Tradisi Kawalu: Wisatawan Dilarang ke Badui Dalam, Sampai Kapan?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Baduy Dalam berjalan kaki untuk mengikuti upacara Seba di Serang, Banten, 14 Mei 2016. TEMPO/Amston Probel

    Warga Baduy Dalam berjalan kaki untuk mengikuti upacara Seba di Serang, Banten, 14 Mei 2016. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Wisatawan domestik maupun mancanegara dilarang mengunjungi kawasan Badui Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, selama tiga bulan karena memasuki tradisi bulan Kawalu atau bulan larangan.

    Baca juga: Durian Badui Dijajakan di Jalan Cileles-Gunungkencana

    "Pelarangan wisatawan mengunjungi Badui Dalam itu terhitung 5 Februari sampai 5 Mei 2019," kata pemuka adat yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Saija saat dihubungi di Lebak, Senin.

    Masyarakat Badui Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikeusik dan Cikawartana kini tertutup dari wisatawan, karena tengah merayakan tradisi Kawalu.

    Tradisi Kawalu bagi masyarakat Badui Dalam dinilai sakral dari leluhur adat dan dilaksanakan setiap tahun.

    Selama tiga bulan mereka melaksanakan ritual Kawalu dengan puasa dan berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan kedamaian dan kesejahteraan juga dijauhkan malapetaka bencana.

    "Kami memohon maaf kepada wisatawan selama Kawalu dilarang mengunjungi kawasan masyarakat Badui Dalam," katanya.

    Ia juga mengatakan, pelarangan tersebut juga telah dipasang peringatan di pintu gerbang Badui di Ciboleger agar wisatawan menaati hukum adat.

    Perayaan Kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Badui Dalam.
    Seorang wanita suku Baduy Luar memintal benang untuk menenun kain di kampung Gajebo, Kabupaten Lebak, Banten. Seiring banyaknya wisatawan yang datang, kebutuhan akan buah tangan hasil kerajinan suku Baduy pun meningkat. Tempo/Rully Kesuma
    Mereka masyarakat Badui Dalam selama Kawalu tampak sepi dan lebih banyak memilih tinggal di rumah-rumah.

    "Kami berharap tradisi Kawalu itu dilaksanakan warga Badui Dalam penuh khidmat dan diberikan kehidupan yang lebih baik," katanya.

    Sementara itu, Plh Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin mengatakan, pihaknya sangat menerima pelarangan wisatawan memasuki kawasan Badui Dalam selama Kawalu, karena menjadikan bentuk toleransi dan saling hormat menghormati terhadap budaya lokal itu.

    Namun, pelarangan itu tidak mempengaruhi kunjungan wisatawan ke permukiman Badui.

    Sebab, kawasan permukiman Badui Luar boleh dikunjungi wisatawan. "Saya kira wisatawan ke Badui cukup banyak dan mereka bisa bertemu dengan warga Badui Luar," katanya.

    Imam menjelaskan, wisatawan itu tidak seluruhnya ingin menginap di permukiman Badui Dalam.

    Dia menambahkan wisatawan yang berkunjung ke permukiman Badui cukup senang dengan mengunjungi Badui Luar dan mereka bisa menikmati aneka kerajinan Badui sebagai buah tangan. "Saya kira produksi kerajinan Badui cukup banyak di antaranya tenun, cendera mata, tas koja, golok, gula aren, batik Badui dan lainya," katanya.

    Baca juga: Mencegah Kepunahan Angklung Buhun Khas Baduy


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Muatan Limbah Beracun Di Markas Tentara

    Delapan markas tentara di Jawa Timur telah menjadi tempat penimbunan bahan berbahaya dan beracun.