Promosi Pariwisata di Tengah Kekhawatiran Terhadap Virus Corona

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) mengoperasikan alat deteksi suhu tubuh atau thermo scanner untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu, 22 Januari 2020. ANTARA

    Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) mengoperasikan alat deteksi suhu tubuh atau thermo scanner untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu, 22 Januari 2020. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Merebaknya virus corona COVID-19 di berbagai negara, membuat pemerintah Indonesia bersiasat untuk menggairahkan pariwisata.

    Anggaran sejumlah Rp72 miliar disediakan untuk promosi kunjungan wisata ke Indonesia. Meskipun terdapat kekhawatiran terhadap virus corona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemeparekraf) mempercayakan berbagai upaya pendeteksian kunjungan pelancong di berbagai bandar udara kepada Kementerian Kesehatan.

    "Karena, pernyataan Kementerian Kesehatan, kita sudah punya alat yang sama seperti di Amerika untuk mendeteksi gejala virus corona," kata Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ari Juliano Gema di Gedung Sapta Pesona, Kamis, 27 Februari 2020.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat meragukan kemampuan Indonesia untuk mendeteksi penyebaran virus corona. Anggapan itu dibantah oleh Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Ia berkeyakinan alat yang dimiliki Indonesia mampu untuk mendeteksi gejala virus corona.

    Soal lainnya, Ari menjelaskan, perlu juga koordinasi dengan rumah sakit yang berada di 10 destinasi prioritas. Langkah itu, kata dia, sebagai upaya bila kemungkinan buruk terjadi, "Apabila ada yang terjangkit bisa segera dilokalisir (untuk pembatasan), itu yang bisa dilakukan pemerintah, agar tidak lebih besar dampaknya," katanya.

    Namun ihwal mendatangkan wisatawan mancanegara untuk berwisata ke Indonesia, lagi-lagi, Ari mengatakan bergantung terhadap alat deteksi di bandar udara. "Alat-alat yang disiapkan di bandara internasional sebagai saringan awal turis yang datang ke Indonesia," ujarnya.

    Belakangan seperti dikabarkan media, turis Jepang diketahui terjangkit virus corona setelah pulang berlibur di Bali. Sebelumnya, pun ada turis Cina yang diketahui terinfeksi virus corona sepulang dari Indonesia. Namun temuan itu dijelaskan oleh pihak Kementerian Kesehatan, bahwa masa inkubasi virus selama 14 hari setelah pulang dari Indonesia. Jadi, turis tersebut, tidak terinfeksi virus corona saat di Bali.

    Sebanyak 61 wisatawan asing atau wisman asal Provinsi Hubei, Cina, tengah bersiap kembali ke negaranya setelah dijemput pesawat China Eastern di Bandara Ngurah Rai, Bali, pada Sabtu, 8 Februari 2020. Pesawat yang membawa wisman Cina ini akan terbang dari Denpasar pukul 14.00 WITA. Foto: Dok. Otoritas Bandara Wilayah IV NTT-Bali

    Dari berbagai hal itu, menurut Ari, pihak kementerian juga terus memantau berbagai informasi terkait virus corona. Karena, promosi pariwisata Indonesia terus berjalan. "Sebagai informasi, rapat kami setiap hari. Mas Tama (Wishnutama Kusubandio) juga masuk (dipanggil) ke Istana (Presiden) untuk membicarakan ini, virus corona," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.