Berdiri di 5 Bangunan Ini, Bisa Bikin Anda Berdebar

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan Carrick-a-Rede dibuat dari papan dan tali, melintasi dua tebing di atas laut. Foto: @earthwanderess

    Jembatan Carrick-a-Rede dibuat dari papan dan tali, melintasi dua tebing di atas laut. Foto: @earthwanderess

    TEMPO.CO, Jakarta - Film Cliffhanger, membuat Sylvester Stallone bergelantungan di tebing. Film yang disutradari Renny Harlin itu, dilansir pada 1993 itu, bercerita mengenai petualangan di tebing es. Nah Anda bisa menikmati cliffhanger, namun dalam suasana yang berbeda berupa bangunan.

    Beberapa lokasi tebing di dunia, menjanjikan pemandangan yang luar biasa dan, seringkali, membuat perut yang mules karena berdebar-debar. Struktur di tebing itu, bisa saja berbentuk mercusuar, kastel, bahkan biara. Berikut cliffhanger yang menawan, sebagaimana dinukil dari Atlas Obscura.

    Agion Oros, Yunani

    Pertapaan Karoulia

    Para pertapa Karoulia melindungi gaya hidup antisosial, dengan hidup di permukaan jurang vertikal yang berbahaya. Karoulia, bagian paling keras dari Gunung Athos berada di ujung barat daya, merupakan rumah bagi 10 pertapa. Mereka tinggal di gubuk-gubuk kecil dan gua pada tebing-tebing laut.

    Pertapa Karoulia hidup menyendiri di tebing dan menghidupi diri dengan barter makanan dengan penduduk. Foto: Atlas Obscura

    Akses ke Karoulia "mengerikan", sangat sulit, dan butuh keterampilan mendaki dan panjat tebing dalam banyak kasus. Para pertapa hidup dengan sangat sedikit makanan dan minum air hujan, yang mereka kumpulkan di rongga-rongga batu. Beberapa dari mereka mengandalkan barter dengan para nelayan atau warga, biasanya roti kering dan zaitun. Katrol yang mereka gunakan untuk mengangkat keranjang menyumbang nama daerah itu (karoulia adalah kata Yunani untuk katrol).

    Para pertapa menghabiskan sebagian besar siang dan malam untuk berdoa, tidur sangat sedikit, dan menghidupi diri mereka sendiri dengan melukis ikon suci atau membuat kerajinan tangan sederhana yang mereka tukarkan dengan persediaan.

    Lauterbrunnen, Swiss

    Observatorium Sphinx, Observatorium yang Bertengger di "Puncak Eropa".

    Para ilmuwan telah lama melakukan perjalanan ke ujung Bumi untuk penelitian mereka. Mountaintops adalah contoh klasik dari lingkungan yang keras, untuk eksperimen mulai dari fisiologis hingga astronomi.

    Ketika stasiun Jungfraujoch di Bernese Alps Swiss dibuka pada tahun 1912, stasiun ini menjadi perhentian kereta api tertinggi di seluruh Eropa. Awal abad itu, para ilmuwan sangat semangat berada di ketinggian untuk melakukan pekerjaan mereka.

    Observatorium Sphinx, selesai pada tahun 1937, bertengger di tebing curam yang disebut "Top of Europe," menjadikannya observatorium tertinggi di seluruh benua.

    Observatorium Sphinx berada di dataran paling tinggi Eropa. Foto: Julius Silver

    Di dalamnya terdapat stasiun pengamatan cuaca, kubah astronomi dan meteorologi, dan teleskop 76 cm. Sphinx telah berfungsi sebagai markas besar bagi para peneliti di berbagai bidang seperti glaciologi, kedokteran, fisika sinar kosmik, dan astronomi. Dan selama bertahun-tahun, bangunan ini telah beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan para ilmuwan. Saat ini, observatorium sepenuhnya dilengkapi dengan listrik, air, telepon, internet, dan bahkan mesin untuk menghasilkan udara cair. 

    Selain ilmu pengetahuan, observatorium ini juga menyediakan pengunjung dengan pemandangan panorama pegunungan Alpen yang bersalju, lembah hijau, dan Gletser Great Aletsch. Dari teras kisi-kisi logam yang mengelilingi bangunan, orang dapat melihat lebih dari ketinggian 11.000 kaki, dengan pemandangan yang membentang sejauh Jerman dan Italia. 

    Bahkan sampai ke observatorium adalah perjalanan yang menakjubkan. Wisatawan bisa mengunjungi Sphinx dengan kereta api Jungfrau yang bersejarah. Di sepanjang perjalanan mereka dapat melihat gunung es dan menjelajahi Eispalast (Istana Es), dengan patung-patung es berbentuk orang hingga mobil, yang diukir dalam gletser yang dingin.

