Gereja Blenduk, Untuk Religi dan Wisata Sejarah Kota Semarang

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gereja Kristen Protestan GBIP Immanuel Kota Lama dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk, terlihat mencolok dibanding bangunan lainnya di Semarang. Gereja itu merupakan peninggalan Belanda yang masih asli. TEMPO/Fitria Rahmawati

    Gereja Kristen Protestan GBIP Immanuel Kota Lama dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk, terlihat mencolok dibanding bangunan lainnya di Semarang. Gereja itu merupakan peninggalan Belanda yang masih asli. TEMPO/Fitria Rahmawati

    Jika diamati, desain interior gereja mulai dari kubah gereja, kaca patri, hingga mimbar tempat pendeta, semuanya berbentuk segi delapan. Renovasi tanpa catatan juga sudah dilakukan, meski hanya pada pengecatan, serta penguatan beberapa dinding yang retak dengan menambah slot batu pada dasar bangunan.

     

    "Memang sekarang ini ada atap yang bocor, namun belum diperbaiki. Karena melihat kebocorannya juga sulit, butuh tenaga yang khusus untuk naik ke atap blenduk. Kami sudah komunikasikan dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya, mereka yang mendampingi bangunan gereja. Puji Tuhan setiap Natal cuaca terang," ujar Sutiyo.

     

    Pengurus GBIP Immanuel, Pandaoni Damanik mengatakan, perayaan Natal di Gereja Blenduk akan mengundang warga lintasagama. Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap tahun. Gereja dengan 200 kepala keluarga sebagai jamaat tetap itu juga melakukan kegiatan aksi Natal dengan menyantuni warga sekitar.

     

    Sejarawan Universitas Diponegoro Semarang, Prof Dewi Yuliati mengatakan, sumber utama kepastian Gereja Blenduk dibangun terdapat pada inskripsi yang ditulis di dinding pintu utama bertuliskan 1753. Berbagai literasi menyebut gereja itu awalnya dibangun dengan konsep rumah panggung khas Jawa, namun belum ada bukti yang menyertainya.

     

    GPIB Immanuel dicatat dalam sejarah mengalami perubahan arsitektur pada 1894-1895 oleh Arsitek H.P.A De Wilde dan W Westmaas. Letaknya di Jalan Letjen Suprapto dengan warna atap yang kontras dengan bangunannya yang seluruhnya dicat putih.

     

    "Gereja ini dibangun pada masa VOC berkuasa di Semarang dan Pantura Jawa. Arsitekturnya sangat unik, perpaduan antara imperial style, dan baraouq style, gaya arsitektur abad pertengahan. Terletak di pusat Kota Lama (Oude Stad), dan banyak bagian yang masih autentik," ujar Dewi.

     

    Berburu Foto Bangunan Tua

     

    Rombongan pelajar dari berbagai sekolah pun ramai berdatangan siang itu, Rabu (18/12/2019). Wisatawan luar daerah juga terlihat asyik berfoto di sekitar bangunan tua Kota Lama. Selain mengunjungi bangunan bersejarah di komplek Kota Lama, mereka juga berfoto dengan latar Gereja Blenduk.

     

    Gereja Blenduk dilihat dari Taman Srigunting yang kerap dijadikan latar belakang untuk berfoto. TEMPO/Fitria Rahmawati

     

    Hiasan pohon Natal di pintu utama gereja sudah terpasang, ditambah dengan cantiknya sepeda hias yang dipajang di samping gereja.

     

    Aninda Putri, mahasiswi Universitas Semarang saat itu juga memburu foto dengan tema Natal 2019. Ia mengaku, selain memiliki desain yang menarik, Gereja Blenduk juga memiliki latar yang klasik sebagai penanda wisata sejarah untuk koleksi foto yang menarik.

     

    FITRIA RAHMAWATI

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.