Wisata Sejarah, Misteri Prasasti Batu Tulis dari Purbalingga

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Situs Cipaku. Foto: Gunanto ES

    Situs Cipaku. Foto: Gunanto ES

    TEMPO.CO, Purbalingga - Jika bicara Batu Tulis, sebagian besar orang akan teringat dengan Prasasti Batu Tulis di Bogor, Jawa Barat. Di sana memang ada kompleks Prasasti Batu Tulis yang diabadikan menjadi nama kelurahan di Kota Hujan itu.

    Kisah Prasasti Batu Tulis pernah bikin heboh saat Menteri Agama Said Agil Al Munawar membawa rombongan pekerja untuk membongkar kompleks itu. Berdasarkan bisikan paranormal, Said Agil Al Munawar meyakini di bawah tanah kompleks prasasti peninggalan Kerajaan Sunda Pajajaran itu terdapat harta karun. Kalau ditemukan, harta karun itu bisa melunasi utang negara Republik Indonesia.

    Selain Batu Tulis yang dibangun sekitar abad ke-14 itu, di Bogor juga terdapat batu bertulis lainnya yang 7 abad lebih tua. Prasasti yang ditemukan di tepi aliran Sungai Cisadane, Desa Ciareteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, itu disebut dengan Prasasti Ciareteun. Prasasti tersebut dibuat pada era Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara, kerajaan tertua di Jawa Barat.

    Selain di Bogor, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah juga punya peninggalan sejarah berupa prasati batu bertulis. Prasasti itu ada di Dukuh Pangebonan, Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Watu Tulis, begitu penduduk setempat menyebut, kemudian dikenal dengan Prasasti Cipaku yang merupakan salah satu artefak sejarah penting di Purbalingga.

    Sebaris kalimat dalam Aksara Pallawa tergores pada batu sebesar gajah di bawah pohon beringin dengan tajuk rimbun itu. Arkeolog Universitas Gajah Mada, Kusen menafsirkan goresan aksara itu. Bunyinya 'Indra Wardhana Wikrama Deva'. Sayang. rangkaian aksara itu sudah terkikis dan sulit dibaca.

    Teks Batu Tulis Cipaku di Purbalingga. Wikipedia

    Prasasti itu mulai diteliti sejak 1983 dan sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Sayang, penelitian lanjutan mengenai Prasasti Cipaku masih minim sehingga belum jelas siapakah Indra Wardhana Wikrama Deva, berasal dari kerajaan apa, dan kenapa ada di Purbalingga.

    Menurut perkiraan para arkeolog, prasasti itu diduga berasal dari abad ke 5-7 Masehi atau satu era dengan Prasasti Ciareteun. Nama yang tergores pada Prasasti Cipaku ditengarai adalah nama raja atau bangsawan pada masa itu.

    Ada dugaan berasal dari bangsawan Kerajaan Tarumanegara yang berpusat di Jawa Barat karena ada kemiripan dengan Prasasti Ciaruteun. Baik Prasasti Cipaku maupun Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk seloka dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Lagi pula, kedua prasasti juga ditaksir dibuat pada masa yang sama.

    Perbedaaanya, jika Prasasti Cipaku hanya terpahat satu baris kalimat, Prasasti Ciaretun tergores empat baris dengan seloka metrum anustubh. Dalam prasasti ini juga terdapat sepasang pahatan telapak kaki, gambar umbi, sulur-suluran (pilin), dan laba-laba.

    Isi tulisan Prasasti Ciareteun adalah:
    Vikkrantasyavanipat eh
    Srimatah purnnavarmmanah
    Tarumanagarendrasya
    Visnoriva padadvayam

    Setelah diterjemahkan, tulisan dalam prasasti Ciaruteun memiliki arti sebagai berikut:
    Inilah tanda sepasang telapak kaki seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia Sang Purnnawarmman, raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia.

    Prasasti Ciareteun. Wikipedia

    Raja Purnawarman adalah raja yang memimpin masa keemasan Kerajaan Tarumanegara. Jadi, apakah Cipaku dan Wilayah Purbalingga waktu itu masuk wilayah kekuasaan Sang Purnawarman? Bisa jadi. Namun, ada pula dugaan bahwa Cipaku dulunya merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Galuh Purba dengan Indra Wardana Wi krama Deva sebagai salah satu rajanya. Ini bisa benar juga.

    Hingga kini Prasasti Cipaku masih menyimpan misteri.

    GUNANTO ES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.