Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Menikmati Perjalanan Budaya di Kampung Tradisional Bena di Kabupaten Ngada

Reporter

image-gnews
Jejeran rumah adat di Kampung Tradisional Bena, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/Fransiska Mariana Nuka
Jejeran rumah adat di Kampung Tradisional Bena, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/Fransiska Mariana Nuka
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Kampung Tradisional Bena terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang terkenal sebagai kampung megalitikum di Flores. Kampung ini telah menjadi ikon wisata Ngada yang mendunia, jauh sebelum destinasi wisata lain bermunculan di kabupaten tersebut.

Secara administratif, Bena masuk dalam wilayah geografis Desa Tiworiwu di Kecamatan Jerebu'u dan berada di sebelah timur kaki Gunung Inerie. Kampung tradisional ini berjarak sekitar 15,6 km arah selatan Kota Bajawa lewat Watujaji. Kampung Bena berbentuk memanjang dari depan (arah utara) hingga ke belakang (selatan). Hanya dua jalan yang menjadi akses masuk dan keluar kompleks rumah adat tersebut.

Sebanyak 45 rumah tradisional berderet berhadap-hadapan timur barat. Nuansa budaya sangat kental ketika kaki mulai melangkah masuk ke dalam kawasan rumah adat. Para pengunjung yang hendak berwisata budaya ke tempat itu harus membayar Rp 20 ribu sebagai karcis masuk. Penerapan tiket masuk ini diatur dalam Peraturan Desa Tiworiwu Nomor 7 Tahun 2015 tentang Pungutan Desa Karcis Tanda Masuk Kampung Tradisional Bena.

Setelah membayar karcis, wanita penjaga loket memakaikan selendang yang menjadi tanda bagi pengunjung. Pemandu wisata lokal bernama Emiliana Kopa, 53 tahun, bisa menemani wisatawan mancanegara maupun domestik. Pada setiap rumah, para pengunjung bisa melihat berbagai jenis sarung tenun, selendang, dan gelang buatan para perempuan Bena yang berjejer rapi. 

Berdasarkan informasi dari Pusat Informasi Pariwisata Kampung Adat Bena, ragam motif tenun ikat untuk sarung dan selendang di Bena tidak berbeda dari kampung lain. Motif yang sering dijumpai yakni bergambar jara (kuda), wa'i manu (cakar ayam), ghi'u (garis dinamis), ube, ngadhu, dan bhaga. Namun, yang membedakan ikat Bena dengan kampung lain adalah penggunaan warna dasar motif yang biru nila. Meskipun warna dasar sarung sama, hitam, namun ada perbedaan, yakni garis merah dan kuning pada bagian tepi bawah.

Emiliana menjelaskan ada perbedaan yang mencolok pada minat wisatawan ke kampung itu. Biasanya, wisatawan domestik tidak terlalu mendalami sisi lain kampung adat tersebut kecuali yang berasal dari kementerian atau peneliti. Mereka menghabiskan waktu untuk berfoto, menikmati keindahan kampung, dan berbelanja produk lokal.

Namun, wisatawan mancanegara memiliki minat yang mendalam terhadap nilai-nilai budaya di kampung adat Bena. Mereka pun membutuhkan narasi kuat yang bisa menjelaskan tentang asal usul kampung, sistem perkawinan, cerita di balik setiap sarung tenun ikat, makna rumah, dan ritus-ritus adat yang ada di kampung tersebut.

Berbicara tentang rumah, Kampung Adat Bena memiliki filosofi sendiri tentang rumah tinggal. Kampung itu dihuni oleh sembilan suku dan setiap suku memiliki rumah keluarga inti (Sao Meze) nenek moyang perempuan yang disebut sao saka pu'u dengan tanda miniatur bhaga di atas atap, yang masing-masing tepi atapnya terpasang tusuk rambut terbuat dari bambu dengan kepala muda berukuran kecil sebagai pangkalnya yang disebut ana ie.

Selanjutnya untuk rumah inti nenek moyang laki-laki dinamakan sa'o saka lobo yang diidentifikasikan dari patung pria berbalut ijuk yang memegang parang dan tombak yang terpasang di atas rumah. Setiap rumah besar mempunyai rumah pendukung yang disebut kaka pu'u dhai pu'u dan kaka lobo, dhai lobo.

