Wisata Virtual Tematik, Bisa Pilih yang Horor Sampai ke Puncak Gunung Tambora

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pendaki saat menuju puncak Gunung Tambora, Bima, NTB, 12 Maret 2015. Gunung Tambora meruapakan salah satu gunung berapi yang masik aktif di Indonesia. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Seorang pendaki saat menuju puncak Gunung Tambora, Bima, NTB, 12 Maret 2015. Gunung Tambora meruapakan salah satu gunung berapi yang masik aktif di Indonesia. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, BandungWisata virtual menjadi solusi sementara pelesiran di masa pandemi. Bermodal gambar dari Internet, puluhan operator membuat tayangan wisata dengan beragam tema dan tempat. Wisata virtual bertema horor di Bandung misalnya, memunculkan keseruan dan sensasi unik bagi pesertanya.

    Berbeda dengan wisata virtual yang umum digelar pada pagi hingga sore, wisata virtual urban legend Bandung berlangsung malam hari. Tidak sekadar menampilkan gambar dari Internet, tim operator menempatkan dua anggotanya di destinasi wisata dan menyiarkan langsung. "Seperti apa gambaran Taman Maluku di waktu malam," kata Irwan Thamrin dari Pirtual Project, Senin 21 September 2020.

    Di Taman Maluku terdapat monumen berupa patung utuh seorang pastur Belanda bernama Henricus Christiaan Verbraak. Ada cerita horor mengenai patung itu yang beredar di masyarakat. Konon patung tersebut dapat berjalan di tengah malam dan melintasi jalan di depan taman.

    Patung itu juga katanya kerap menatap balik orang yang melihat. Dipandu anggota komunitas lokal plus efek suara horor, peserta wisata virtual tema ini mayoritas generasi milenial. "Sepanjang jalan mereka sibuk chat, berisik banget soal penampakan," ujar Irwan Thamrin.

    Total sudah sepuluh kali Pirtual Project menggelar wisata virtual sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020. Tim yang beranggotakan lima orang mahasiswa Program Studi Magister Pariwisata Berkelanjutan Universitas Padjadjaran itu sebelumnya membawa peserta ke berbagai tempat. Di antaranya Tana Toraja, Langgeran, Raja Ampat, Belitong, hingga ke Gunung Tambora.

    Menurut Irwan Thamrin, ada cerita menarik saat ekspedisi virtual ke Gunung Tambora. Kebanyakan pesertanya berusia 50-an tahun. "Seorang peserta mengatakan sejak muda sekali ke Gunung Tambora, tapi baru kesampaian sekarang lewat virtual tour," ujarnya. Sayangnya, Irwan melanjutkan, tampilan gambar Gunung Tambora belum selengkap gunung lainnya, seperti Rinjani.

    Seorang peserta wisata virtual Nadya Inda Syartanti mengatakan, dia suka mengikuti beberapa tur virtual untuk penyegaran. Selain itu, menurut dosen Bahasa Jepang di Universitas Brawijaya, Malang, itu, buat obat kangen jalan-jalan ke lokasi langsung yang belum terwujud. "Kalau virtual tingkat kepuasannya 20 sampai 30 persen dibanding ke lokasi langsung. Kaki enggak capek, tapi capek mata," katanya.

    Tema atau lokasi yang cocok buat Nadya adalah rute atau destinasi wisata yang belum dia ketahuinya. Selain itu, wisata kuliner menjadi alasan lain bagi Nadya dalam menentukan objek wisata yang bakal dituju setelah pandemi Covid-19 berlalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggunaan Masker Bagi Sebagian Orang Bisa Menimbulkan Jerawat

    Saat pandemi seperti sekarang ini penggunaan masker adalah hal yang wajib dilakukan.