Minggu, 18 November 2018

Jelajahi Waktu di Museum Tengah Kebun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Cornila Desyana

    TEMPO/Cornila Desyana

    TEMPO.CO , Jakarta - Selamat datang di Museum di Tengah Kebun. Begitulah kira-kira pesan yang tersampaikan ketika pintu gerbang kayu terbuka. Disambut penjaga keamanan, Tempo diantar ke pelataran museum melewati kerindangan pohon palem pada kanan-kiri jalan.

    Meski museum terletak di Jalan Kemang Timur Raya Nomor 66, Jakarta Selatan,  di bagian teras suara hilir-mudik kendaraan tak lagi riuh terdengar. Rasanya seperti telah meninggalkan keriuhan kota, walau jaraknya hanya 20 meter dari bibir jalan.

    Si empunya museum di Tengah Kebun, Sjahrial Djalil, 72 tahun, mulai menerima kunjungan tamu pada 2009 lalu. Berbentuk rumah tinggal, sejak pembangunannya selesai (1 Oktober 1980) museum ini juga dijadikan tempat tinggal oleh Sjahrial, sampai sekarang. Bangunan seluas 3.500 meter persegi itu sendiri merupakan benda bersejarah. Sebab temboknya terdiri dari tumpukan batu bata zaman VOC.

    "Tembok rumah dibangun dengan 65 ribu batu bata dari gedung VOC," kata pemandu museum, Mirza Djalil. "Batu bata dicopot satu per satu dari bangunan asli pada 1979," ujarnya.

    Tapi 65 ribu batu bata itu dirasa masih kurang. Oleh karena itu Sjahrial harus kembali mencari bongkahan batu bata tua. Kali ini 15 ribu batu bata dia dapat dari gedung meteorologi yang dibangun 1896. "Engsel pintunya saja berasal dari Penjara Wanita Bukit Duri, di tepi Sungai Ciliwung, Jakarta," kata Mirza.

    Gedung penjara merupakan sisa peninggalan gedung Meester Cornelis di abad ke-18. Pada pelataran rumah nuansa museum sudah terasa. Jejeran barang bernilai sejarah tinggi terpampang di sana. Misalnya papan kayu berukir tokoh wayang Batara Indra abad ke-19 yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat; tempayan besar abad ke-18 dari Dinasti Qing, Cina; fosil pohon berusia 284 juta tahun; serta duplikat patung Nabi Musa yang dibuat Michaelangelo di abad ke-19.

    Pintu utama dibuka. Permadani Pakistan abad ke-19 terhampar menyambut langkah kaki tamu di Ruang Loro Blonyo, nama ruangan yang diambil dari sepasang patung asal Jawa Timur tahun 1800-an. Kedua pahatan kayu itu memang ada dalam ruang utama, berdiri di atas peti cokelat berukir warna emas. Peti yang berasal dari Palembang pada tahun 1800-an.

    “Benda bersejarah di sini ada sekitar 2.000-an buah. Paling banyak asalnya dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia, terutama Indonesia,” kata Mirza.

    Terus masuk ke dalam, Tempo sampai di Ruang Buddha Myanmar. Seluas 8x6 meter, bagian rumah ini berfungsi sebagai tempat duduk Sjahrial atau berbincang dengan tamu. Kenapa diberi nama Buddha Myanmar, karena satu koleksi museum di sana adalah patung perunggu Buddha asal Myanmar. Dibuat pada abad ke-17, patung kuning kehitaman itu duduk bersila sambil tersenyum di atas meja kayu berlaci.

    Ruang Buddha Myanmar tidak hanya berisi patung, ukiran, lemari, atau peti berumur tua, perabot ratusan tahun juga terpajang di sana. Contohnya bangku panjang dari kenong gamelan Jawa Timur yang dibuat akhir tahun 1800-an. "Duduk saja di bangkunya, nggak usah takut," kata Mirza mempersilakan.

    Dengan hati-hati Tempo duduk, rasanya degdegan. Antara senang karena bisa duduk di bangku bersejarah dan perasaan takut akan merusaknya. Dari ruang Buddha Myanmar, Tempo tak hanya dapat melihat koleksi benda tua, tapi juga menikmati embusan angin dari taman belakang museum yang melewati celah pintu kaca. Membuat museum terasa sejuk.

    Benda bersejarah dipajang pada bagian utama rumah saja. Patung perunggu, ukiran, guci atau arca juga mengisi dapur dan ruang makan yang bernama Dewi Sri. "Patung Dewi Sri yang ada di sini berasal dari Jawa tengah abad ke-10," ujar Mirza.

    Tidak cuma itu, Sjahrial juga tidur di atas dipan kayu berusia ratusan dalam Ruang Buddha Thailand. Kala beristirahat, tatapan mata patung dan lukisan Eropa mengarah ke Sjahrial. Misalnya arca kepala Buddha Ayutthaya dari Thailand yang dibuat tahun 1600 silam; patung Bunda Maria bersama Sang Putra asal Spanyol di abad ke-18; ataupun lukisan Kaisar Ferdinand II asal Austria di abad ke-17.

    Yang paling membuat terpesona adalah kamar mandi yang diberi nama Ruang Singagaruda. Kamar mandi Sjahrial tidak seperti pada rumah umumnya, ruang seluas 9x11 meter itu dipenuhi benda abad belasan. Kursi malas dari dinasti Qing, Cina, di tahun 1700-an; lampu minyak Prancis bergaya Empire dari abad ke-19; dan bangku mahagoni milik Raja George II. Kamar mandi itu langsung terhubung dengan taman kecil yang hanya dibatasi dinding kayu ala Jepang. Sungguh kamar mandi yang nyaman.

    Lalu kenapa rumah sejarah itu dinamakan Museum di Tengah Kebun, karena letaknya memang dikelilingi taman seluas 700 meter persegi. Pada taman belakang, air biru yang mengisi penuh kolam renang yang membuat warna kontras dengan kehijauan pepohonan di sana. Di pusat taman, duduk arca Ganesa yang dipahat pada tahun 800-an di Jawa Tengah.

    “Kalau malam, Ganesanya seakan-akan tidur,” kata Mirza.

    Mengelilingi Museum di Tengah Kebun, rasanya seperti jalan-jalan keliling dunia dengan mesin waktu. Alih-alih perasaan seram yang kerap muncul ketika melihat benda bersejarah, diganti dengan decak kagum tak habis-habisnya keluar dari mulut tiap memasuki pelbagai ruang.

    Kalau berminat berkunjung, Anda bisa datang pada hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu pada pukul 9.45 dan 12.45. Tanpa ditarik bayaran sepersen pun, main ke Museum di Tengah Kebun bisa dilakukan rombongan berisi 7-10 orang. Dan jangan ngaret dari waktu yang sudah ditentukan, karena dijamin Anda tidak akan boleh masuk jika datang terlambat. Anda juga tidak bisa “selonong boy” begitu saja datang ke sana.

    Beberapa hari sebelum kunjungan, Anda harus melakukan pemesanan atau pemberitahuan terlebih dahulu. Caranya telepon ke nomor 021-7196907 atau membuka situsnya di museumditengahkebun.org. Lalu, jelajahi mesin waktu.

    CORNILA DESYANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.