Pemburu Cinta Online Meningkat Selama Pandemi di Jepang

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan warga menggunakan masker saat jam sibuk di stasiun Shinagawa, Tokyo, Jepang, 26 Mei 2020.REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Puluhan warga menggunakan masker saat jam sibuk di stasiun Shinagawa, Tokyo, Jepang, 26 Mei 2020.REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Pola berkencan di Jepang berubah selama krisis virus corona. Sebagaimana dilaporkan DW, warga Jepang mencari mitra kencan secara online atau daring selama pandemi, untuk mengatasi krisis. Perusahaan aplikasi menawarkan layanan seperti bar virtual, atau memasak makan malam bersama.

    Ketika pandemi virus corona berlanjut, ekonomi Jepang sedang berjuang agar tak tenggelam karena pekerjaan menguap dan prospeknya suram.

    Krisis tersebut membuat warga Jepang menyambut baik pada pencari cinta dan kemitraan. Namun, menemukan pasangan itu rumit, karena orang-orang yang menggunakan situs web kencan tidak dapat bertemu langsung karena peraturan jarak fisik.

    Perusahaan pembuat biro jodoh konvensional di Jepang, merespons dengan mengembangkan platform yang melakukan pencarian, pertemuan, dan kencan sepenuhnya online. Mereka yakin bahwa antusiasme untuk perkenalan online akan tetap ada, bahkan setelah dunia kembali seperti semula.

    "Kami baru memulai dukungan kencan online pada akhir April, tetapi jumlah pengguna terus meningkat dan angkanya berlipat ganda pekan lalu," kata Go Yamakoshi, manajer layanan pelanggan agensi pernikahan Sunmarie yang berbasis di Tokyo.

    "Saya pikir karena pemerintah meminta orang untuk tidak keluar, keinginan untuk berbicara langsung dengan orang lain telah meningkat," katanya. "Hanya mendengar suara orang lain di telepon saja tidak cukup."

    Ilustrasi wanita lajang di Jepang. Foto: @tokyo

    Mencari Hubungan Saat Krisis

    Yamakoshi mengatakan dia pikir itu adalah sifat manusiawi, yang dihubungkan dengan masa krisis, ketika berita secara konsisten mengabarkan hal buruk dan masa depan tidak pasti.

    "Kecemasan meningkatkan keinginan untuk bersama orang lain dan tetap bersama," katanya, seraya menambahkan bahwa bisnis pernikahan Jepang menyaksikan fenomena serupa setelah gempa bumi dan tsunami 2011, yang menewaskan hampir 20.000 orang dan menghancurkan seluruh komunitas.

    Menurut Nikkei Asian Review, agensi pernikahan melaporkan bahwa permintaan pada April 2020 telah meningkat sebanyak 20 persen year-on-year.

    Untuk memenuhi permintaan itu, Sunmarie mulai menawarkan konsultasi online gratis selama 40 menit dengan klien. Wanita berusia antara 20 dan 40 tahun paling tertarik dengan layanan tersebut.

    Mereka juga didorong oleh statistik yang menunjukkan bahwa kencan online di Jepang, sebanyak 30 persen lebih efektif dalam menyatukan hubungan secara permanen daripada pendekatan yang jauh lebih konvensional, seperti melalui pekerjaan, lewat teman, kebetulan di bar atau restoran.

    Perusahaan lain juga sama proaktif dalam merancang cara untuk menyatukan pria dan wanita di era internet. Bahkan ketika mereka dinasihati bahwa secara fisik mereka tidak boleh dekat dengan orang lain.

    Malam Virtual

    Sebuah survei baru-baru ini oleh Linkval Corp, sebuah perusahaan manajemen acara Jepang, menemukan 90 persen pria dan wanita yang belum menikah merasa kesepian, sejak pemerintah memberlakukan keadaan darurat di seluruh Jepang.

    Perusahaan merespons dengan membuat layanan obrolan video V Bar. Para lajang diundang untuk bergabung dengan "pesta" daring dengan hingga 200 orang lainnya.

    Bahkan pada hari kerja, perusahaan mengatakan dapat menarik 50 peserta Bar V untuk mengobrol, berbagi minuman dan bertemu orang baru.

    Agen kencan Eureka, yang mengoperasikan layanan pencocokan pasangan, mengatakan pesan di situsnya telah meningkat 15 persen dari sebelum "penguncian lunak" Jepang diberlakukan. Eureka juga menambahkan fungsi kencan video, yang ditambahkan dalam situs mereka pada pertengahan April. Hal itu untuk memungkinkan orang tetap berhubungan dengan lebih mudah.

    Sunmarie telah memperkenalkan fitur pengalaman bersama di situs webnya, seperti memasak bersama. Yamakoshi Sunmarie mengatakan melihat wajah seseorang ketika mereka berbicara atau tersenyum membantu orang merasa terhubung, meskipun mereka jauh secara fisik.

    Suasana di kawasan Yokohama China Town, setelah meluasnya virus corona di Yokohama, Jepang, 20 Februari 2020. REUTERS/Daniel Leussink

    Dia mengakui, bagaimanapun, bahwa beberapa kerugian kecil telah menjadi jelas. Seseorang tidak dapat melihat seberapa tinggi kencan mereka, misalnya, tinggi badan bisa menjadi pemecah kesepakatan bagi beberapa orang yang mencari romansa. Dan tidak mungkin untuk menangkap aroma seseorang, tambah Yamakoshi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.