Minggu, 22 September 2019

Resto Bersejarah, Kenangan Era Kolonial di Indonesia

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cafe Batavia salah satu ikon kuliner di Kota Tua Jakarta. Lokasinya bersebelahan dengan Museum Fatahilah. Foto: @stayinnjakarta

    Cafe Batavia salah satu ikon kuliner di Kota Tua Jakarta. Lokasinya bersebelahan dengan Museum Fatahilah. Foto: @stayinnjakarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kota besar seperti Jakarta dan Surabaya menjadi pusat perdagangan di era kolonial. Malahan, di kota-kota itu terdapat resto bersejarah untuk bersosialisasi orang-orang Belanda ataupun Eropa. Kuliner di masa itu sama halnya era kini, bukan hanya soal rasa namun juga simbol status. Namun, kini resto bersejarah itu tak hanya dinikmati ekspatriat, namun juga akrab dengan masyarakat urban di kota-kota itu.

    TEMPO merangkum resto-resto yang masih eksis hingga saat ini. Baik dari sisi resep masakan maupun gedung yang mereka gunakan sebagai usaha.

    Cafe Batavia

    Bila berwisata ke Museum Fatahillah, saat menghadap museum itu, sebelah kiri Anda adalah Café Batavia. Menempati gedung tua dua lantai, café ini merupakan simbol persilangan budaya Belanda dan Batavia. Saat memasuki ruang, interiornya masih era kolonial dengan pernak pernik musik jazz. Benar-benar membawa Anda ke Batavia atau bahkan New Orleans.

    Restoran ini sudah buka sejak tahun 1993 dan berhasil membuat pengunjung merasakan suasana tempo dulu lewat desain interiornya. Menu andalannya beragam, mulai dari menu Barat, peranakan, dan fussion. Pelanggan umumnya ekspatriat, wisatawan ataupun pekerja-pekerja asing yang ada di Jakarta.

    Cafe Batavia, Jalan Pintu Besar Utara No.14

    Ragusa Es Italia

    Pecinta es krim dari generasi X di Jakarta hafal benar es krim legendaris Ragusa. Generasi milenial mungkin perlu juga mencicipinya. Lokasinya di Gambir dekat Masjid Istiqlal, dan sudah berdiri sejak 1932. Kafe es krim ini didirikan oleh Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Lalu diteruskan oleh kawannya dan masih memiliki hubungan kerabat, Buntoro Kurniawan (Yo Boen Kong) dan istrinya Sias Mawarni (Lie Pit Yin). Selain menjaja es krim, Ragusa juga menyediakan makanan oriental dan western. Yang unik, pengolahan es krim masih menggunakan mesin-mesin zaman dulu, yang didatangkan dari Italia.

    Ragusa Es Italia, Jalan Veteran I, No. 10, Gambir

    Tugu Kuntskring Paleis memiliki interior era kolonial. Perna menjadi kantor pemerintah lalu menjadi resto Prancis. Foto: @c12n24

    Tugu Kuntskring Paleis

    Bangunannya merupakan gedung tua yang sudah berdiri sejak 1914. Mulanya, gedung ini merupakan gedung galeri seni, lalu difungsikan sebagai kantor imigrasi. Terakhir menjadi resto dengan hidangan Prancis. Lalu dibuka kembali pada 2013 menjadi restoran dan galeri seni. Selain menghidangan kuliner peranakan dan makanan rumahan, benda-benda sejarah menjadi koleksi resto ini.

    Salah satu hidangan andalannya berupa Tugu Rijsttafel Betawi yang terdiri dari 20 jenis menu, lengkap dari hidangan pembuka, hidangan utama, sampai dessert. Semua itu disajikan di mangkuk-mangkuk kecil beralaskan cawan. Disajikan dengan cita rasa lezat dengan tampilan yang memikat.

    Tugu Kuntskring Paleis, Jalan Teuku Umar No.1, Menteng

    Suasana sisi depan restoran es krim Zangrandi di jalan Yos Sudarso, Surabaya (03/4). TEMPO/Fully Syafi

    Zangrandi

    Gerai es krim ini berdiri sejak tahun 1930. Nama pemilik sekaligus pendirinya bernama Roberto Zangrandi yang berasal dari Italia. Nama Zangrandi itulah yang digunakan sebagai nama kafe khusus es krim itu. Resep-resep es krim Zangrandi sangat disukai oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Surabaya. Mereka bahkan kerap menghabiskan sore di kedai itu. Lalu pada tahun 1960 usaha ini dibeli oleh Aditanumulia, yang menambahkan menu es krim durian. Interior dan menu dipertahankan hingga kini, yang membuat Zangrandi sebagai ikon wisata kuliner di Surabaya.

    Es Krim Zangrandi, Jalan Yos Sudarso no. 15, Surabaya

    Toko Oen

    Berdiri sejak 1930 oleh Max Liem, namun usahanya berpindah tangan karena tidak ada yang meneruskan. Toko Oen saat ini tinggal dua, di Malang dan Semarang. Arsitektur khas Belanda ditambah nilai sejarahnya, membuat Toko Oen menjadi bangunan cagar budaya. Toko Oen dulunya menjadi salah satu lokasi berkumpul orang Belanda pada akhir pekan.

    Lokasinya di sekitar alun-alun, memang menjadi ruang publik sejak dulu. Di tempat ini, pengunjung bisa merasakan nikmatnya kuliner khas Eropa, China, ataupun Indonesia, seperti steak, salad, dan nasi goreng. Meski saat ini menjajakan berbagai hidangan, namun es krim tetap menjadi ikon. Cita rasanya tetap jadul dan mempertahankan resep sejak awal mula berdiri.

    Toko Oen, Jalan Jenderal Basuki Rahmat No.5, Kauman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe