Taj Mahal Dibuka, Meskipun Covid-19 Belum Reda di India

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat monumen cinta India yang terkenal dengan nama Taj Mahal, di Agra, India, 22 Maret 2018. Monumen pada abad ke-17 ini menjadi daya tarik wisata terbesar di India, dengan sekitar 3 juta orang berkunjung setiap tahun. (AP Photo/R.S. Iyer)

    Pengunjung melihat monumen cinta India yang terkenal dengan nama Taj Mahal, di Agra, India, 22 Maret 2018. Monumen pada abad ke-17 ini menjadi daya tarik wisata terbesar di India, dengan sekitar 3 juta orang berkunjung setiap tahun. (AP Photo/R.S. Iyer)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah India mulai membuka secara bertahap objek wisata. Salah satunya Taj Mahal, yang akan dibuka pada Senin, 6 Juli 2020. Bangunan peninggalan Kesultanan Mugal tersebut ditutup selama sejak Maret, akibat pandemi Covid-19. 

    Dinukil dari ANTARA, pihak pengelola hanya membolehkan 5.000 orang wisatawan mengunjungi kawasan wisata di bagian utara Agra itu dalam sehari. Pengunjung juga dibagi dalam dua kelompok. Jumlah ini jauh dari tahun-tahun sebelumnya, yang mencapai 80.000 turis sehari.

    "Semua monumen dan situs yang dilindungi akan terikat protokol seperti sanitasi, jarak sosial serta protokol kesehatan lainnya," kata pihak Kementerian Pariwisata India. Diberitakan First Post, pengunjung Taj Mahal harus mengenakan masker. Mereka juga dilarang menyentuh permukaan marmer.

    Baca: 3 Destinasi Wisata Sejarah Paling Memikat di India

    Pada hari Minggu, Kementerian Kesehatan melaporkan rekor satu hari lonjakan 24.850 kasus baru dan lebih dari 600 kematian. Namun pemerintah India mencabut lockdownterhadap 1,3 miliar penduduknya. Kecuali pada wilayah yang masih masuk zona merah, pemerintah hanya mengizinkan pergerakan layanan barang dan jasa.

    Namun penerbangan internasional tetap ditangguhkan. Tapi perjalanan domestik telah dibuka, dan pemerintah berharap wisatawan domestik mulai pelesiran kembali.

    Pihak berwenang juga akan membuka kembali monumen lainnya, seperti Red Fort atau Benteng Merah bersejarah New Delhi.

    Dinukil dari The Print, kabar dibukanya Taj Mahal merupakan kabar bagus bagi warga Agra. Pasalnya, sejak Maret, penutupan Taj Mahal menghancurkan penghasilan harian mereka.

    Pasalnya, warga Agra di sekitar situs bersejarah itu, umumnya menjadi pemandu wisata, fotografer, pemilik hotel, pengemudi, dan banyak pekerjaan yang berkaitan dengan pariwisata.

    “Tidak pernah terpikir bahwa monumen cinta ini akan menyebabkan begitu banyak kesulitan dalam hidup kami. Penutupan membuat kami kembali ke titik nol,” kata Rafiq Khan, pramuwisata berusia 45 tahun.

    Ia tingga di sekitar Gerbang Selatan Taj Mahal. Di wilayah itu terdapat banyak hotel melati, restoran, dan toko penukaran uang di mana wisatawan biasanya berjalan-jalan. Saat lockdwonwilayah itu seperti kota mati. 

    Situs bersejarah Taj Mahal, Agra Uttar Pradesh , India (19/3). Taj Mahal dibangun oleh raja Mughal, Shah Jahan untuk istrinya ke 14 Mumtaz Mahal yang meninggal karena melahirkan. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Seperti pemandu lokal lainnya, Khan telah kehilangan pekerjaan karena lockdown. Ia adalah pemandu wisata generasi ketiga, yang mengikuti jejak ayah dan kakeknya. Dia bergabung dengan para pramuwisata Taj Mahal ketika dia berusia 25 tahun.

    Menurutnya, saat Taj Mahal ditutup selama lebih dari 100 hari, Khan selamat karena memiliki tabungan. Kini tabungannya mulai menipis, padahal saat dibuka ia bisa mendapat 15.000 sampai 20.000 Rupee (Rp2,9 juta-Rp3,8 juta) setiap bulan.

    ANTARA | FIRST POST | THE PRINT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.