    Haspra, Crimea

    Sebuah kastil di Atas Laut Crimea

    Bertengger di tebing di tepi Laut Crimea, wisatawan mungkin menyangka tak akan menemukan bangunan cliffhanger, tapi wisatawan dapat menemukan kastel neogotik, yang juga menjadi sarang burung walet. Dibangun di atas tebing Aurora yang menghadap ke laut, di luar kota Gaspra, kastel sarang burung walet itu merupakan peninggalan Kekaisaran Rusia.

    Struktur asli kastel itu adalah pondok kayu kecil yang dibangun atas perintah Jenderal Rusia sekitar tahun 1895. Namun, beberapa tahun kemudian pondok itu ditempatkan dalam kepemilikan A.K. Tobin, seorang dokter di Pengadilan Kekaisaran dan dokter untuk Tsar.

    Kastel Sarang Burung Walet berada di atas tebing Laut Crimea. Foto: Vyacheslav Argenberg/Wikimedia

    Pondok kembali berpindah tangan, kali ini dibeli oleh Baron von Stiengel yang menghancurkan pondok asli dan menggantinya dengan kastel bergaya eogotik. Meskipun secara arsitektur diklasifikasikan sebagai kastel, namun itu bukan kastil dalam arti kata yang sebenarnya. Dindingnya bukan untuk melindungi penghuninya, namun ntuk kebutuhan praktis agar tak longsor.

    Siapapun yang melihat kastel sarang burung walet, pasti mengagumi fisika sederhana dari struktur itu. Pondasinya dibangun di tepi tebing dengan bagian-bagian balkon dan teras benar-benar membentang di luar permukaan batu, menjorok ke udara. Seluruh bangunan tampak seolah-olah bisa jatuh ke Laut Krimea. Karena perhitungannya yang baik, kastel itu selamat dari gempa bumi besar (6-7 skala Richter), yang melanda wilayah tersebut pada tahun 1927.

    Meskipun bangunannya tidak rusak parah, namun tebingnya retak secara vertikal. Kastel itu ditutup selama lebih dari empat dekade karena secara struktural dianggap tidak aman. Pada tahun 1968, renovasi dimulai pada bangunan itu dalam upaya untuk membuatnya layak huni — atau setidaknya dapat dikunjungi. Para insinyur memasukkan pelat beton besar ke tebing yang membantu menopang retakan yang ditinggalkan oleh gempa. Pada tahun 1975 sebuah restoran Italia dibuka di kastil dan telah beroperasi sejak 1975. Lokasinya yang indah, film-film Uni Sovyet beberapa kali menjadikannya sebagai latar.

    Urubamba, Peru

    Tidur di Pod Kaca Bergelantungan di Tebing

    Di tebing Andes yang menghadap ke lembah, ada tiga skylodge, sebuah pod kaca berbentuk bulat yang menjuntai dari permukaan batu. Itu adalah hotel yang dibuka untuk umum.

    Skylodge, hotel di tepi jurang Gunung Andes. Foto: Natura Vive

    Skylodge dimiliki oleh perusahaan pariwisata bernama Natura Vive, dan ketiga suite itu merupakan hotel mewah. Tiga skylodge seukuran kabin pesawat kecil, dan transparan di semua sisi. Mereka sebagian besar kamar tidur dan kamar mandi, yang dilengkapi dengan tirai untuk privasi. 

    Tidak banyak yang bisa dilakukan di pod, tapi sekali lagi, Anda tidak datang untuk kenyamanan. Hanya untuk sampai di sana Anda harus mendaki Via Ferrara setinggi 1.200 kaki atau zipline (dengan biaya tambahan). Setelah sampai di sana, Anda akan melihat pemandangan lembah di bawah, dari ketinggian Gunung Andes. Lalu burung condor berputar-putar di atas Anda seperti bisa dijangkau.

    Datong, Cina

    Kuil Hengshan yang Menempel di Sisi Tebing

    Kuil Gantung, yang terletak sekitar 60 kilometer tenggara Datong, Cina, di Provinsi Shanxi, adalah salah satu keajaiban dunia yang tak terlupakan. Menempel pada tebing Gunung Hengshan, dengan penampilan melawan grafitasi. Kuil Hengshan memiliki 40 kamar yang dihubungkan oleh labirin, yang membingungkan.

    Kuil Hengshan dibangun pada abad ke-5 di 60 km di tenggara Kota Datong. Bangunannya menempel pada tebing. Foto: Llee Wu/Wikimedia

    Kuil itu konon dibangun oleh seorang biarawan bernama Liao Ran pada akhir Dinasti Wei Utara (386-534) dan direnovasi pada tahun 1900. Kuil ini dibangun dengan mengebor lubang ke sisi tebing di mana tiang-tiang penahan kuil dipasang.

    Menariknya, kuil ini didedikasikan untuk tidak hanya satu agama, tetapi tiga, dengan Konfusianisme, Taoisme, dan Budha semuanya dipraktikkan di dalam kuil dan diwakili dalam 78 patung, serta ukiran di seluruh kuil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.