Borobudur-Prambanan Beroperasi Juni, yang Lainnya Ikut?

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan sedang menikmati keindahan matahari terbit di Candi Borobudur. Dok. Kemenparekraf

    Wisatawan sedang menikmati keindahan matahari terbit di Candi Borobudur. Dok. Kemenparekraf

    TEMPO.CO, Jakarta - Simpang siur kabar pembukaan kembali destinasi pariwisata pascapandemi Covid -19 di Yogyakarta diklarifikasi pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa, 26 Mei 2020.

    Pemda DIY menegaskan belum memastikan kapan destinasi wisata itu akan kembali dibuka. Kesimpangsiuran itu menyusul beredarnya informasi jika sejumlah daerah, di antaranya Yogyakarta dan Bali, bakal menjadi proyek percontohan penyelenggaraan masa new normal yang ditandai dengan beroperasinya pariwisata pada bulan Juni.

    Kementerian BUMN melalui PT Taman Wisata Candi atau PT TWC sebelumnya memang berencana membuka layanan kembali Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko per 8 Juni 2020, dengan penerapan sejumlah protokol kesehatan.

    “Soal kabar DIY menjadi daerah yang ditunjuk pemerintah pusat untuk penyelenggaran new normal, kami mendengar itu. Namun sampai saat ini belum ada pemberitahuan dari pemerintah pusat soal rencana itu,” ujar Sekretaris DIY Kadarmanta Baskara Aji, Selasa, 26 Mei 2020.

    Aji menambahkan, pemerintah DIY juga belum memutuskan waktu pembukaan destinasi wisata di DIY. Jadi, walaupun PT TWC akan memulai aktivitas wisata pada candi-candi tersebut pada 8 Juni 2020 mendatang, DIY belum akan mengikutinya.   

    “Soal pembukaan candi oleh PT TWC itu keputusan kementerian BUMN,” ujarnya.

    Pemda DIY tak menampik masa new normal atau hidup normal berdampingan dengan pandemi, menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena tak mungkin menghadapi Covid-19 dengan menutup diri terus menerus.  

    Namun, untuk pembukaan kembali pariwisata di wilayahnya, DIY tetap berpedoman pada tiga acuan utama: pertama, siapnya sumber daya manusia dan sarana prasarana pendukung. Kedua, turunnya grafik kasus penularan Covid-19, dan terakhir ada rekomendasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY.

    Aji menambahkan terkait dengan tutupnya destinasi wisata dan pendukung wisata seperti hotel dan mall saat wabah Covid-19 merebak, juga bukan instruksi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. Melainkan karena menurunnya kunjungan wisata.

    Aji menuturkan, pada masa new normal terdapat standar operasional prosedur (SOP) protokol kesehatan menjadi hal wajib. Misalnya di Candi Prambanan dibuka harus berhitung juga dengan kapastitas pengunjungnya. Untuk menjaga jarak mencegah penularan, “Ketika wisatawan masuk juga harus cuci tangan, memakai masker,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih saat dihubungi meluruskan kabar terkait bakal segera dibukanya destinasi wisata Kaliurang di Kecamatan Pakem dan Tebing Breksi di Prambanan, Sleman.

    “Untuk pembukaan destinasi-destinasi itu, kami tetap menunggu arahan dari Pemda DIY serta Gugus Tugas Covid-19 DIY,” ujar Sudarningsih.

    Sudarningsih menuturkan dua destinasi, Kaliurang dan Tebing Breksi memang dipersiapkan menyambut new normal. Namun persiapan itu lebih ke tataran sarana prasarana, juga sosialisasi kepada pengelola soal tatanan new normal.

    Chiprianus Tugiyanto atau Antok, marketing wisata Tebing Breksi Sleman mengatakan terkait sarana prasarana di destinasi saat ini, sebenarnya sudah siap menyambut new normal.

    Aktivitas pengelola wisata melakukan pembenahan dan pembersihan sarana di kawasan Tebing Breksi beberapa waktu lalu saat pandemi Corona. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    “Sarana umum kami siap. Bahkan sudah sejak awal pandemi Covid-19 ini kami sudah siap. Seperti wastafel sudah disiapkan di setiap titik kumpul dan lokasi strategis,” katanya

    Hanya saja untuk kapan pembukaan destinasi itu, Antok mengatakan masih menanti kebijakan dari pemerintah. “Kalau pemerintah mengatakan boleh buka, kami akan buka dengan menerapkan sistem-sistem keamanan kesehatan bagi pengunjung se-optimal mungkin,” ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.