Jumat, 14 Desember 2018

Festival Khanduri Laot Sabang Hidangkan Makanan Laut untuk Turis

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para nelayan melarung mengikuti tradisi Nadran (Pesta Laut) di Perairan kepulauan Seribu, Jakarta, 21 Desember 2014. Kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur nelayan terhadap hasil tangkapan ikan yang melimpah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Para nelayan melarung mengikuti tradisi Nadran (Pesta Laut) di Perairan kepulauan Seribu, Jakarta, 21 Desember 2014. Kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur nelayan terhadap hasil tangkapan ikan yang melimpah. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Pemerintah Kota Sabang, Aceh, menyelenggarakan Festival Khanduri Laot 2018 pada Sabtu hingga Senin, 28-30 April 2018. Kenduri laot berarti pesta laut.

    Acara ini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Puluhan turis dari beberapa negara menikmati sajian pesta yang berlangsung di Pelabuhan CT 3 Gampong Kuta Timur, Kecamatan Suka Karya, Sabang.

    Baca juga: Agenda Wisata Mei: Kuliner Aceh sampai Festival Isen Muleng

    Para turis dari Kanada, Amerika Serikat, New Zealand, Australia, dan Jerman menikmati sejumlah atraksi dan tari seni tradisional yang disuguhkan pada pembukaan Kenduri Laot Festival ini. Even yang baru pertama kali digelar ini bersamaan dengan acara Sabang Marine Festival 2018.

    Wali Kota Sabang, Nazaruddin, mengatakan perkembangan zaman yang semakin modern dan canggih terasa membuat pudar adat dan budaya lokal. Maka pemerintah dan warga perlu melestarikan adat istiadat yang ada di Aceh, khususnya adat kenduri laot yang sudah turun termurun dilaksanakan. “Globalisasi telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya, terutama adat kenduri laot,” katanya.

    Mewakili Gubernur Aceh, Staf Ahli Bidang Keistimewaan dan Hubungan Antar Lembaga, Abdul Karim, mengatakan pada masa Orde Baru, tradisi kenduri laot dan lembaga Panglima Laot tidak mendapatkan tempat. Akan tetapi, sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, eksistensi lembaga Panglima Laot kembali mendapatkan tempat dan sudah diakui oleh negara. Sehingga harus terus dikembangkan dan didukung.

    Karim mengungkapkan, keberadaan Panglima Laot menjadi penting dalam tatanan kehidupan sosial nelayan di Aceh. Lembaga Panglima Laot bisa menjadi mediator bila ada selisih atau sengketa antar nelayan. “Panglima Laot itu menjadi mediator bila ada sengketa, menjadi penghubung antara nelayan dengan pemerintah dan juga bisa menjadi lembaga yang menjaga ekosistem laut, dan yang terpenting Panglima Laot itu menjadi pemersatu,” ucap dia.

    Filosofi yang terpenting kenduri laot itu, ujarnya, adalah rasa syukur seluruh nelayan apa yang telah didapatkan dari laut. Laut menjadi sumber rezeki bagi nelayan yang tinggal di pesisir, khususnya masyarakat Sabang.

    Sedangkan bila ditinjau dari dunia pariwisata, pesta ini juga bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara datang ke Sabang. Mereka selama ini tidak pernah melihat kebiasaan nelayan yang ada di Aceh saat sebelum dan sesudah melaut. “Dengan adanya acara Kenduri Laot ini akan bisa mendatangkan banyak wisatawan mancanegara ke Sabang nantinya,” tuturnya.

    Artikel Lain: Upacara Pemotongan Rambut Gimbal di Dieng Culture Festival


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.