 menit dengan mobil. Tapi jarak antara Jayapura, Ibu kota Papua dengan Port Moresby jantung PNG mencapai 1.047 km – sebanding dengan jarak Jakarta-Banyuwangi. Kira-kira bisa ditempuh 1,5 jam perjalanan dengan pesawat.

    Tapi, jarak Jayapura ke Port Moresby, waktu tempuhnya tak sependek Jakarta-Banyuwangi. Pasalnya, bandara di Papua tidak satupun ada yang melayani penerbangan langsung ke PNG. Untuk pergi ke Port Moresby, dapat dicapai dengan penerbangan dari Bandara Sentani menuju Bali. Dari Bali, bisa terbang langsung ke Port Moresby menggunakan maskapai Air Niugini. Selain itu, bisa juga menggunakan Qantas atau Virgin Australia, dari Bali transit Sydney atau Melbourne. Penerbangan via Bali ini dijamin tepat waktu dan kepastian keberangkatannya.

    Jadi jarak yang harusnya bisa 1,5 jam, bisa menjadi perjalanan panjang setengah hari. Tapi masalah tak berhenti sampai di situ, “Bila penerbangan dari Bali dan Australia tepat waktu, hal ini sangat jauh bertolak belakang dengan di PNG,” ujar arkeolog Hari Suroto. Pasalnya, calon penumpang di bandara PNG, walaupun sudah memiliki tiket atau sudah chek-in, belum tentu dijamin bisa terbang.

    Nah, Anda jangan emosi dulu seperti saat delay berjam-jam di bandara-bandara Indonesia. Soalnya,  rasa kekeluargaan di PNG masih sangat tinggi. Penumpang dari kerabat petugas bandara akan didahulukan terbang, walaupun dia chek-in-nya paling belakang atau bahkan paling terlambat.

    Pantai Wutung, Papua Nugini, yang berbatasan langsung dengan Skouw dan Jayapura. Dok. Hari Suroto

    Hal itu dianggap sebagai hal yang biasa di PNG. Uniknya lagi, tidak ada komplain dari calon penumpang yang gagal terbang tersebut. Namun, sebagai ganti, tiket penumpang yang tertunda keberangkatannya itu tidak hangus. Kalau ia beruntung, bisa terbang dengan pesawat selanjutnya. Atau menerima nasib, terbang esok pagi.

    Penerbangan di Papua Lebih Murah

    Topografi PNG dan Papua, boleh dikata sama persis. Hutan lebat dengan gunung-gunung menjulang, membuat transportasi dengan pesawat kecil sangat diandalkan. Bedanya, tiket pesawat di Papua dan Papua Barat terbilang murah karena bersubsidi. Lain halnya di PNG, harga tiket sangat mahal.

    Untuk pergi ke Port Moresby dari Jayapura, belum bisa dilakukan dengan jalan darat. Jalan darat dari perbatasan Indonesia-PNG hanya mencapai Vanimo saja, ibu kota provinsi terdekat dengan Kota Jayapura.

    Jarak perbatasan Indonesia-PNG ke Vanimo sekitar 42,5 km atau 46 menit perjalanan dengan mobil. Dari Vanimo ke Port Moresby ada penerbangan Air Nugini, dilayani 2 kali dalam seminggu dengan lama terbang 1 jam 40 menit.

    Tetapi penerbangan ini jangan diharap bisa tepat waktu atau pasti berangkat seperti cerita sebelumya. Malahan PNG sendiri sering diplesetkan oleh para turis dengan Promise Not Guaranteed yang berarti walaupun sudah punya tiket atau boarding pass, jangan dikira pasti akan terbang.

    Budaya Mengunyah Pinang

    Sama halnya dengan masyarakat Papua, Indonesia, masyarakat Papua Nugini juga sangat menyukai buah pinang. Buah pinang sangat mudah dijumpai di pedesaan Papua Nugini, pohon pinang pada umumnya ditanam di sekitar pekarangan rumah warga.

    Tetapi bedanya, pemerintah Papua Nugini sangat ketat mengawasi peredaran pinang ini. Mereka berjuang untuk mengendalikan kecanduan masyarakat terhadap buah pinang. Pinang dinilai memiliki sifat psikotropika. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, mulai pagi hingga malam setiap harinya mereka selalu mengunyah pinang.

    Bagi mereka, saat mengunyah pinang, tubuh mulai berkeringat, serta muncul stimulan yang memberi perasaan fly, membuat bahagia dan jadi bersemangat menyelesaikan pekerjaan.

    Kebiasaan makan pinang ini menimbulkan perasaan jika belum makan pinang, maka hidup tidak jadi bersemangat, sangat membosankan dan kepala terasa pusing.

    Sementara sirih sebagai pelengkap mengunyah pinang, memiliki bahan aktif arecoline, bekerja pada protein reseptor yang sama di otak dengan reseptor yang bekerja dengan nikotin. Bahan ini sangat adiktif dan juga bersifat karsinogenik.

    Oleh pemerintah Papua Nugini, kecanduan pinang ini dianggap sebagai penyebab meningkatnya penderita kanker mulut di negara tersebut. Warga Papua Nugini memiliki tingkat kejadian kanker mulut tertinggi di dunia. Menurut WHO, hampir satu dari 500 kasus kanker mulut terjadi di Papua Nugini dan menjadi pembunuh terbesar di negara tersebut.

    Ludah pinang, juga dianggap mengandung patogen yang meningkatkan penyebaran penyakit. Papua Nugini, bahkan termasuk sebagai negara dengan tingkat infeksi TBC tertinggi di dunia. Keseriusan pemerintah Papua Nugini terlihat dari, pengawasan ketat di bandara.

    Air Niugini mendarat di Bandara Brisbane. Foto: @dreamflyers_hk

    Selain papan larangan makan pinang di area bandara, petugas bagian check-in juga akan memeriksa secara ketat setiap penumpang sebelum memasuki X-Ray, apakah membawa pinang atau tidak. Buah pinang tidak boleh dibawa ke kabin. Maskapai Air Niugini juga tidak memperbolehkan buah pinang diangkut dalam bagasi.

    Catatan redaksi: tulisan ini diolah dari email arkeolog Hari Suroto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.