Kiat Bank Indonesia Mengangkat Kain Tenun Nusa Tenggara Barat

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat (BI NTB) menyelenggarakan kegiatan private preview busana berbahan tenun khas NTB karya desainer binaan Kantor BI NTB, Linda Hamidy Grander. Foto: Dok. BI NTB

    Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat (BI NTB) menyelenggarakan kegiatan private preview busana berbahan tenun khas NTB karya desainer binaan Kantor BI NTB, Linda Hamidy Grander. Foto: Dok. BI NTB

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat (BI NTB) menyelenggarakan kegiatan private preview busana berbahan tenun khas NTB karya desainer binaan Kantor BI NTB, Linda Hamidy Grander.

    Pada Rabu (18/9), Linda membawakan enam koleksi busana tenun yang mengangkat kain tenun khas Sumbawa dan Pringgasela. Sepanjang acara peragaan busana tenun, para tamu undangan terpesona dengan keindahan tenun NTB yang khas. Sebagian besar para tamun, ingin menggunakan kain tenun bahan busana. 

    Acara yang digelar di Hotel Santika Mataram tersebut disaksikan oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTB Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, Pembina Persatuan Isteri Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PIISEI) Pusat Ririn Perry Warjiyo, Ketua PIISEI Pusat Dina Wimboh Santoso, Ketua Persatuan Isteri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) NTB Sriyani Achris, Ketua Ikatan Isteri Pegawai Otoritas Jasa Keuangan NTB Ina Farid Faletehan.

    Kepala Perwakilan BI NTB Achris Sarwani menjelaskan bahwa selain keindahan alamnya, NTB sangat kaya dengan warisan budaya dan kerajinan yang eksotik. ''Salah satu warisan budaya tersebut adalah budaya menenun,'' katanya.

    Ia berharap ke depan, NTB bisa menjadi pelaku utama fashion industry terutama moslem fashion industry karena selain didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, penduduk NTB mayoritas muslim dengan kehidupan religius.

    Hampir seluruh daerah di NTB memiliki jenis dan motif kain tenun tersendiri, yang masing-masing memiliki makna dan filosofi mendalam. Saat ini, menenun bukan hanya menjadi sebuah tradisi turun temurun yang perlu diwariskan, tapi juga menjadi mata pencaharian yang memiliki nilai ekonomi dalam peningkatan kesejahteraan.

    BI NTB berkomitmen mengangkat nilai kain tenun NTB sebagai daya tarik pariwisata. Foto: BI NTB

    Dalam rangka meningkatkan nilai tambah pada kain tenun tersebut, maka diperlukan sinergi antara pelaku utama industri fashion: pengrajin tenun, pengrajin busana (penjahit), dan perancang busana/desainer sehingga mampu terbentuk sebuah industri fashion yang kompetitif.

    BI sebagai bank sentral berupaya memberikan kontribusi nyata dalam rangka mendukung pengembangan industri fashion di NTB, salah satunya dengan mensinergikan antar pelaku utama industri fashion dan mendukung upaya promosi kepada potensial buyer/stakeholder. SUPRIYANTHO KHAFID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?