5 Tahun ke Depan Pariwisata Jadi Devisa Unggulan, Ini Syaratnya

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga bersembahyang bersama saat ritual Pekelem yang merupakan rangkaian dari Pembukaan Nusa Penida Festival 2019 di Pantai Banjar Nyuh, Nusa Penida, Klungkung, Bali, Ahad, 6 Oktober 2019. Festival ini digelar demi meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut. ANTARA/Fikri Yusuf

    Warga bersembahyang bersama saat ritual Pekelem yang merupakan rangkaian dari Pembukaan Nusa Penida Festival 2019 di Pantai Banjar Nyuh, Nusa Penida, Klungkung, Bali, Ahad, 6 Oktober 2019. Festival ini digelar demi meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembangunan infrastruktur yang berkoordinasi antara Kementerian Pekerjaan Umum dam Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berbuah manis. Destinasi wisata kian mudah dijangkau.

    Tak berlebihan, bila lima tahun mendatang sektor pariwisata menjadi “core economy” dan penyumbang devisa terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan. Negara-negara seperti Thailand dan Yunani misalnya, hidup dari pariwisata. Sementara Indonesia, baru menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan, penyumbang ekonomi melampaui CPO (minyak sawit mentah).

    Menteri Pariwisata Arief Yahya saat Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia (Masata) di Aruba Room The Kasablanka, Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (15/10/2019) menyebut selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, sektor pariwisata berkembang signifikan.
     
    Indonesia memiliki ribuan destinasi, baik yang sudah populer namanya maupun yang belum digarap optimal. Apalagi pembangunan infrastruktur terus digalakkan, pariwisata bisa menjadi andalan baru bagi pemasukan negara.
     
    “Saya optimistis tahun ini dan lima tahun ke depan, industri pariwisata menjadi salah satu yang menyumbangkan devisa terbesar, mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar US$20 miliar,” katanya.
    Pulau Hari memiliki fasilitas lengkap sebagai destinasi wisata bahari. Foto: @jelajahsultra
     
    Arief mengatakan, berdasarkan data World Travel & Tourism Council, pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat pertumbuhannya. Pariwisata Indonesia menempati peringkat ke-9 di dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara. Pencapaian di sektor pariwisata itu juga diakui perusahaan media di Inggris, The Telegraph yang mencatat Indonesia sebagai “The Top 20 Fastest Growing Travel Destinations”.
     
    Indeks daya saing pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan membanggakan, peringkat Indonesia naik 8 poin dari 50 pada 2015, ke peringkat 42 pada 2017. “Persaingan sekarang ini bukan soal yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi siapa yang tercepat. Kita bisa melampaui negara-negara pesaing kita di Asia Tenggara,” ujarnya semangat.
     
    Pada 2017, kata Menpar, pertumbuhan sektor pariwisata melaju pesat sebesar 22 persen, menempati peringkat kedua setelah Vietnam (29 persen). Sementara Malaysia tumbuh 4 persen, Singapura 5,7 persen, dan Thailand 8,7 persen. Di tahun yang sama, rata-rata pertumbuhan sektor pariwisata di dunia 6,4 persen dan 7 persen di ASEAN. 
     
    “Vietnam lebih tinggi karena mereka melakukan deregulasi besar-besaran. Jadi, Vietnam saat ini adalah turis dan investor darling,” katanya.
     
    Tercatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia naik siginifikan dari 2015 – 2017. Pada 2015 sebanyak 10,41 juta, tahun 2016 menjadi 12,01 juta, dan tahun 2017 sebanyak 14,04 juta. 
     
    Sampai Agustus 2018, jumlah wisman mencapai 10,58 juta. Wisatawan nusantara juga terus naik. Sejak 2015 sebanyak 256 juta, tahun 2016 berkembang lagi menjadi 264,33 juta, dan tahun 2017 meningkat menjadi 270,82 juta.
     
    Wanita Bali menampilkan Tari Rejang Kesari saat pembukaan Jatiluwih Festival 2019 di kawasan cagar budaya pertanian Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Jumat (20/9/2019). Festival tahunan yang berlangsung 20-22 September 2019 tersebut diisi dengan berbagai atraksi seni budaya untuk memajukan pariwisata di kawasan pertanian yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia (WBD) oleh UNESCO. - Antara/Nyoman Hendra Wibowo
    Sementara itu, sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari US$12,2 miliar pada 2015, menjadi US$13,6 miliar pada 2016, dan naik lagi menjadi US$15 miliar pada 2017. Pada 2018, pariwisata ditargetkan meraup devisa US$17 miliar serta pada 2019 dibidik menyumbang devisa nomor 1, mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar US$20 miliar.
     
    Acara Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah, Komisaris Utama NET Mediatama Televisi Wishnutama, Ketua Umum ASITA Nunung Rusmiati, Irfan Wahid tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Pariwisata, Ketua Umum Masata Panca Sarungu, Dewan Pembina Masata Michael Umbas, dan Ketua Umum GIPI Didien Junaedi.
     
    Pada kesempatan yang sama, Ganjar Pranowo menjelaskan, infrastruktur pariwisata daerah memegang peran penting agar wisatawan yang datang merasa nyaman dan tidak kecewa saat berkunjung, “Jateng sendiri tengah mempersiapkan jalan tol Solo-Jogja, sehingga tidak macet lagi. Kami sedang siapkan dan tahun ini sudah berjalan,” katanya.
     
    Ganjar mengatakan, kuliner yang menjadi bagian dari pariwisata merupakan daya tarik setiap daerah. Wisatawan bahkan memiliki kebiasaan, setiap kali berkunjung ke destinasi wisata mengabadikan kuliner melalui video blog miliknya.
     
    “Makanya ayo piknik. Bikinlah keluargamu, temanmu, bahagia. Dan sambil kulineran juga, bagikan kesenanganmu lewat sosial media. Statement Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya itu benar 100 persen, kalau kekuatan untuk menjual Indonesia keluar secara powerfull itu pariwisata” katanya.
     
    Sementara itu, Tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Pariwisata Irfan Wahid menjelaskan, formula baru “storynomics tourism” bakal digunakan untuk mengakselerasi percepatan pembangunan wisata di lima kawasan destinasi super prioritas.
    Peserta menata berbagai menu makanan khas daerah dari ikan laut pada Festival Kuliner Tradisional 2019 di Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Aceh, Jumat 5 Juli 2019. Festival yang bertujuan mewujudkan Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia tersebut diikuti ratusan peserta dari 23 kabupaten kota dan dimeriahkan dengan berbagai menu tradisional nasional serta internasional. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
     
    Irfan mencontohkan, kisah-kisah dari kawasan Danau Toba sejatinya begitu banyak namun tak pernah digarap dengan benar-benar optimal, ”Kita memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan alam yang begitu banyak namun masih sangat minim informasi maupun konten yang menceritakan tentang hal-hal tersebut. Seperti contohnya yang kita alami selama berada di Toba,” katanya.
     
    Ia menilai diperlukan pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.