Menyusuri Katong, Saksi Bisu Sejarah Peranakan Kuno di Singapura

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peninggalan sejarah peranakan di kawasan Katong, Singapura. Tempo/Francisca Christy Rosana.

    Peninggalan sejarah peranakan di kawasan Katong, Singapura. Tempo/Francisca Christy Rosana.

    TEMPO.CO, Singapura - Sahut-sahutan bunyi burung gagak membungkus langit Katong pada hari mengancik sore. Tak seperti tetangganya, Marina Bay, yang gegap-gempita menjelang matahari lesap, kompleks peranakan tertua di Singapura ini justru kian nyenyat saat hari gelap.

    “Katong bukan daerah yang terlalu populer bagi turis asing. Namun kawasan ini penting bagi siapa pun yang ingin mengenal Singapura,” kata Anthony, warga asli negeri singa yang bekerja sebagai pemandu wisata pada 19 Juli lalu.

    Katong meninggalkan warisan budaya masyarakat Cina di Singapura, mulai dari seni arsitektur hingga kuliner. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO mengikuti turnya yang bertema Evening Food and Cultural Tour of Joo Chiat—Joo Chiat ialah nama salah satu jalan di Katong--atas rekomendasi aplikasi Agoda. Tur ini bisa dibilang anti-mainstream bagi pelancong yang ingin mengetahui kultur masyarakat Singapura secara lebih detail.

    Konon, Katong adalah saksi bisu atas sejarah asal-muasal etnis peranakan tumbuh di Singapura. Memulai turnya pada sore pukul 16.00 waktu Singapura, Anthony lebih dulu menjelaskan tetamunya tentang konsep peranakan.

    Katanya, peranakan di Singapura dipahami sebagai percampuran budaya antara etnis asli Cina dan masyarakat lokal yang umumnya Melayu. Etnis Cina mulai bermigrasi ke Singapura, termasuk ke Indonesia dan Malaysia, pada abad ke-15 hingga 16 melalui pesisir untuk berdagang.

    Katong menjadi salah satu lokasi persinggahan saudagar-saudagar Cina lantaran kawasannya dekat dengan laut. Karena itulah, di Katong, budaya peranakan tumbuh dan berarkulturasi. Rupa percampuran budaya yang paling lekat saat ini tampak pada warisan arsitektur rumah, pakaian, produk kesenian, dan kulinernya. 

    Satu per satu warisan budaya peranakan dijajal dalam tur sore itu. Mula-mula, tur berdurasi sekitar 4 jam dengan berjalan kaki tersebut, diawali dengan kembara lidah. Anthony meminta tetamunya mengenal produk budaya melalui hasil dapur. Ia lantas mengajak Tempo mencicipi katong laksa, kuliner peranakan yang berumur ratusan tahun.

    Sejatinya, penjaja Katong Laksa menjamur. Namun, yang paling legendaris ialah Katong Laksa 328. Warung yang menyudut di Coast Road nomor 51 kawasan Katong ini konon mempertahankan bumbu dapur turun-temurun. Populernya warung ini juga tampak dengan tetamu yang pernah menyambangi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.