Minggu, 18 November 2018

Peserta World Heritage Camp Indonesia Pelajari Budaya Yogya

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang bocah melintasi mural di Kotagede, Yogyakarta, 21 November 2017. Kotagede merupakan kota lama yang dibangun oleh Panembahan Senopati pada abad ke-16 sebagai ibu kota Kerajaan Mataram Islam. Berdirinya Kotagede sebagai ibu kota awal kerajaan itu menandai munculnya kerajinan perak di sana. ANTARA FOTO/Maulana Surya

    Seorang bocah melintasi mural di Kotagede, Yogyakarta, 21 November 2017. Kotagede merupakan kota lama yang dibangun oleh Panembahan Senopati pada abad ke-16 sebagai ibu kota Kerajaan Mataram Islam. Berdirinya Kotagede sebagai ibu kota awal kerajaan itu menandai munculnya kerajinan perak di sana. ANTARA FOTO/Maulana Surya

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sebanyak 45 peserta World Heritage Camp Indonesia (WHCI) mengeksplorasi kekayaan budaya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai Jumat 7 September 2018. Dari sejumlah pelajar dan mahasiswa yang ikut kegiatan tersebut delapan di antaranya berasal dari negara-negara Asean.

    Kepala Seksi Pengelolaan  Bidang Warisan Benda Dunia  Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Anton Wibisono mengatakan kegiatan ini digelar terkait isu kerentanan warisan budaya dunia dari ancaman-ancaman yang berasal dari luar maupun dari dalam. Para peserta berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang terseleksi.

    "Mereka memiliki semangat yang besar, kemampuan berpikir kritis dan mampu menjadi poros pendorong dalam usaha pelindungan dan promosi warisan budaya dunia di Indonesia," katanya di Griya Batik Winoto Sastro Yogyakarta.

    Baca Juga: 

    Nostalgia, Ini 4 Jajanan Pasar Legi Kota Gede Jogja

    Yogyakarta dipilih karena memiliki kekayaan warisan budaya yang kompleks. Berbagai lapis kebudayaan ada di DIY. Anton berharap peserta memahami Warisan Budaya (benda dan takbenda) khususnya di DIY dan kaitannya dengan Konvensi UNESCO.

    Peserta dapat melihat langsung implementasi warisan budaya tak benda di DIY mulai dari Gua Braholo Gunungkidul, Candi Kendulan Sleman, Kotagede dan Keraton Yogya hingga griya batik dan wayang yang dinilai sebagai satu rangkaian warisan budaya tak benda hasil kebudayaan sebelumnya.

    Sejumlah Duta Museum memperkenalkan karakter tokoh wayang kepada siswa di Museum Wayang Kekayon, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta, 31 Juli 2017. Sekitar 300 cagar budaya dan museum di bawah pengelolaan Kemendikbud yang tersebar di seluruh Indonesia. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    "Kami juga ajak peserta ke Pasar Beringharjo untuk berinteraksi dan wawancara dengan pedagang soal batik. Peserta juga kami ajak membuat batik untuk memberi pengalaman cara menghasilkan sebuah karya motif batik," katanya.

    Hartanti Maya, Kepala Seksi Pengusulan Warisan Budaya Tak Boenda Bidang Warisan Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud menyebut dari 45 peserta sebanyak delapan orang berasal dari negara Asean seperti Malaysia, Vietnam, Laos, Filipina, Thailand.

    "Peserta diberi pemahaman soal batik sebagai warisan leluhur Nusantara. Mereka dapat terlibat dalam pelindungan batik dan bisa terlibat dalam upaya pelestarian terhadap ancaman batik," katanya.

    Noor Afiq Bin Othman, warga Kelantan, Malaysia mengatakan keikutsertaannya dalam kegiatan itu untuk membedakan proses dan produksi batik di Yogya dan Malaysia. "Ternyata tidak jauh berbeda. Hanya saja masalah corak yang membedakan. Kalau di Malaysia coraknya lebih ke flora fauna kalau Yogya lebih ke kultural," katanya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.