Setiap rumah di Kampung Adat Bena terdiri dari tiga bagian, yaitu lewu sebagai tiang penunjang yang ditanam ke tanah, sao untuk bagian lantai dan dinding, serta iru untuk bagian atap. Area rumah terbagi menjadi tiga tingkatan, yakni teda moa, digunakan untuk situasi santai seperti perempuan menenun sambil menjaga anak kecil. Lalu masuk ke dalam ada area teda one yang diperuntukkan untuk menerima tamu atau dalam situasi resmi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Terakhir ada one sao atau bagian paling dalam. One sao dilengkapi plat kayu di pintu masuk yang dinamakan kabapere dengan beberapa ukiran motif seperti kepala kerbau, ayam, dan sawa di sisi kanan kiri dan bawah mengapit pintu masuk yang berukuran kecil. Ketika masuk ke one sao, ada sikap menunduk sebagai tanda hormat kepada mataraga, yakni media sakral yang dianggap penghubung Yang Maha Kuasa dengan manusia yang hidup di dalam rumah. Area one sao digunakan sebagai dapur dan tempat tidur bagi keluarga di rumah tersebut.

Dampak ekonomi
Kunjungan wisatawan ke Kampung Tradisional Bena perlahan-lahan mulai membaik pascapandemi COVID-19. Dari data Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, jumlah kunjungan ke kampung adat tersebut Januari-Juni 2023 telah mencapai 33.428 orang. Tingginya jumlah kunjungan tersebut berdampak positif pada tingkat ekonomi masyarakat setempat.

Ketua Pengelola Pariwisata Kampung Adat Bena, Emanuel Sebo mengatakan kunjungan itu memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Hasil tenun ikat yang ada di setiap rumah pasti laku terjual, rata-rata satu kain seharga Rp 300 ribu terjual per minggu. Dalam sebulan, satu rumah penenun bisa mendapatkan Rp 1,2 juta dari kain tenun. Nilai tersebut merupakan nilai minimal saat suasana normal. 

Dalam kondisi ramai seperti libur panjang, para penenun bisa mendapatkan lebih dari Rp 300 ribu per hari untuk satu jenis kain tenun yang terjual. Pendapatan itu baru diperoleh dari sarung atau selendang tenun yang dijual oleh para penenun. Ada berbagai jenis usaha produk lokal lain yang ditawarkan di desa tersebut. 

Para pengunjung bisa menyewa pakaian adat Rp 100 ribu per orang, lalu sewa penginapan Rp 200 ribu per malam, sewa tarian ja'i Rp 2,5 juta per paket, sewa suling Rp 1,5 juta per paket, sewa musik rakyat Rp 1,5 juta per paket, sewa permainan tradisional atau sago alu Rp 1 juta per paket, dan sewa Soka dan Teke Rp 2 juta per paket. Semua uang yang diperoleh dari penjualan paket-paket wisata itu masuk ke kas lembaga tersebut. 

Masyarakat pun merasakan dampak geliat pariwisata di Kabupaten Ngada. Kini setiap hari selalu ada kunjungan ke kampung adat tersebut. Wisatawan mancanegara dan nusantara tidak absen mengunjungi kampung tua itu. Bupati Ngada, Andreas Paru, pun terus menggaungkan potensi budaya kampung adat Bena. 

Dalam berbagai momen, Andreas mempromosikan keunikan budaya dari kampung tradisional yang ada di Ngada, salah satunya Bena. Ia menjamin wisatawan tidak akan kecewa setelah berkunjung ke Kabupaten Ngada. Untuk lebih mengoptimalkan pengelolaan potensi pariwisata di Ngada, ia menjalin koordinasi dan kolaborasi dengan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Kampung wisata itu juga masuk dalam peta tematik BPOLBF sehingga wisatawan bisa merancang perjalanan wisata budaya ke sana.

Pilihan Editor: Marselino Ferdinan Kembali ke Kampung Halaman, Inilah Deretan Wisata di Bajawa NTT

Iklan

Berita Selanjutnya



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Profil Pulau Ende yang Menjadi Tempat Sukarno Merumuskan Pancasila

12 hari lalu

Patung Soekarno di Kota Ende. BPMI Setpres/Laily Rachev
Profil Pulau Ende yang Menjadi Tempat Sukarno Merumuskan Pancasila

Pulau Ende terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini menjadi saksi bisu proses Sukarno dalam perenungan dan merumuskan Pancasila.


Universitas Muhammadiyah Maumere Bolehkan Mahasiswa Bayar Kuliah dengan Hasil Bumi

15 hari lalu

Universitas Muhammadiyah Maumere. muhammadiyah.or.id
Universitas Muhammadiyah Maumere Bolehkan Mahasiswa Bayar Kuliah dengan Hasil Bumi

Universitas Muhammadiyah Maumere menyediakan opsi pembayaran kuliah menggunakan hasil bumi atau komoditas pertanian.


