Taman Nasional Komodo Memiliki Terumbu Karang Terbaik di Dunia  

Selasa, 16 Mei 2017 | 06:40 WIB
Taman Nasional Komodo Memiliki Terumbu Karang Terbaik di Dunia  
Deretan rumah-rumah warga sukyu Bajau yang berdiri di atas laut dangkal di Togean, Sulawesi Tengah. Orang Bajo berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina Selatan yang hidup nomaden di laut. Pelayaran sejak ratusan tahun silam itu membawa mereka ke perairan Sulawesi hingga Lombok dengan mendirikan kampung besar bernama Labuan Bajo. TEMPO/Isma Savitri

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu mengatakan berbagai hasil penelitian menunjukkan Taman Nasional Komodo adalah jantung segitiga terumbu karang dengan keanekaragaman hayati laut paling kaya di dunia.

Baca: Taman Nasional Komodo HUT ke-37, Google Doodle ...

"Taman Nasional Komodo merupakan jantung segitiga terumbu karang dengan keanekaragaman hayati laut paling kaya di dunia," katanya di Kupang, Sabtu, 13 Mei 2017.

Karena itu, kata dia, wilayah perairan di sekitar Pulau Komodo dan Labuan Bajo terpilih sebagai wilayah penyelaman terbaik di dunia, mendampingi Raja Ampat.

Menurut dia, penobatan itu berdasarkan penilaian dari CNN. Penghargaan ini membuat pemerintah pusat, Provinsi NTT, dan Kabupaten Manggarai Barat berusaha memaksimalkan lagi potensi wisata di wilayahnya.

Walaupun Labuan Bajo berada di Flores Barat, tapi wisatawan tidak hanya datang ke Labuan Bajo dan sekitarnya, tapi juga mengelilingi NTT. "Ini tentu saja memacu kita untuk mengembangkan pariwisata," ucapnya.

Ia menjelaskan, Taman Nasional Komodo memiliki sejumlah titik penyelaman yang tersebar di Labuan Bajo, Pulau Komodo, dan Pulau Rinca dengan karakteristik masing-masing.

"Selain perairan Komodo dan Labuan Bajo, perairan di Pulau Alor juga memiliki 50 titik penyelaman, yang tersebar sampai ke Pulau Pantar, yang juga memiliki keindahan terumbu karang dan aneka hayati dalam laut lain," ujarnya.

ANTARA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan