Melaiq, Film Tentang Adat Pernikahan Suku Sasak dan Wisata Lombok

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kampung Suku Sasak

    Kampung Suku Sasak "SADE" di Desa Rimbitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat (1/3). Kampung Sade merupakan salah satu kampung yang masih menjaga tradisi Suku Sasak hingga sekarang. Dari sisi bangunan rumah, adat istiadat, dan budaya hingga sekarang, masih terjaga. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Tradisi pernikahan Suku Sasak yang unik dan potensi wisata di Lombok, menarik minat VIU. Perusahaan penyedia film-film drama, anak perusahaan PCCW Media yang berbasis di Hong Kong itu, berencana membuat film bertema pernikahan Suku Sasak berlatar keindahan alam Lombok.

    Film berdurasi 15 menit itu, digarap oleh 40 siswa SMA dan SMK, yang diseleksi oleh VIU. Rencananya, film tersebut bakal ditayangkan di 16 negara. SVP Marketing VIU Myra Suraryo menjelaskan kepada TEMPO di Mataram, bahwa pembuatan film ini guna membangkitkan kebanggaan terhadap Indonesia dan budaya daerah setempat. ''Kesempatan ini diberikan kepada yang berminat belajar film,'' katanya.

    Melaiq adalah tradisi perkawinan Suku Sasak, yang melalui proses calon pengantin perempuan dilarikan oleh calon pengantin laki-laki. Sebelum dinikahkan, mereka menjalani proses melibatkan tetua adat. Proses selama pelarian ini bukan drama, bisa berhasil dan bisa pula digagalkan, "Antara jodoh dan gagal," kata Myra Suraryo.

    Berdasarkan alur cerita, lokasi syuting dilakukan di beberapa tempat yang memiliki daya tarik wisata. Misalnya Pantai Loang Baloq di selatan Ampenan untuk mendapatkan gambar sunset dari sisi barat Selat Lombok. Lalu lokasi Pantai Ampenan di tengah Mataram, di antara perahu-perahu nelayan, sebagai lokasi membawa lari calon pengantin perempuan.

    Proses pembuatannya dilakukan mulai dari diskusi, penulisan skenario dan praproduksi, serta pengenalan alat produksi film seperti kamera dan sound system.  ''VIU hanya melakukan supervisi dan editing,'' ujar Myra Suraryo. Total lama waktu produksi bisa 1 - 2 minggu.

    Dari proses pembuatan film pendek ini, VIU bakal memberikan beasiswa kepada salah seorang yang terlibat pembuatan film tersebut, untuk belajar di Institut Kesenian Jakarta. ''Selama empat tahun ditanggung biayanya,'' ucap Myra Suraryo. Selain itu juga diberikan kesempatan magang sebagai asisten eksekutif produser, jika ingin memperoleh penghasilan tambahan. 

     Sejumlah warga menikmati sunset atau matahari terbenam akhir tahun 2019 di Pantai Ampenan, Mataram, NTB, Selasa, 31 Desember 2019. Taman Pantai Ampenan menjadi salah satu lokasi alternatif warga Mataram untuk melewati malam pergantian tahun. ANTARA

    VIU didirikan di Silicon Valley, Amerika Serikat. Namun kini berkantor pusat di Hongkong, karena merupakan bagian dari PCCW, perusahaan telekomunikasi raksasa di Hong Kong.  

    VIU disaksikan 36 juta pengguna aktif bulanan, yang mulai Rabu 15 Januari 2020 memproduksi film pendek Viu Shorts! Musim Kedua. Selain fokus berproduksi film-film drama, Viu fokus pada pengembangan minat dan bakat dari talenta muda. Mereka merekrut remaja usia SMA dalam membuat karya film pendek, berdasarkan atas kecintaan mereka pada mitos lokal.

    Viu Shorts! akan digelar di 20 kota baru di seluruh Indonesia selama tujuh bulan, dimulai pada Agustus 2019 dan terus berlanjut hingga Maret 2020.

    Sukses Viu Shorts! Musim Pertama

    Dimulai pada 2018 lalu, Viu Shorts! Musim Pertama merupakan inisiatif sukses yang menghasilkan pembuatan 17 film pendek lokal yang didistribusikan secara global melalui platform Viu, dan menjadi viral di media sosial.

    Film pendek hasil dari Viu Shorts! Musim Pertama ini juga ditayangkan secara internasional pada ajang Marché du Film, Cannes Film Festival 2019. Pada pengujung rangkaian inisiatif Viu Shorts! Musim Pertama, Viu memberikan beasiswa kepada peserta berbakat dari Cilegon, Banten untuk melanjutkan pendidikan sinematografi selama empat tahun di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan berkesempatan untuk bekerja paruh waktu bersama tim Viu Original.

    Myra Suraryo mengatakan Musim Pertama, menemukan 17 sutradara muda berbakat, lebih dari 500 talenta muda kreatif di bidang film, dan satu sarjana film dari 17 kota di seluruh Indonesia.

    Kerjasama VIU dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. juga didukung oleh pemda di 20 kota, Yayasan Tumbuh Sinema Rakyat, MAV Production, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Badan Perfilman Indonesia (BPI), Komisi Film Daerah, komunitas film lokal, Yayasan BPK Penabur dan Yayasan Tarakanita.

    Menurut Deputi 2 Akses Permodalan Kemenparekraf, Fadjar Hutomo mengatakan Viu berperan besar dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif untuk sub-sektor film melalui inisiatif Viu Shorts!, "Tahun ini kami memperluas dukungan terhadap Viu Shorts! Musim Kedua," katanya.

    Kemenparekraf mendorong filmpreneur di kalangan milenial untuk melanjutkan tema “Mitos Lokal Indonesia” di 20 kota dan kabupaten. Dalam kerja sama dengan VIU tersebut, program Viu Shorts! Musim Kedua digarap di Klungkung, Atambua, Mataram, Majalengka, Cilacap, Kendal, Magelang, Kulon Progo, Solo, Salatiga, Batu, Natuna, Dairi, Sangata, Ambon, Palu dan Rote.

    Syuting film Melaiq yang melibatkan 40 siswa SMA di Lombok. Foto: VIU

    Program ini melibatkan beberapa siswa sekolah, yakni Tarakanita 1 Jakarta, SMAK Penabur Kota Tangerang, dan SMPK Penabur Summarecon Bekasi, yang telah mengadopsi Viu Shorts! sebagai kegiatan ekstrakurikuler tahun akademik 2019-2020. 

    Program ini juga telah meraih prestasi. Pada ajang Asian Academy Creative Awards 2019, salah satu film pendek hasil dari Viu Shorts! Musim Pertama, yaitu Viu Shorts! Maumere – Miu Mai, terpilih menjadi Best of Short Form Content.

    SUPRIYANTHO KHAFID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.