Kereta Wisata Jaladara, Dapat Tambahan Lokomotif Uap

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokomotif kuno seri  D1410 tiba di Stasiun Purwosari Solo, Kamis 6 Februari 2020. Lokomotif itu akan digunakan untuk menarik kereta wisata Sepur Klutuk Jaladara. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Lokomotif kuno seri D1410 tiba di Stasiun Purwosari Solo, Kamis 6 Februari 2020. Lokomotif itu akan digunakan untuk menarik kereta wisata Sepur Klutuk Jaladara. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Jakarta - Kereta api uap Jaladara menjadi salah satu ikon wisata di Kota Solo. Kereta itu, melayanai wisatawan yang ingin berkeliling Solo dan sekitarnya. Agar beban tak tertumpu pada satu kereta, Kota Solo mendapat tambahan lokomotif uap kuno berusia nyaris seabad untuk pengoperasian kereta wisata Jaladara.

    Lokomotif tua tambahan tersebut, berkode lambung D 1410. Dan baru saja selesai direstorasi di Yogyakarta. "Proses restorasi berlangsung sekitar setahun," kata Executive Vice President (EVP) PT KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Purwanto di Solo, Kamis 6 Februari 2020.

    Selama ini, kereta uap Jaladara beroperasi dengan rute Stasiun Purwosari-Staisun Sangkrah dengan jarak sekitar lima kilometer. Perjalanan melintasi rel tepat di jantung Kota Solo.

    Trip tersebut mengandalkan satu lokomotif kuno seri C 1218 buatan Jerman, buatan tahun 1896. Lokomotif uap itu menarik dua gerbong kuno dari kayu yang masing-masing berkapasitas 40 dan 36 penumpang.

    Jika lokomotif kuno itu rusak, kereta kuno yang dikenal dengan sebutan Sepur Kluthuk Jaladara itu tentunya tidak bisa melayani penumpang. "Lokomotif tambahan ini bisa digunakan bergantian sehingga perawatan menjadi lebih maksimal," katanya.

    Lokomotif kuno yang baru didatangkan dari Yogyakarta itu menurutnya juga memiliki kapasitas penggerak yang lebih besar dibanding lokomotif yang lama. "Sehingga trip mungkin bisa lebih jauh," katanya.

    Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo Hari Prihatno mengatakan Sepur Klutuk Jaladara selama ini cukup diminati oleh wisatawan. "Dalam satu tahun bisa melayani 80 kali trip," katanya.

    Lokomotif uap yang diproduksi pada 1921 buatan Jerman dengan kode pembuatan 9653 kini bisa beroperasi kembali. TEMPO/M Syaifullah

    Dengan tambahan lokomotif itu, Hari berharap bisa memasarkan trip kereta wisata Jaladara yang lebih banyak kepada wisatawan. "Selama ini memang kami batasi mengingat usia lokomotif uap yang sudah tua dan tidak ada cadangannya," katanya.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.