Pernah Hancur oleh Tsunami, Tilik Cara Pariwisata Aceh Bangkit

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan mancanegara asal Malaysia memperlihatkan sertifikat yang diperoleh seusai mengunjungi situs tsunami kapal di atas rumah pada hari peringatan 12 tahun bencana gempa dan tsunami di Banda Aceh, Aceh, 26 Desember 2016. Peringatan 12 tahun bencana gempa dipusatkan di masjid Baiturrahim Ulee Lheu dengan melaksanakan doa bersama. ANTARA/Irwansyah Putra

    Wisatawan mancanegara asal Malaysia memperlihatkan sertifikat yang diperoleh seusai mengunjungi situs tsunami kapal di atas rumah pada hari peringatan 12 tahun bencana gempa dan tsunami di Banda Aceh, Aceh, 26 Desember 2016. Peringatan 12 tahun bencana gempa dipusatkan di masjid Baiturrahim Ulee Lheu dengan melaksanakan doa bersama. ANTARA/Irwansyah Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh terus berbenah dan membangun berbagai infrastruktur, khususnya sarana pendukung pariwisata guna meraih lebih banyak kunjungan wisatawan ke daerah yang pernah luluh lantak akibat gempa dan tsunami 14 tahun lalu.

    Baca juga: Festival Khanduri Laot Sabang Hidangkan Makanan Laut untuk Turis

    Sektor pariwisata diyakini mampu membawa perubahan dan kemajuan pesat bagi Kota Banda Aceh di masa mendatang, sebab didukung sejumlah objek andalan yang merupakan jejak tsunami 26 Desember 2004.

    Situs-situs tsunami yang tersebar di sejumlah lokasi di pesisir Kota Banda Aceh itu akan menjadi magnet bagi wisatawan, baik Nusantara maupun mancanegara, berkunjung ke daerah berjuluk Serambi Mekkah itu.

    Tsunami 14 tahun silam yang menyebabkan sedikitnya 170 ribu jiwa dinyatakan meninggal dunia memang meninggalkan duka, namun di balik itu semua juga membawa kabar gembira menyusul berakhirnya konflik bersenjata antara pemerintah dengan pihak GAM di Aceh.

    Kini, situasi keamanan di Aceh yang terus berangsur membaik telah berdampak semakin ramainya kunjungan wisatawan, baik Nusantara maupun mancanegara, ke sejumlah daerah tujuan wisata, khususnya Kota Banda Aceh dan Sabang.
    Perahu hias mengikuti parade budaya di lokasi wisata Sungai Krueng Aceh, Banda Aceh, Aceh, Senin 13 Agustus 2018. Puluhan perahu hias dari sejumlah kabupaten/kota di Aceh mengikuti lomba yang diselenggarakan sebagai bagian dari Pekan Kebudayaan Aceh VII, sekaligus dalam rangka menyambut HUT ke-73 RI. ANTARA FOTO/Ampelsa
    Beberapa objek wisata potensial yang setiap hari tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan adalah situs tsunami di Kota Banda Aceh, seperti PLTD Apung, kapal "nabi Nuh" Lampulo, Masjid Raya Baiturrahman, dan Kubah Masjid terhempas tsunami di Desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

    Kemudian Museum Tsunami Aceh di Jalan Iskandar Muda, pusat Kota Banda Aceh. Museum ini memiliki suasana yang seolah menjadi simulasi peristiwa tsunami 2004. Di dalam museum itu juga terdapat koleksi foto kondisi Banda Aceh beberapa hari tsunami dan ruangan berisi nama-nama korban.

    Melihat potensi ekonomi dari pariwisata ini menjanjikan, maka pemerintah setempat berupaya membangun berbagai fasilitas pendukung lainnya, dengan harapan ke depan sektor tersebut akan menjadi salah satu penyumbang pendapatan daerah dan lapangan kerja.

    Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengaku optimistis sektor pariwisata di Ibu Kota Provinsi Aceh tersebut bakal maju di masa mendatang karena potensinya cukup besar dan beraneka ragam.

    "Sektor pariwisata Banda Aceh bakal maju di masa mendatang, bukan hal mustahil. Dan kami yakin ini," katanya menjelaskan.

    Aminullah Usman mengungkapkan keyakinannya sektor pariwisata bakal maju karena Banda Aceh memiliki kelebihan dibandingkan dengan objek wisata daerah lainnya.

    "Banyak daya tarik wisatawan berkunjung ke Banda Aceh. Seperti destinasi cagar budaya, wisata islaminya, hingga cita rasa kuliner, yang mendukung kemajuan sektor pariwisata Kota Banda Aceh," ungkap Aminullah Usman.
    Bumbu dapur khas untuk memasak aneka kuliner Aceh dirias untuk menjadi objek foto para fotografer yang mengikuti lomba foto di Museum Aceh, Banda Aceh 15 Mei 2017. TEMPO/ADI WARSIDI
    Melihat potensi tersebut, lanjut dia, Pemerintah Kota Banda Aceh menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan guna meningkatkan perekonomian masyarakat.

    Selain itu juga menggencarkan promosi pariwisata Kota Banda Aceh agar wisatawan berbondong-bondong berkunjung ke Ibu Kota Provinsi Aceh tersebut.

    Untuk meningkatkan kunjungan tersebut, kata dia, mulai melakukan pengembangan kawasan wisata, di antaranya, membangun kawasan Ulee Lheue sebagai pusat wisata kuliner dan pantai.

    "Di kawasan itu juga akan dibangun lokasi zikir bertaraf internasional untuk menjaring wisatawan Muslim dunia. Kemudian ada wisata air di bantaran Krueng Aceh dan Krueng Daroy serta lainnya," sebut Wali Kota.

    Menyangkut dengan target kunjungan, kata dia, Pemerintah Kota Banda Aceh menargetkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara mencapai satu juta orang pada 2019.

    "Kami juga mengajak masyarakat bersama-sama mempromosikan pariwisata Banda Aceh. Serta memberikan keramahtamahan kepada setiap wisatawan yang berkunjung," kata Aminullah Usman.

    Usaha lain adalah Pemerintah Kota Banda Aceh  memfokuskan kerja sama dengan Pemerintah Kota Higashimatsushima, Jepang, di bidang pariwisata. Di antaranya cagar budaya, wisata religi, kesenian, kuliner, dan lainnya yang menjadikan Banda Aceh sebagai daerah tujuan wisata.

    Kemudian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menyatakan branding Aceh melalui Cahaya Aceh (the Light Of Aceh) akan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke provinsi setempat.

    "Alhamdulillah branding ini membuat Aceh terus dikenal oleh mancanegara melalui berbagai budaya dan pariwisata yang digelar sepanjang tahun oleh Pemerintah Aceh bersama Pemerintah Pusat dan juga kabupaten/kota," kata Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh Rahmadhani.

    Ia menjelaskan branding Cahaya Aceh tersebut mampu meningkatkan kunjungan wisata pada Tahun 2017 sekitar 2.944.169 orang terdiri 2.865.189 wisatawan Nusantara dan 78.980 wisatawan mancanegara dibanding dengan Tahun 2016 yang hanya sebanyak 2.154.249 orang terdiri dari 2.077.797 orang Nusantara dan 76.452 wisman.


    Baca juga: Kunjungan ke Aceh Meningkat, Turis Asing Ingin Mengenang Tsunami


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tiga Pansel Capim KPK dan Konflik Kepentingan dengan Kepolisian

    Koalisi Kawal Calon Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi mendesak Jokowi agar menelusuri dugaan konflik kepentingan tiga anggota pansel capim KPK.