Proses Semana Santa, Perayaan Pekan Suci Paskah di Larantuka NTT Selama 7 Hari Berturut-turut

31 Maret 2024

Warga Flores Timur berkumpul saat Pekan Suci Semana Santa dengan mengarak patung keramat Bunda Maria. Dok. Kemenparekraf
Proses Semana Santa, Perayaan Pekan Suci Paskah di Larantuka NTT Selama 7 Hari Berturut-turut

Semana Santa atau Hari Bae adalah ritual perayaan Pekan Suci Paskah yang dilakukan selama tujuh hari berturut-turut oleh umat Katolik di Larantuka, Flores Timur, NTT.


Wae Rebo di Flores Masuk Peringkat Kedua Desa Terindah Dunia 2024

24 Maret 2024

Senja di desa adat Waerebo, 28 April 2017. Desa adat Waerebo terletak di atas ketinggian 1200 Mdpl di Kabupaten Manggarai, NTT. ANTARA FOTO
Wae Rebo di Flores Masuk Peringkat Kedua Desa Terindah Dunia 2024

Media internasional The Spectator Index baru saja membagikan daftar 7 Desa Terindah di dunia. Salah satu desa di Indonesia menyabet runner up.


Pesona Wae Rebo, Desa di Atas Awan yang Diakui Dunia

23 Maret 2024

Senja di desa adat Waerebo, 28 April 2017. Desa adat Waerebo terletak di atas ketinggian 1200 Mdpl di Kabupaten Manggarai, NTT. ANTARA FOTO
Pesona Wae Rebo, Desa di Atas Awan yang Diakui Dunia

Wae Rebo, desa di perbukitan Pulau Flores, NTT dinobatkan sebagai salah satu kota kecil tercantik di dunia oleh The Spector Index, serta diakui UNESCO


Wae Rebo Masuk Daftar Kota Kecil Terindah di Dunia Menurut The Spectator Index 2024

21 Maret 2024

Rumah adat Mbaru di Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur. TEMPO
Wae Rebo Masuk Daftar Kota Kecil Terindah di Dunia Menurut The Spectator Index 2024

Wae Rebo di Flores menempati di urutan kedua setelah Rothenburg ob der Tauber di Jerman sebagai kota kecil terindah di dunia.


Mengenal Ruteng Pu'u, Kampung Adat di Flores yang Dikunjungi Capres Ganjar Pranowo

30 Januari 2024

Kampung Adat Ruteng Pu'u, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (pariwisata.manggaraikab.go.id)
Mengenal Ruteng Pu'u, Kampung Adat di Flores yang Dikunjungi Capres Ganjar Pranowo

Selain kekayaan alamnya, Kampung Adat Ruteng Pu'u juga terkenal akan sejarah dan kekayaan budayanya.


Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores NTT Terus Erupsi, Ada Pula Gunung Lewotobi Perempuan

29 Januari 2024

Gunung Lewotobi Laki-laki mengeluarkan abu vulkanik yang terlihat dari Desa Nobo, Ile Bura, Flores Timur, NTT, Rabu, 10 Januari 2024. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung api Lewotobi Laki-laki dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada Selasa (9/1/2024) pukul 23:00 WITA. ANTARA FOTO/Mega Tokan
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores NTT Terus Erupsi, Ada Pula Gunung Lewotobi Perempuan

Gunung Lewotobi Laki-laki terus eerupsi, masyarakat diimbau terus waspada. Uniknya, ada pula Gunung Lewotobi Perempuan di Flores NTT.


Badan Geologi Rekomendasikan Daerah Bahaya Letusan Gunung Lewotobi Diperlebar

17 Januari 2024

Anggota Polri mengevakuasi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Nurabelen, Ile Bura, Flores Timur, NTT, Senin, 15 Januari 2024. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, Polri, dan TNI mengevakuasi 528 jiwa warga Desa Nurabelen ke zona aman dari bencana erupsi gunung tersebut. ANTARA/Mega Tokan
Badan Geologi Rekomendasikan Daerah Bahaya Letusan Gunung Lewotobi Diperlebar

Badan Geologi memperbarui rekomendasi area yang diminta dikosongkan pada status Level IV atau Awas untuk Gunung Lewotobi Laki-laki di Pulau Flores.


Gunung Lewotobi Laki-laki Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 1.000 Meter

27 Desember 2023

Gunung Lewotobi Laki-Laki mengalami erupsi dengan ketinggian abu vulkanik mencapai satu kilo lebih dari puncak kawah utama. Erupsi ini terjadi pada Sabtu 23 Desember 2023 dan mengakibatkan beberapa desa di sekitar gunung terkena hujan abu yang dibawa angin. Dok. BNPB
Gunung Lewotobi Laki-laki Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 1.000 Meter

Lontaran abu vulkanik setinggi lebih kurang 1.000 meter yang keluar dari kawah Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur.