Di Kampung Ini, Ular Jadi Hidangan Lezat

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nguyen Van Duc berada di Kampung Ular Vietnam, yang sudah sejak  200 tahun lalu terkenal dengan kuliner ular. Foto: CNN Travel/Diana Diroy

    Nguyen Van Duc berada di Kampung Ular Vietnam, yang sudah sejak 200 tahun lalu terkenal dengan kuliner ular. Foto: CNN Travel/Diana Diroy

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuliner ekstrem merupakan petualangan. Nah, wisatawan yang ingin berpetualang rasa, bisa mencoba hidangan serba ular di Nguyen Van Duc, sebuah restoran di Le Mat - alias "Kampung Ular."

    Lingkungan hunian di pinggiran Hanoi, Vietnam, yang tenang itu terkenal karena menawarkan masakan seputar reptile. Ikon restoran kuliner ekstrem di Kampung Ular itu, memang Nguyan Van Duc – yang disukai pemula maupun penduduk lokal.

    Manajer resto Van Duc, Nguyen Hoang Long, menyebut restonya telah menangkap dan membiakkan ular dari generasi ke generasi sejak 200 tahun lalu. Long lalu menjelaskan sejarah ular dalam kuliner Vietnam – semua berawal dari darah.

    "Pada zaman kuno, penduduk desa menggunakan darah ular untuk menyembuhkan sakit kepala," kata Long. Ia menambahkan bahwa empedu ular mampu men sakit tenggorokan dan "masalah tulang."

    Mulanya hanya darah ular, hati dan empedu yang digunakan untuk obat. Lambat laun daging dan kulit ular dijadikan menu makanan. Foto: CNN Travel/Diana Diroy

    Soal dosis memang tak pernah ditakar, namun Long selalu memberi takaran yang tepat bagi mereka yang mengeluhkan sakit tertentu. Uniknya, penduduk meyakini darah dan empedu ular adalah obat. Bahkan daging ular itu sendiri. 

    Bagi penduduk setempat, ular sudah dikenal sebagai bagian dari menu Vietnam. Hidangan ular di Nguyen Van Duc mengacu pada budaya dan citarasa Vietnam. Walhasil, tak ada hambatan bagi mereka yang baru ingin mencoba. Selain itu, hidangan ular memang tampil sebagaimana hidangan umumnya. Bahkan basil segar, saus ikan, dan bawang putih.

    Tapi, ada hidangan yang harus disajikan mentar dan segar, semisal hati, empedu, dan darah. Malahan hidangan di Van Duc disajikan dengan gaya makan keluarga dan lezat.

    Tumis daging ular menjadi favorit wisatawan. Foto: Foto: CNN Travel/Diana Diroy

    Memilih Sendiri

    Sebagaimana resto seafood, Anda bisa memilih sendiri ular yang ingin disantap. Ular hidup itu lalu ditangani pawang, dan hup! Kepala ular dipenggal lalu dengan cekatan darah, jeroan, kulit, dan daging dipisah-pisah menjadi satu set menu. Seluruhnya dihargai US$60 atau sekitar Rp700.000. Tapi, menu itu bisa dinikmati 6-8 orang.

    Begitu ular itu dipotong dan dibunuh, ia diantar ke dapur yang luas, tempat ia dipotong, diiris dan ditumbuk, tulangnya dihancurkan, dan kulitnya dipotong menjadi potongan untuk digoreng dengan cepat.

    Saat mengudap – bagi pemula – jangan membayangkan ular namun lihatlah, cium aromanya yang wangi nan lezat. Begitu digigit, tak ada bedanya dengan daging ayam bahkan babi.

    Kulit ular dan tulang pun bisa diolah menjadi hidangan yang lezat. Foto: CNN Travel/Diana Diroy

    Sebagai hidangan pembuka, berupa lumpia berisi daging ular yang dicincang. Disajikan panas dengan saus dan bumbu isian khas Vietnam. Sebagai menu utama, terdapat nasi dengan tumis daging ular, daging ular goreng, sup, bakso daging ular, kerupuk kulit ular, dan daging ular yang dibungkus sayur hijau.

    Saat menggigit daun itu, cita rasa daging ular yang mirip ayam, beserta bumbu yang lezat segera memenuhi rongga mulut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.