Kapal Pesiar Berlabuh di Lombok Barat, Intip Tujuan Wisatanya

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Pesiar Sun Princess yang berlabuh di Teluk Lembar, Jum'at 15 Maret 2019 pagi. Ia membawa 2.191 wisatawan mancancegara/Pelindo III Lembar Lombok

    Kapal Pesiar Sun Princess yang berlabuh di Teluk Lembar, Jum'at 15 Maret 2019 pagi. Ia membawa 2.191 wisatawan mancancegara/Pelindo III Lembar Lombok

    TEMPO.CO, Mataram - Tak seperti biasa, Pelabuhan Lembar Lombok Barat, Jumat, 15 Maret 2019, bertambah ramai dengan wisatawan mancanegara. Ini karena kapal pesiar Sun Princess atau Princess Cruise berlabuh di kawasan pelabuhan tersebut.

    Baca juga: Liburan di Kapal Pesiar dengan Cucu, Ini Pengalaman Indro Warkop

    Kedatangan kapal pesiar yang datang dari arah Darwin Australia, tersebut, membuat  2191 penumpangnya bersama 855 crew kapalnya singgah di pelabuahan Lembar tersebut.

    Mereka secara berkelompok berdasarkan pilihan destinasinya, menggunakan 23 bus yang disiapkan PT Lombok Paradise yang menjadi operator kedatangannya, berwisata ke delapan titik yaitu Taman Pura Narmada yang merupakan duplikat danau Segara Anak,  peninggalan kerajaan Karang Asem di Taman Pura Mayura Cakranegara, Pura Lingsar, wisata bawah air Gili Trawangan, Gili Nangu di Sekotong, wisata kota Mataram, kawasan ekonomi khusus Mandalika dan juga Pasar Seni Sesela.
    Para wisatawan kapal pesiar Sun Princess sewaktu di dermaga Pelabuhan Lembar Lombok Barat, Jumat 15 Maret 2019. Tempo/Supriyantho Khafid
    Salah satu penumpangnya Nichole Elizabeth asal Chili untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Lombok. Ia mengaku senang disambut barisan tradisional Gendang Beliq sewaktu mendarat di dermaga Lembar dari sekoci yang mengangkutnya dari Sun Princess yang berlabuh sekitar tiga mil atau 15 menit perjalanan dari tengah Teluk Lembar. ''I like it. Saya menyukai wisata alam dan budaya. Saya akan ke Mataram ingin belanja souvenir,'' katanya seperti dipandu oleh seorang awak kapal Herman Hanrus Bento asal Jakarta sebelum memulai kunjungannya.

    Menurut Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Moh Faozal,  kedatangan Sun Princess ini merupakan kunjungan kapal pesiar ke 6 selama tiga bulan terakhir ini, 2019. Berikutnya 25 Maret 2019 juga akan datang kapal pesiar yang lain yang membawa 1.100 wisatawan.  Tahun 2019 ini terjadwal 20 kapal pesiar yang berkunjung ke Lombok dan 11 kapal diantaranya ditangani oleh PT Lombok Paradise. Faozal mengatakan akan terus dilakukan recovery agar wisatawan tidak ragu-ragu datang ke Lombok dan Sumbawa. ''Kalau wisatawan mancanegara berani datang kenapa wisatawan nusantara tidak berani,'' ujarnya.

    Direktur PT Lombok Paradise Heri Nurcahyono yang menemani Landri dari Cruises Asia menjelaskan bahwa Lombok tetap terjadwal dikunjungi kapal pesiar. ''Tidak benar ada pembatalan karena info sampah. Kalau pernah dibatalkan itu, 2018, karena sewaktu bencana gempa,'' ucapnya.  

    Menurut General Manager Pelindo III Lembar Erry Ardiyanto, menyambut mereka dilakukan kerja sama dengan Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Dinas Pariwisata Lombok Barat selain dengan aparat keamanan. ''Ini merupakan kerja keras sebagai upaya promosi membangkitkan pariwisata di Lombok NTB,'' katanya.

    Kunjungan Sun Princess yang memiliki panjang 261 meter yang dinakhodai Capt Jon Paul Briyant tersebut singgah ke Lombok sejak pukul 06.15 Waktu Indonesia Tengah (WITA) sebelum meneruskan perjalanannya ke Pelabuhan Phu My Ho Chi Min Vietnam pukul 18.00 WITA.

    Selama ini kapal pesiar yang datang tidak dapat sandar di pelabuhan Lembar. Adapun kapasitas lapangan kontainer mampu menampung 200 ribu sampai 300 ribu kontainer. Dermaganya bisa disandari cruise dengan panjang badan kapal mencapai 400 meter yang mampu membawa hingga 4.000 penumpang dan bisa juga untuk dua cruise sekaligus berukuran lebih kecil. Sedangkan terminal penumpang, memiliki kapasitas sekitar 1.500 orang.

    Baca juga: Ribuan Turis di Kapal Pesiar Italia Berwisata Religi ke Sabang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.