Sabtu, 26 Mei 2018

Pendaki Atasi 4 Tantangan Death Zone Sebelum Puncak Everest

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pendaki mahasiswi tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan (WISSEMU), Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, berhasil mencapai puncak Everest pada 17 Mei 2018. instagram.com

    Dua pendaki mahasiswi tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan (WISSEMU), Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, berhasil mencapai puncak Everest pada 17 Mei 2018. instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unversitas Parahyangan (WISSEMU) perlu waktu 6,5 jam untuk sampai ke puncak Gunung Everest dari Camp 3, Kamis, 17 Mei 2018. Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, 24 tahun, harus menghadapi dan lolos dari empat tantangan jalur di wilayah yang disebut Death Zone itu.

    Wilayah yang dilewati itu disebut Death Zone karena berketinggian lebih dari 8.000 meter dari permukaan laut (mdpl). Di sini Kadar oksigen yang rendah, serta ketinggian yang tidak dirancang untuk tubuh manusia. Setiap pendaki punya tenggat waktu agar selamat. Mereka diperingatkan agar tidak berada di death zone selama 24 jam.

    Baca juga: Dua Mahasiswi Indonesia Berhasil Mencapai Puncak Everest

    Tim pendukung di Bandung lewat keterangan tertulisnya menyebutkan, perjalanan dari Camp 3 setinggi 8.225 mdpl pada 17 Mei 2018 dimulai pukul 23.30 waktu setempat. "Perjalanan menuju puncak dari titik terakhir ini pun ditemani dengan angin kencang dan suhu udara yang mencapai -25 derajat Celcius," kata anggota tim pendukung di Bandung, M.Reinaldo Theta Auriga.

    Sebelumnya ketika berada di Camp 3, Fransiska mengabarkan lewat pesan teks. "Puji Tuhan sampai di Camp 3, cuaca berawan, view-nya bagus banget, Everest-nya kelihatan banget, deg-degan dan terharu."Sejumlah pendaki melewati celah gunung mengikuti pemimpinnya menggunakan tangga lipat di Khumbu Icefall, Gunung Everest, 28 April 2016. Pendaki harus mempersiapkan mental dan fisiknya karena bisa disengat hawa dingin dan beku atau sakit dekat puncak Everest. Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS

    Setelah itu mereka menghadapi empat tantangan kondisi fisik yang cukup berat, yaitu Exit Crack, 1st step, 2nd step dan 3rd step. Keempat jalur ini memiliki tantangan serupa, yaitu melewati tebing bebatuan dan patahan tebing sehingga sangat diperlukan teknik tali temali untuk melewati jalur fix rope.

    Pendakian Exit Crack yang sangat terjal seperti menaiki tebing dan membutuhkan teknik mendaki lebih. Setidaknya perlu Ice Axe dan peralatan lainnya untuk melewati medan ini.

    Tantangan 1st Step memiliki medan bebatuan besar. Pendaki yang sedang mengenakan crampon akan merasakan kesulitan untuk berjalan diatas batu. Tempat itu juga menjadi kuburan alami para pendaki Everest.

    Langkah selanjutnya adalah 2nd Step. Di ketinggian 8.577 mdpl, tebingnya hampir vertikal dengan sudut tebing 40 derajat.

    Berdasarkan catatan WISSEMU di akun media sosialnya, dari empat tantangan yang memacu adrenalin pendaki itu, tantangan terakhir yaitu 3rd step dinilai lebih mudah. Jalur vertikal yang akan dilalui hanya sepuluh meter dan setelah itu sudah terlihat hamparan salju dan puncak Everest.

    ANWAR SISWADI (Bandung)


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia 2018

    Persatuan Bulu Tangkis Indonesia mengumumkan tim Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas dan Uber, digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018.