Solo Great Sale Berlangsung Sepanjang Februari 2020

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Solo Great Sale 2018 untuk menyambut Hari Jadi Kota Solo ke-273. Ribuan tempat usaha akan menggelar diskon hingga sebulan penuh dalam acara itu. sologreatsale.com

    Logo Solo Great Sale 2018 untuk menyambut Hari Jadi Kota Solo ke-273. Ribuan tempat usaha akan menggelar diskon hingga sebulan penuh dalam acara itu. sologreatsale.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Program diskon belanja tahunan Solo Great Sale atau SGS akan berlangsung sepanjang bulan Februari nanti.

    Ketua Panitia Solo Great Sale 2020, Farid Sunarto mengatakan target transaksi tahun ini dipatok Rp 700 miliar, naik dari tahun lalu yakni Rp 600 miliar. "Ada sekitar 7.000 toko yang terlibat dalam event tahunan ini, di antaranya mal, restoran, hotel, dan pasar tradisional," kata Farid di Solo, Kamis 16 Januari 2020.

    Wisatawan yang hendak berbelanja di Solo Great Sale 2020, menurut Farid, diharapkan mengunduh aplikasi 'Solo Sale' ini di ponsel berbasis Android. Dengan memiliki aplikasi, maka pelanggan bisa memasukkan transaksi secara mendiri, mengunggah bon belanja, dan mendapatkan poin yang dapat ditukar dengan hadiah. Ada pula fitur informasi promosi di sekitar toko tempat wisatawan itu belanja.

    Pemerintah Solo memberikan insentif bagi hotel dan restoran yang turut serta dalam program Solo Great Sale berupa potongan pajak sebesar 30 persen. "Supaya tingkat okupansi hotel meningkat," kata Farid. Pemilihan bulan Februari sebagai waktu berlangsungnya Solo Great Sale juga bukan tanpa alasan.

    Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surakarta, Abdullah Soewarno mengatakan Februari menjadi bulan yang cukup sepi dari aktivitas pariwisata. "Ini menjadi bulan yang memprihatinkan bagi sektor perhotelan karena memang tingkat okupansinya sangat rendah," katanya.

    Sejak Solo Great Sale dimulai pada 2015, aktivitas wisata dan okupansi hotel perlahan meningkat. "Terasa manfaatnya mulai tahun 2016," kata Abdullah Soewarno. Data PHRI menunjukkan pada Februari 2016, okupansi hotel non-bintang sebesar 40 persen dan hotel berbintang sebesar 59,43 persen. Pada momentum sama di 2017, angka ini meningkat menjadi 45 persen untuk tamu hotel non-bintang naik menjadi 45 persen dan hotel berbintang 64 persen.

    Tahun lalu, tingkat okupansi hotel non-bintang naik lagi menjadi 48 persen dan hotel berbintang 67,4 persen. Dan di 2019 tingkat okupansi hotel non-bintang 49 persen dan hotel berbintang 69 persen. "Pada Februari 2020 kami berharap okupansi hotel non-bintang maupun berbintang bisa naik paling tidak 1 persen," kata Abdullah Soewarno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.